BEGITULAH, ISLAM SEBAGAI PEMANTIK AWAL KEMERDEKAAN DAN PEMBEBASAN - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, August 23, 2019

BEGITULAH, ISLAM SEBAGAI PEMANTIK AWAL KEMERDEKAAN DAN PEMBEBASAN




M. Nur Rakhmad, SH (LBH Pelita Umat Korwil Jatim)
17 Agustus tahun 2019 ini bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan negeri ini untuk yang ke-74 kalinya. Di tengah suasana perayaan kemerdekaan itu. Posisi umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan jelas sekali. Sangat sentral. Bisa dibilang pejuang kemerdekaan itu ialah umat Islam.
Dahulu pahlawan negeri kita ini diantaranya ada Pangeran Diponegoro, ada Imam Bonjol, ada Teuku Umar, ada Cut Nyak Dien, bahkan pergerakan nasional politik melawan Belanda itu sebetulnya dilakukan oleh tokoh Islam, namanya HOS Tjokroaminoto. Jadi salah besar besar kalau orang menyebut kesadaran pergerakan nasional itu dilakukan oleh Budi Oetomo. Bahkan bung Tomo yang di tuduh radikal oleh Belanda yang dapat membangkitkan semangat arek-arek Suroboyo melalui gema Takbir yang dilontarkannya sehingga dapat memukul balik penjajah belanda tersebut.
Tidak diragukan lagi, apa yang disebut sebagai perjuangan kemerdekaan di Indonesia adalah sebuah perlawanan umat ini yang spontan dan natural. Sebuah perlawanan terhadap kedholiman dan kesewenang-wenangan setelah berbagai upaya untuk menjinakkan dan meredamnya. Melalui berbagai upaya konsolidasi  para pejuang kemerdekaan dari upaya penjajah yang telah memecah-belah dan mencabik-cabik wilayah nusantara menjadi bangsa yang lemah, dengan menggunakan antek penjajah Barat, dengan menerapkan hukum yang terkontaminasi ideologi  Kapitalisme Barat terhadapnya, serta merenggut seluruh potensinya, sementara para pemudanya hidup dalam nestapa, kehinaan, ketakutan, pengintaian, pencabutan hak milik, serta kesempitan hidup lainnya. Lalu para pejuang yang mayoritas muslim ini memobilisasi perlawanan melawan penindasan.
Di era kemerdekaan fisik ini kita menjadi sebuah bangsa yang sedang menghadapi problem hegemoni kapitalisme sekuler. Sementara para penguasanya, mereka tertidur di atas bantal-bantal empuk sebuah keputusan kapitalistik berlindung di balik lips investasi atau kerjasdpama tetapi sebenarnya merupakan racun yang sangat mematikan untuk menguasai negara lain yang telah rapuh dari sananya dan susunan produk dan perangkat hukum yang telah tercabik-cabik  di setiap sendi kehidupannya yang sejatinya memberikan rasa keadilan dan keamanan bagi tiap warga dan seluruh umat manusia yang hidup di negeri ini. Dan Ini semua bisa mendorong dari masyarakat arus bawah untuk meletup dan menyuarakan perubahan kapan pun. Apa yang terjadi di sebuah Muslim telah menjalar dan menyebar  pada seluruh pemuda umat, karena umat ini satu, perasaannya satu, dan umat ini pun merupakan satu kesatuan, karena problem dan penyelesaian masalahnya hanya satu.
Problem penjajahan gaya baru sama berbahayanya dengan penjajahan gaya lama. Bahkan boleh jadi lebih berbahaya. Sebabnya, dengan penjajahan gaya baru, pihak terjajah sering tak merasa sedang dijajah. Contohnya adalah bangsa ini. Bangsa ini setiap tahun tetap antusias merayakan hari kemerdekaannya. Namun demikian, pada saat yang sama bangsa ini seolah tak pernah menyadari bahwa kekayaan mereka terus dikuasai dan dieksploitasi—bahkan dengan sangat liar—oleh bangsa lain lewat perusahaan-perusahaan mereka. Tambang emas, minyak, gas dan banyak sumberdaya alam lainnya di negeri ini telah lama dikuasai dan diekploitasi oleh PT Freeport, Exxon Mobile, Newmont, dan banyak perusahaan asing lainnya. Ironisnya, semua itu dilegalkan oleh undang-undang. Mengapa bisa terjadi? Karena banyak keputusan politik di negeri ini—terutama dalam bentuk undang-undang—terus berada dalam kontrol pihak asing. Di antaranya melalui IMF dan Bank Dunia, dua lembaga internasional yang menjadi alat penjajahan global. Apalagi dominasi RRC sebagai calon negara Adidaya baru yang berbalut investasi infrastruktur dalam membangun proyek obor mulai terasa yang secara pelan tapi pasti terindikasi kuat untuk menguasai sebuah negara tanpa peperangan.
Alhasil, bangsa dan negeri ini sebetulnya belum benar-benar merdeka secara hakiki. Belum benar-benar terbebas dari penjajahan. Secara fisik kita memang merdeka. Namun demikian secara pemikiran, ekonomi, politik, budaya, dll sejatinya kita masih terjajah.
Islam menggambarkan tentang kemerdekaan salah satunya melaui perkataan Al Mughiroh Bin Syu'bah kepada Panglima Rustam Panglima Persia: " Bahwa tujuan Islam disebarkan melalui dakwah & jihad adalah untuk membebaskan manusia dari penghambaan dari selain Allah hanya menghamba kepada Allah, mengeluarkan mereka dari kesempitan kehidupan jahiliyah menuju keluasan Islam dan mengeluarkan dari kegelapan jahiliyah menuju terangnya Islam".
Mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT, itulah misi utama Islam. Itu pula arti kemerdekaan hakiki. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya. Dan akan bisa terlaksana sempurna jika diterapkan di negeri ini melalui jalan damai, tanpa paksaan serta tanpa kekerasan yang dijadikan Konsensus dalam Bernegara. Allahua'lam.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here