Meneladani Ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam Konteks Kekinian - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, August 23, 2019

Meneladani Ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam Konteks Kekinian





Oleh: Mochamad Efendi

Takbir, tahlil dan tahmid dikumandangkan tanda waktu masuk idzul adha. Teringat kisah nabi Ibrahim dan Ismail yang layak dijadikan contoh. Sungguh, ketaatan mereka pada perintah Allah patut diteladani. Nabi Ibrahim rela mengorbankan anak laki-lakinya, nabi Ismail yang sangat dicintainya dan yang sudah lama ditunggu kedatangannya. Tanpa ragu, dia memenuhi perintahNya. Begitu juga nabi Ismail, dia rela disembelih hanya semata karena memenuhi perintah Allah. Ketaatan mereka berdua sungguh tidak diragukan lagi meskipun perintah itu bertentangan dengan keinginan hatinya.

Kisah nabi Ibrahim dan Ismail perlu diteladani umat saat ini yang sering mempertentangkan perintah Allah dengan kepentingannya dan dengan sesuatu yang lain yang berasal dari pemikiran manusia yang lemah. Alasanpun dicari-cari hanya untuk menolak perintahNya. Sumber hukum yang berasal dari Allah ditinggalkan dan diganti dengan aturan buatan manusia. Mereka lebih memilih aturan buatan manusia meskipun itu bertentangan dengan syariatNya.

Banyak pemikiran yang salah tertanam dalam pemahaman kita. Doktrin yang sengaja ditanamkan sejak dini seolah menjadi kebenaran yang dipegang teguh meskipun itu salah. Bahkan saat pemahaman itu bertentangan dengan ajaran Islam sulit untuk meninggalkan pemahaman batil yang tertanam sejak usia dini. Inilah bukti ketaatan kita pada perintah Allah diuji saat kita menyadari bahwa yang kita anggap benar adalah salah dalam pandangan Islam. Orang yang taat pada perintah Allah tentu akan segera meninggalkan dan mencampakkan sesuatu yang batil dalam pandangan Islam meskipun selama ini kita menganggapnya benar. Menjadikan pemahaman yang salah harga mati yang tidak bisa dirubah meskipun sudah mengetahui kebenarannya adalah bentuk ketidak taatan pada perintah Allah dan kebodohan manusia. Harga mati akan menutup pintu hidayah karena tidak mau membuka hati dan berdiskusi untuk mencari kebenaran.

Sebagai contoh adalah demokrasi ajaran yang bukan dari Islam bahkan batil menurut Islam. Namun masih banyak saudara kita enggan meninggalkan demokrasi dengan berbagai alasan yang tidak syar'i. Bahkan, meskipun ditunjukkan fakta bahwa demokrasi tidak akan mengantarkan pada diterapkan syariat Islam secara kaffah, mereka masih menganggap sebagai uslub yang harus ditempuh. Harusnya kita jadikan Rasulullah sebagai contoh dalam menegakkan syariat Allah bukan demokrasi.

Bukti nyata adalah Mursi yang menang tanpa kecurangan tapi dianulir oleh militer. Demokrasi bukan cara yang benar untuk menegakkan syariat Islam. Walaupun demokrasi memberi kebebasan pada semua paham bahkan ajaran yang menyimpang, namun demokrasi tidak memberi kesempatan untuk ajaran Islam diterapkan secara kaffah. Padahal dalam Islam kita tidak boleh mengambil sebagian ajaran tapi harus masuk Islam secara kaffah. Jika kita taat pada perintah Allah, demokrasi tidak akan diambil dan hanya cara yang dicontohkan Rasulullah saja yang diambil sebagai bukti ketaatan kita pada Allah yang telah mengutus nabi Muhammad S.A.W. dengan petunjuk dan agama Islam yang benar dan lurus.

Walaupun aturan buatan manusia tidak menenuhi unsur keadilan masih terus dibela lebih dari pada perintah Allah. Dalam demokrasi keadilan hanya milik segelitir orang yang punya kuasa. Penguasa tidak tersentuh hukum. Meskipun salah tetap dimenangkan. Sementara yang bersebrangan dengan penguasa dikalahkan meskipun benar. Itulah keadilan dalam sistem demokrasi. Rakyat hanya dijadikan simbol untuk melegitimasi kekuasaan yang pada hakekatnya milik segelintir orang.

Dalam demokrasi, simbol pemersatu umat dinistakan dan dikriminalkan. Sementara LGBT dibiarkan liar tanpa aturan. Sex bebas dibiarkan sebagai bentuk kebebasan berdemokrasi. Demokrasi membiarkan ajaran sesat tumbuh subur sebagai bentuk kebebasan, tapi ajaran Islam dikriminalkan. Ajaran yang berasal dari Allah yang menciptakan manusia dan alam semesta harusnya ditaati tanpa harus menpertanyakan lagi atau mempertentangkan dengan ajaran yang berasal dari konsensus buatan manusia. Sungguh, kita harus belajar dari ketaatan nabi Ibrahim dan Ismail dalam memenuhi perintah Allah.

Demokrasi yang jelas batil harus dicampakkan sementara khilafah yang berasal dari Allah dan pasti akan menjamin tegaknya syariat Allah harus diperjuangkan. Itu adalah bentuk ketaatan kita pada perintah Allah.



No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here