BE AWARE OF LIES ZAMAN NOW - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, September 3, 2019

BE AWARE OF LIES ZAMAN NOW



® Hiro Sakan

Sobat muda yang dirahmati Allah, sudah pada ngeh kan, istilah follow, unfollow, scrolling, posting, status, tweet, re-tweet, like, re-post, share, comment, dan kawan-kawannya? Baiklah.

Pertama-tama, kami ingin ucapkan marhaban, selamat datang. Inilah sejumlah terma alias istilah yang menandakan kita telah sampai di jagat Zaman Now, terma-terma yang bercokol hampir di setiap Millenials yang sudah “bersentuhan” dengan sebuah barang ajaib, yang bisa dibilang paling deket dan paling mereka perhatiin: gadget. Nah, sobat muda tentu sudah pada paham arah pembahasan kali ini.

Yups, tulisan ini menyoroti bagaimana cerminan kejujuran dan kebohongan itu bila dipotret di era gadget Zaman Now sekaligus pedoman Islam tentangnya. Yuk, ah.

No Differ

Sobat muda, di dalam Mausu’ah al-Qawaid al-Fiqhiyyah, 8/272-273, terdapat kaidah fiqh yang berbunyi:

الْكِتاَبُ كَالْخِطَابِ

[al-kitâbu kal khitōbi]

“Tulisan itu (hukumnya) sebagaimana perkataan”

Melalui kaidah ini, kita menjadi paham, bahwa apa-apa yang kita tulis dan sampaikan melalui media-media sosial, pada hakikatnya no differ alias tidak berbeda akibat hukumnya dengan perkataan langsung. Yups, jika benar dan baik akan berpahala, dan jika salah dan buruk akan berdosa.

Berarti, bohong melalui media sosial juga dinilai sebagai perkataan dusta? Yak, tepat sekali.

Bahkan, konsekuensi dusta via medsos ini bisa lebih ngeri. Mengapa? Sobat muda tentu tau kan, media-media sosial yang kita miliki itu terhubung dengan khalayak. Pesan-pesan yang kita posting akan tersampaikan ke lebih banyak orang. Bisa ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu hingga jutaan manusia yang melihat atau mendengar pesan kita.

Bandingkan dengan interaksi langsung yang kita lakukan sehari-hari, mungkin hanya segelintir orang yang terkena dampaknya. Jadi, media sosial kita memang berpotensi sebagai multiplier alias pelipat ganda dosa bohong. Ngeri, kan?

Oleh karena itu, meski postingan itu nadanya bercanda atau maksudnya melucu, sebaiknya jauhilah yang nyrempet-nyrempet dengan kebohongan, ya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.”

(HR. Abu Daud no. 4990 & Tirmidzi no. 3315. Al-Hafidzh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنِّي لأَمْزَحُ , وَلا أَقُولُ إِلا حَقًّا

“Aku juga bercanda, namun tidaklah aku berkata melainkan yang benar.”

(HR. Thobroni dalam Al-Kabir 12: 391. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2494).

Sebagai seorang muslim, kita memang musti berhati-hati meskipun ketika bercanda di media sosial, ya. Kita perlu menjadi agen-agen yang berkontribusi memberikan pesan-pesan berkualitas yang sesuai dengan tuntunan Islam.

Be the Gatekeeper

Sobat muda, dalam dunia media, seorang Gatekeeper adalah mereka yang bertugas melakukan seleksi atas informasi-informasi yang akan disebarkan. Biasanya kalau di institusi media, tugas ini diperankan oleh redaksi dan editor.

Nah, berhubung masing-masing kita saat ini dapat membuat atau membagikan pesan yang dikonsumsi khalayak, maka tidak bisa tidak melainkan kita lah yang kudu berperan sebagai Gatekeeper.

Motivasi seorang muslim sebagai Gatekeeper semestinya lebih tinggi dibandingkan siapapun. Sebab, dia sangat paham bahwa setiap yang dikatakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ‘Azza wa jalla. Bukan hanya berpengaruh pada dunianya, melainkan juga akhiratnya.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“…Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [QS. Qaf ayat 16-18]

Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” [QS. Al-Israa ayat 36]

Media Literacy

Selain menjadi Gatekeeper, untuk menyeleksi informasi yang kita terima, kita juga perlu menjadi orang yang literate (melek) akan media.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [QS. Al-Hujurat ayat 6]

Melek media ini bisa kita latih dengan berupaya mengonfirmasi suatu informasi dengan beberapa sumber lain, melihat tingkat kesamaan dan perbedaan-perbedaanya, sehingga didapatkan informasi yang akurat. Sobat muda bisa cobain tips ini.

Lawan Hoax Terhadap Ajaran Islam

Nah, setelah “senjata” dan “perisai” di atas berhasil sobat muda equip alias miliki, kita bisa terjun untuk bersama-sama melawan Hoax alias berita-berita bohong yang dimunculkan terhadap ajaran-ajaran Islam.

Loh, emang ada? Tentu ada. Banyak malah.

Sobat muda tentu sudah tidak asing dengan fenomena viral dan berulang seputar penistaan terhadap hijab muslimah. Bahwa hijab dan niqab adalah budaya Arab. Ada aja kalangan yang jahat dan berupaya menafikan syariat hijab yang agung ini.

Ada pula Hoax yang dimunculkan untuk menghadang upaya penerapan syariah Islam secara kaffah, dengan menyebut siapa saja yang menyuarakannya sebagai orang-orang radikal, garis keras, intoleran, dan berbagai tudingan keji lainnya.

Subhanallah, sungguh kita berada dalam situasi di mana ajaran Islam yang agung ini dianggap merusak, dan para pengembannya dianggap penjahat.

Dalam kondisi sedemikian, tiada yang lebih bisa menenangkan kita melainkan ayat-ayat Allah yang mulia, dan sabda Rasul-Nya.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ. يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ. فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

"Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta." [QS. Al-Baqarah ayat 8-10]

Allah ‘Azza wa jalla juga berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ، أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” [QS. al-Baqarah ayat 11-12].

Nah, sobat muda yang dirahmati Allah. Semoga kita bisa terus menjadi orang-orang yang jujur, menjauhi kebohongan, terlebih melawan kebohongan-kebohongan khususnya yang dialamatkan terhadap ajaran Islam.

Keep struggle! Jadilah orang-orang yang mengatakan perkataan terbaik!

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” [QS. Fussilat ayat 33]

Saudaramu: Hiro Sakan

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here