BENARKAH RUU KUHP LEBIH BAIK DARI KUHP WARISAN BELANDA? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, September 26, 2019

BENARKAH RUU KUHP LEBIH BAIK DARI KUHP WARISAN BELANDA?


Abu Farhana
Analis Senior LANSKAP

RUU KUHP menuai kontroversial karena banyak pasal yang dinilai sangat aneh dan ambigu (baca: pasal karet). Sebagai contoh misalnya mempertegas larangan zina tapi dipasal lain “melegalkan” zina dengan catatan ada perjanjian tanggung jawab laki-laki kepada wanita yang dizinai-nya. Kemudian pasal pidana terhadap rakyat kecil yang tidak bisa ngemong (menjaga) binatang ternaknya yang dolan tanpa ijin ke pekarangan orang lain.

Sebelumnya menarik disimak kutipan dari pertimbangan draf RUI KUHP berikut ini: "Untuk mewujudkan hukum pidana nasional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, perlu disusun hukum pidana nasional untuk mengganti KUHP warisan pemerintah kolonial Hindia Belanda". (detik.com, 29/8/2019).

Dalam KBBI definisi undang-undang adalah 'ketentuan dan peraturan negara yang dibuat oleh pemerintah (menteri, badan eksekutif, dan sebagainya), disahkan oleh parlemen (Dewan Perwakilan Rakyat, badan legislatif, dan sebagainya), ditandatangani oleh kepala negara (presiden, kepala pemerintah, raja), dan mempunyai kekuatan yang mengikat'. Sedangkan dalam perspektif Islam apakah sebenarnya itu “Undang-undang”?
Dalam Bahasa Arab istilah Undang-undang disebut الْقَانُونُ   yaitu “Seperangkat aturan yang ditetapkan oleh pemerintah dan memiliki kekuatan yang mengikat rakyat dan mengatur hubungan antar mereka”. ( Nidhomul Islam hal 84 ; Syaikh Taqiyuddin An-Nabhaniy).

Di dalam Islam yang menjadi sumber dari rumusan UU adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, kemudian dihasilkan melalui proses ijtihad khalifah sebagai penguasa maupun dibantu para mujtahid jika diperlukan. Lalu khalifah, sebagai pemegang keluasaan, melegislasi hasil ijtihad tersebut dan memerintahkan rakyat untuk melaksanakannya. Jadi proses lahirnya UU menurut Islam adalah melalui proses istinbath/ penggalian  hukum oleh mujtahid kemudian di tabbaniy/ diadopsi Khalifah untuk dilaksanakan dan diterapkan bagi seluruh warga negara.

Sedangkan dalam sistem demokrasi sekuler proses lahirnya UU adalah melalui mekanisme perencanaan, pengusulan, pembahasan, dan pengesahan. Semua proses tersebut dilakukan oleh  eksekutif (presiden beserta jajaran kementeriannya) dan  legislatif (DPR).

Sehingga jika ada pertanyaan mana yang lebih baik antara RUU KUHP dengan KUHP yang lama?
Mari kita cek. Pernyataan bahwa RUU KUHP sebagai produk anak bangsa sebagai kemajuan dengan meninggalkan KUHP warisan kolonial Belanda adalah sebuah pernyataan yang ambigu. Karena hakikatnya keduanya adalah sama yaitu produk hukum sekulerisme. Berarti kedua-keduanya adalah produk akal manusia yang penuh keterbatasan dan notabene hanya sesuai dengan kepentingan sepihak yang pasti kontradiktif dengan kepentingan pihak lain. Di situlah akar ketidakadilan, kezaliman yang berujung pada konflik horisontal antar rakyat maupun vertikal antara rakyat dengan negara. Artinya UU buatan manusia pastilah cacat dan merugikan manusia maupun kemanusiaan.

Maka, seharusnya pertanyaan yang benar adalah lebih baik mana antara hukum sekuler dengan hukum Allah ? Sebagai orang beriman tentu akan memilih jalan terbaik bagi kehidupannya sesuai dengan kehendak Allah SWT. Allah menyinggung keimanan kita dengan pertanyaan :
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَومٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka ambil ? Hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang yang meyakini ?”  [QS. Al-Ma’idah : 50]

Dengan demikian kita mestinya mampu mengindera fakta bahwa UU buatan manusia tidak akan pernah mencapai kesempurnaannya dalam mewujudkan tujuan mencapai nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, kemakmuran dan perdamaian dalam mengatur manusia. Akal manusia sangat terbatas untuk mengetahui batas-batas nilai kebenaran dan kebaikan sehingga membutuhkan bimbingan wahyu Ilahi untuk memahami hakikat kebenaran. Hanya dengan kembali kepada hukum Allah saja manusia akan mendapatkan jalan kehidupan yang lurus sehingga terwujudlah harmoni kehidupan sebagai wujud  rohmatan lil ‘aalamiin.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here