INDONESIA BERPELUANG JADI NEGARA ADIDAYA DENGAN DUA SYARAT - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, September 26, 2019

INDONESIA BERPELUANG JADI NEGARA ADIDAYA DENGAN DUA SYARAT

Wahyudi al Maroky
(Dir. Pamong Institute)
Pada penghujung bulan agustus lalu, dalam sebuah diskusi ada peserta yang bertanya, melihat kondisi ekonomi Indonesia dan utang yang besar saat ini, apakah masih ada peluang untuk bisa jadi negara maju?
Mendapatkan pertanyaan itu, penulis ingin mengangkat mental dan derajat kita dengan jawaban yang penuh optimis. Peluang Indonesia untuk menjadi negara Maju sangat besar. Bahkan tak hanya menjadi negara maju, Indnesia berpeluang jadi negara ADIDAYA dunia. Hanya dua syarat yang diperlukan. Dan itu mestinya bisa kita penuhi.
Sebagaimana kita ketahui bahwa negara adidaya di dunia saat ini adalah Amerika Serikat(AS). Menurut mantan Menlu Perancis, Hober Federin dalam bukunya (Taruhan-taruhan Perancis di era globalisasi) mengatakan bahwa AS menduduki peringkat satu dunia. Pada peringkat kedua ada tujuh negara yaitu Perancis, inggris, Jerman, Rusia, Cina, Jepang dan India.
Federin tidak sembarang menempatkan urutan posisi negara adidaya dunia itu. Ada beberapa tolok ukur yang dipakai, diantaranya; pendapatan nasional, kemajuan teknologi, senjata nuklir, kulatitas dan kuantitas persenjataan, pengaruh budaya, sebaran bahasa, kerikatan dengan organisasi dan lembaga internasional.
Dengan tolok ukur di atas, saat ini ada empat negara adidaya yang sedang bersaing ketat mengincar posisi AS sebagai negara adidaya utama, yaitu Rusia, Inggris, perancis dan Jerman). Menurut federin, keempat negara ini punya visi internasional yang kuat untuk mempengaruhi tatanan dunia. Oleh karenanya jika ingin bersaing menjadi negara adidaya maka harus menggunakan sistem yang kuat, yang didisain kompatibel dan teruji pernah untuk menjadi negara adidaya.
Jika kita menggunakan tolok ukur yang dipakai Federin tersebut, dimanakah posisi Indoneisa? Mari kita lihat posisi level negara di dunia kini. Level pertama, Ada negara ADIDAYA UTAMA, level kedua kelompok negara ADIDAYA (daulah al Ula), level ketiga kelompok negara INDEPENDEN (daulah al mustaqillah), level keempat negara SATELIT (daulah al falak), dan level kelima ada kelompok negara PENGIKUT/BEBEK (daulah al tabi’ah).
Posisi pertama sebagai negara adidaya utama saat ini diduduki AS. Level kedua Sementara diduduki empat negara yang bersaing ketat menggeser posisi AS yaitu; Rusia, Inggris, perancis dan Jerman. Di level ketiga adalah negara mandiri yang diisi kelompok negara industri seperti Jepang, Kanada, India, Cina, dll. Di level keempat diisi kelompok negara satelit yang pada bidang tertentu mengikut negara tertentu dan bidang lainnya mengikuti (jadi satelit) negara maju lainnya. Sebagai misal, Kanada kepada AS, Inggris dan Perancis. Pada level kelima adalah negara bebek yaitu mengikuti dan tunduk pada satu negara maju, sebagai contoh Australia kepada Inggris, mesir kepada AS, kazakhtan kepada Rusia dll.
Bagaimana dengan Indonesia? Sesungguhnya masih memiliki peluang besar untuk menjadi negara adidaya. Bahkan bisa menggantikan posisi Amerika sebagai adidaya utama. Tentu jika Indonesia memenuhi dua syarat yaitu memakai sistem yang memenuhi syarat untuk menjadi adidaya dan menempatkan pemimpin dengan kapasitas sebagai pemimpin Adidaya.
Saat ini Indonesia dalam posisi sebagai negara kedua dari bawah yaitu setelah merdeka. Pasca proklamasi, Indonesia menjadi negara merdeka. Indonesia naik kelas dari negara jajahan atau dalam istilah yang dikenal sebagai negara bebek menjadi negara satelit.
Loyalitas negara satelit tidak seperti negara bebek yang harus tunduk pada satu negara penjajah. Setelah merdeka, negara satelit bisa mengikuti beberapa negara sekaligus. Sebagai misal, dalam bidang ekonomi menjadi condong kepada negara Cina tapi dalam bidang hukum menjadi satelit dari negara Belanda. Secara bersamaan pula dalam bidang politik pemerintahan menjadi satelit AS, dan seterusnya tergantung kesepakatan negara tersebut.
Untuk bisa menjadi negara adidaya, negeri ini harus melewati satu level lagi yaitu negara Mandiri (daulah mustaqilah). Nampaknya dengan kondisi ekonomi dan politik saat ini cukup sulit untuk menjadi negara Mandiri. Namun apakah masih mungkin Indonesia bisa jadi negara Mandiri lalu bersaing jadi negara Adidaya untuk menjadi negara adidaya Utama?
Sesungguhnya, jika melihat potensi yang ada, Indonesia memiliki peluang yang besar jadi negara mandiri. Setelah jadi negara mandiri maka bisa menyiapkan diri untuk bersaing jadi negara adidaya utama. Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia yang besar. Juga memiliki posisi geografis yang strategis. Tinggal mencari sistem yang tepat dan sudah teruji untuk mengelola segala potensi yang dimiliki.
Tentu diperlukan sistem yang sudah teruji pernah mengantarkan sebuah negara menjadi negara adidaya. Bukankah dulu Inggris termasuk negara miskin sumber daya alam namun dengan sistemnya ia mampu menjadi negara mandiri dan berpengaruh di dunia? Jika berkaca dari Inggris, mestinya Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk bisa dikembangkan menjadi negara mandiri bahkan negara adidaya. Hampir semua syarat yang dikemukakan Federin mestinya bisa dipenuhi.
Untuk bisa naik level menjadi negara mandiri dan bisa bersaing jadi negara adidaya maka Indonesia haruslah mencontoh negara yang sudah sukses. Indonesia mestinya menggunakan sistem yang pernah terbukti mengantarkan sebuah negara menjadi negara adidaya.
Dalam catatan sejarah, Ada tiga sistem yang pernah dan telah mengantarkan sebuah negara menjadi adidaya dunia. PERTAMA, sistem dan iedologi kapitalisme, dengan model pemerintahan demokrasi, telah mengantarkan AS menjadi negara adidaya dunia. KEDUA, sistem komunis dengan contoh negara uni soviyet yang kita kenal sangat disegani dunia dan menjadi pesaing utama AS. KETIGA, sistem islam dengan model khilafahnya yang juga pernah menguasai 2/3 dunia. Bahkan memiliki para sultan di nusantara yang merupakan bagian dari kekhilafahan sebagaimana tercatat dalam sejarah dunia.
Ada pilihan dari tiga sistem itu yang sudah teruji dan terbukti dalam catatan sejarah pernah mengantarkan sebuah negara menjadi negara Adidaya. Oleh karenanya sebuah negara memiliki peluang menjadi negara adidaya jika secara total memilih salah satu diantara tiga sistem yang ada; kapitalis, komunis atau islam. Memang bisa jadi ada negara yang mencoba-coba merancang sendiri sebuah sistem. Bisa juga ada negara yang mencoba menggabungkan beberapa sistem agar menjadi sistem baru. Padahal itu semua belum pernah terbukti dalam sejarah menjadikan sebuah negara adidaya, maka percobaan itu hanya akan menghabiskan energi yang luar biasa. Ini semakin menyebabkan negara itu jalan ditempat sementara negala lain semakin jauh meninggalkan negara tersebut.
Kita berharap Indonesia bisa menjadi negara adidaya. Tentu dengan menggunakan sistem yang telah teruji dan terbukti bisa mengantarkan sebuah negara menjadi adidaya. Wacana pilihan sistem tersebut harus dibuka seluas-luasnya kepada publik. Tak perlu takut perbedaan pendapat. Biarlah publik terbiasa beradu argumentasi yang cerdas dan menghindari beradu fisik secara bebas. Ruang diskusi dibuka seluasnya demi membangun kesadaran dan pemahaman bersama.
Dengan demikian, diharapkan publik akan paham mana sistem terbaik yang mereka inginkan lalu mereka mendukung dan memikul segala kensekuensinya. Dan jika diperlukan jajak pendapat seperti yang dilakukan Inggris terkait kebijakan terhadap Uni Eropa. Jangan diulangi membuat jajak pendapat seperti Timor Timur. Buatlah jajak pendapat yang menguatkan kebersamaan anak negeri memikul beban bersama demi kemajuan bersama bukan berpecah belah.
Selain sistem yang terlah teruji, syarat kedua untuk menjadi negara adidaya tetap harus dipenuhi. Ya, sistem yang telah teruji dan terbukti menjadikan negara adidaya itu harus dijalankan oleh orang yang "highly educated professional".
Sistem yang terbaik saja tak cukup. kita perlu juga pemimpin yang profesional dan amanah (integritas). Pemimpin yang memiliki semangat membara (himmah). Pemimpin yang mampu menjalankan sistem yang telah teruji dan terbukti menjadikan sebuah negara menjadi Adidaya. Dengan dua syarat utama ini maka akan dapat melengkapi dan memenuhi berbagai syarat lain untuk menjadi negara adidaya utama. Semoga.[]
NB; Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here