KURANG APA COBA? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, September 29, 2019

KURANG APA COBA?


Alie Fath

Situasi beberapa hari terakhir yang menimpa bangsa Indonesia mengharuskan kita tidak hanya berfikir cerdas dan cermat namun juga jernih.Tidak hanya berupaya untuk perubahan dengan serius melainkan harus lebih serius.Tidak ada perkecualian, hal tersebut harus dilakukan oleh semua yang masih merasa menjadi bagian bangsa Indonesia.

Rezim demi rezim berlalu hingga rezim hari ini, namun nasib bangsa ini terus mengalami kondisi yang semakin memprihatinkan. Regulasi dan terbitnya berbagai  UU yang digagas rezim nyata-nyata hanya pro-kapitalis yang sangat merugikan bangsa dan rakyat Indonesia. Ada UU minerba, investasi asing, PMA,hak kepemilikan lahan, dll.

Belum lagi terkait aneka persoalan multidimensi yang terus saja menekan negeri kita, coba kita cek beberapa fakta kontroversial berikut ini: pelaksanaan proyek OBOR/BRI, penambahan ribuan triliun hutang negara,  kecurangan pemilu yang TSM, konflik papua yang membara sampai detik ini, pemindahan ibu kota, kenaikan iuran BPJS, kediktatoran rektor, pelemahan KPK, karhutla yang tak pernah terselesaikan dengan tuntas, kriminalisasi aktivis dan ulama dan banyak lagi.

Semua persoalan itu alih-alih menyejahterakan rakyat, yang dirasakan rakyat adalah kesengsaraan, kecurangan, kediktatoran, pemaksaan dan penambahan beban kehidupan. Sulit akal kita memahami dan menerima sikap rezim ini yang jauh dari kesan pro-rakyat.

Di sisi lain, rakyat hari ini sudah cerdas. Mereka menginginkan perbaikan dengan berdakwah dan menawarkan gagasan dan solusi Islam justru dihantam dan dipersekusi, mereka dituduh anti-pancasila, ingin menghancurkan indonesia dan bejibun tuduhan negatif lainnya. Sedangkan mereka yang nyata-nyata korupsi, rektor yang diktator, buzzer yang menghina ajaran islam, oknum-oknum yang menghina simbol-simbol islam justru seolah kebal hukum.

Tidak hanya harta, air mata, keringat, darah dan bahkan nyawa telah menjadi tumbal kebijakan-kebijakan dzalim dari rezim. Dari aksi mahasiswa dan pelajar kemarin pun menyisakan kisah pilu. Dua nyawa mahasiswa melayang, beberapa belum kembali, belum lagi yang masuk UGD dan korban lainnya. Di Wamena juga sangat mengerikan, tewasnya puluhan warga sipil akibat separatisme serta pengusiran, mengindikasikan bahwa bangsa ini dalam keadaan sakit.

Atas semua itu, maka dibutuhkan kontribusi oleh semua elemen masyarakat tanpa kecuali untuk keluar dari kondisi ini.
Setidaknya bangsa Indonesia sudah belajar dari peristiwa yang lalu, dari orde lama hingga orde paling baru untuk terus melipatgandakan usaha agar lebih serius dan berfikir cerdas, cermat serta jernih menghadapi situasi yang terus memburuk ini. Juga untuk mendorong kita sebagai bangsa yang besar agar tidak terjerumus ke dalam lobang yang sama untuk kesekian kali.

Cukup sudah kita belajar. Saatnya perubahan hakiki itu hari ini. Perubahan ke arah Ridho Allah SWT secara total, tentu hanya dengan cara kembali ke Islam yang kaffah. Kurang apa coba?

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here