Menyoal Ketahanan Energi Nasional - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, September 3, 2019

Menyoal Ketahanan Energi Nasional



Lukman Noerochim (stafsus FORKEI)

Ketahanan energi adalah  kemampuan ekonomi untuk menjamin ketersediaan pasokan semberdaya energi secara berkelanjutan dan tepat waktu dengan harga energi yang sewaktu-waktu akan meningkat sehingga mempengaruhi kinerja perekonomian.

Beberapa faktor yang mempengaruhi ketahanan energi: (1) Penyediaan cadangan bahan bakar baik di dalam negeri maupun tujuan ekspor, (2) Kemampuan ekonomi dalam mengeksplorasi pasokan atau sumber energi untuk memenuhi permintaan, (3) Aksebilitas sumber daya energi, ini terkait dalam ketersediaan infrastruktur energi dan transportasi, (4) Kestabilan dan keamanan geopolitik sekitar sumber daya energi.

Ketahanan energi merupakan salah satu elemen pokok dari proses pembahasan agenda pembangunan global terutama terkait peranan energi dalam pemberantasan kemiskinan dan perubahan iklim. Namun kondisi geopolitik dan krisis ekonomi global ikut mempengaruhi pasokan dan harga energi global khususnya minyak dan gas.

Diperkirakan sekitar tahun 2030 populasi dunia bertambah 1,3 milyar hingga mencapai 8,3 milyar, sedangkan total Gross Domestic Product dunia akan mencapai dua kali lipat dibanding tahun 2011. Tingkat konsumsi energi dunia rata-rata akan tumbuh 1,6% per tahun sehingga akan bertambah 36% pada tahun 2030. Maka dari itu dalam penyediaan sumber energi yang mencukupi dan terjangkau merupakan keharusan untuk menyokong pertumbuhan dan pembangunan berkelanjutan.

Ketahanan energi Nasional saat ini masih kalah dengan Malaysia dan Singapura, Indonesia hanya memiliki stok Bahan Bakar Minyak (BBM) 22 hari, lebih singkat daripada dua negara tetangganya. Selain stok yang minim, kapasitas dan kulaitas kilang Indonesia juga sudah tidak lagi memumpuni. Saat ini kilang Indonesia hanya bisa mengolah minyak mentah 800 ribu barel. Malaysia dengan jumlah penduduk lebih sedikit mampu mengolah 722 ribu barel minyak mentah.

Pandangan kapitalis harus dibongkar kekeliruannya. Energi merupakan sarana hidup yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan eksistensinya dan merupakan pemberian dari Allah SWT. Sarana hidup ini berupa Energi terdapat di mana saja; di dalam tanah, air, permukaan tanah, udara, dan lain sebagainya, seperti tambang, minyak, gas, sinar matahari, tumbuhan, hewan dan banyak lagi lainnya. Jadi, Energi bagian adalah segala sesuatu yang terkandung di dalam bumi, air, maupun di udara untuk kelangsungan hidup manusia.

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa bumi berfungsi sebagai tempat tinggal manusia, langit sebagai atap dan air hujan yang diturunkan serta buah-buahan sebagai rezki bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Allah SWT berfirman :

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui”. (Q.S. Al-Baqarah [2]:22)

Lebih tegas lagi, Allah SWT menyatakan bahwa manusia telah diberikan sarana hidup yang terdapat disekelilingnya:

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu …”. (Q.S. Al-Baqarah [2]:29)

Dengan demikian, Energi yang ada berfungsi sebagai sarana hidup untuk memenuhi kebutuhan manusia di dunia ini sebagai kabaikan, rahmat dan sara hidup untuk dimanfaatkan oleh manusia dalam rangka mengabdi dan menjalankan perintah Allah.

Lalu siapakah yang seharusnya melakukan pengelolaan Energi yang jumlahnya tidak sedikit? Jawabannya menurut Ideologi Kapitalis yang juga merupakan pandangan pemerintah saat ini adalah bahwa kekayaan alam termasuk Energi harus dikelola oleh individu atau perusahaan swasta karena ini merupakan ciri utama sistem ekonomi kapitalis dimana kepemilikan privat (individu) atas alat-alat produksi dan ditribusi dalam rangka mencapai keuntungan yang besar dalam kondisi-kondisi yang sangat konpetatif sehingga perusahaan milik swasta merupakan elemen paling pokok dari kapitalis.

Sementara jawabannya menurut Ideologi Islam, adalah bahwa kekayaan alam seperti Energi merupakan harta milik umum yang menguasai hajat hidup masyarakat harus dikelola oleh negara. Negaralah mewakili rakyat melakukan eksplorasi dan eksploitasi energi, menjamin ketersediaannya untuk kebutuhan rakyat dan jika telah terpenuhi dan masih ada kelebihan Negara boleh mengekspornya keluar serta mengelola penghasilannya, Negara bukanlah sebagai pemilik atau yang menguasai kekayaan itu. Semua hasil bersihnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pelayanan yang lain, bisa berupa; pelayanan kesehatan, pendidikan, keamanan, listrik, air, transportasi, dan sebagainya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here