RADIKALISME: NARASI BELAH BAMBU PARA PEMBENCI - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, September 6, 2019

RADIKALISME: NARASI BELAH BAMBU PARA PEMBENCI



Oleh: Mujahid Wahyu
(Analis Ar roya Center)

Upaya menghalangi atau setidaknya menekan laju percepatan kebangkitan islam terus dilakukan oleh para pembenci. Setelah gagal dengan strategi mega proyek terorisme, kini mereka berpindah ke strategi lain yaitu radikalisme. Meminjam istilah George W Bush dengan redaksi yang sedikit berbeda yakni “ you with us or with terrorist (radicalist)”, maka tujuan narasi radikalisme apalagi kalau bukan membuat polarisasi di tubuh kaum muslimin. Polarisasi inilah yang merupakan strategi baku dari para pembenci untuk melemahkan umat islam, menjauhkannya dari persatuan, dan mendekatkannya pada perpecahan.

Polarisasi semakna dengan politik belah bambu atau dalam istilah kamus penjajahan belanda dikenal dengan devide et impera. Antonio Gramsci (1981-1937) memberikan istilah politik belah bambu dengan stick and carrot. Jika sejalan dengan keinginan penguasa, maka penguasa akan memberi carrot, namun sebaliknya jika tidak maka bersiaplah mendapatkan stick. Hal tersebut sama dengan pengistilahan belah bambu. Pada proses pembelahan bambu, sebagian bambu diinjak, sebagian lagi diangkat. Kedua analogi tersebut sama tujuannya yaitu membuat polarisasi atau pengkubuan dan menjauhkannya dari persatuan. Inilah yang hari ini dialami oleh kaum muslimin dengan narasi-narasi yang diciptakan penguasa seperti radikal vs moderat, radikalis vs pancasilais, intoleran vs toleran dan lain sebagainya. Dari berbagai narasi tersebut, hari ini yang mendapatkan porsi maksimal adalah narasi radikalisme.

Narasi ini (baca: radikalisme) tidak jelas definisinya, namun sangat jelas siapa yang disasar. Makna dalam hukumnya juga abu-abu, namun sangsi yang diterima para tertuduhnya jelas dan tidak abu-abu. Siapa yang disasar dan siapa yang dituduh sama dengan proyek terorisme, siapa lagi kalau bukan kaum muslimin. Semua korban narasi dan labelisasi radikal adalah kaum muslimin. OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang nyata-nyata ingin lepas dari bumi pertiwi dan menggunakan cara-cara kekerasan bahkan telah terbukti beberapa kali membunuh aparat tidak pernah sama sekali distempel dan dinarasikan dengan cap radikal atau teroris. Mengapa demikian? Sekali lagi, karena mereka bukan orang islam. Menjadi sangat jelas dan tidak ada hijabnya sama sekali bahwa radikalisme adalah narasi pecah bambu oleh para pembenci kebangkitan islam.

Narasi yang berujung pada stigmatisasi atau labelisasi negatif bukanlah hal yang asing bagi kaum muslimin. Ketika dakwah Rosululloh SAW mulai membahayakan penguasa kafir qurays Mekkah, maka para penguasa waktu itu membuat narasi-narasi jahat untuk menjauhkan penduduk Mekkah dengan Rosululloh SAW. Salah satu narasi jahat yang disematkan kepada Rosululloh SAW adalah narasi yang diusulkan oleh Walid bin Mughiroh. Walid bin Mughiroh saat itu mengusulkan di tengah forum bahwa Rosululloh SAW adalah tukang sihir lewat ucapan. Inilah narasi yang disepakati bersama oleh para petinggi Quraysi di tengah adanya usulah semisal Muhammad dukun, Muhammad gila, dan Muhammad tukang sihir. Lalu bagaimana keberakhiran dari narasi-narasi jahat tersebut? Tidak lain hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Dakwah terus berkembang, melenyapkan kebatilan dan para pengusungnya. Narasi-narasi jahat seperti radikalis nasibnya tidak berbeda alias sama. Maka bersabarlah dalam fase ini dan teruslah berdo’a agar Alloh memberikan keistiqomahan dalam berislam kita, teguh memperjuangkan al qur’an dan as sunah dan senantiasa mengupayan persatuan di tengah-tengah kaum muslimin.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here