TERUS MEMUSUHI KHILAFAH, WIRANTO HARUSNYA MALU KEPADA RASULULLAH SAW - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, September 19, 2019

TERUS MEMUSUHI KHILAFAH, WIRANTO HARUSNYA MALU KEPADA RASULULLAH SAW




Aminudin S - Dir. LANSKAP

Di tengah kalutnya rakyat Riau dikepung asap pembakaran hutan, belum redanya konflik Papua, kisruh RUU KPK yang kental aroma kartel, tetiba tanpa hujan dan angin Wiranto, yang sementara ini masih menjabat menkopolhukam, mengumumkan penggodokan aturan untuk melarang setiap individu merdeka di negara ini mendakwahkan khilafah.

Terlalu berlebihan namun tidak mengejutkan. Saya sudah mencermati dari awal periode pertama rezim ini sudah menarget ajaran khilafah dan siapapun yang mendakwahkannya. Misi itu pula yang akan dituntaslan di periode kedua rezim ini, bahkan menjadi salah satu alasan fundamental kenapa rezim ini harus terus berkuasa meski harus melalui upaya kecurangan yang terstruktur, sistematis, masif dan brutal. Terbukti belum juga resmi dilantik agenda pembasmian khilafah sudah ditabuh.

Namun sangat disayangkan cara bermain rezim ini sama sekali tidak egan jika tidak boleh dibilang ngawur. Mari kita ulas secara singkat. Mendiskreditkan ajaran khilafah dengan mengatakan khilafah sebagai ideologi adalah framing sesat. Secara ilmiah, empiris maupun historis, terbukti telak bahwa khilafah bukanlah ideologi melainkan sistem pemerintahan yang bersumber dari ideologi Islam, yang pernah eksis selama lebih dari 13 abad. Bahkan era khilafah diakui oleh para sejarawan maupun filsuf sebagai peradaban terbaik yang pernah ada dan tanpa tandingan hingga detik ini. Khilafah itu sistem seperti halnya demokrasi, monarkhi, atau sistem pemerintahan lainnya. Jadi menyebut khilafah sebagai ideologi adalah framing sesat demi kepentingan politis saja.

Tindakan gegabah Wiranto ini mengonfirmasi kekalahan intelektual dari rezim terhadap sebuah gagasan bernama khilafah. Bukan sebuah rahasia jika selama tiga dekade ini sistem khilafah ditawarkan sebagai solusi alternatif untuk menggantikan demokrasi yang terbukti gagal mewujudkan harapan negeri ini. Demokrasi nyata sekali hanya menghadirkan bencana-bencana, mulai dari bencana korupsi, krisis ekononomi, penjajahan kapitalis, krisis sosial budaya, otoritarian penguasa, kerusakan lingkungan yang kronis, dsb. Bahkan sejak era reformasi kondisi demokrasi di negeri ini semakin memburuk dan memurukkan negeri ini alih-alih meraih kejayaan.

Maka bersikap arogan dan represif terhadap 'hanya' sebuah ide alternatif bernama sistem khilafah adalah sebuah policy yang absurd, jika tidak boleh dikatakan ngawur. Harusnya rezim bersikap dewasa dan bijak dalam menyikapi aspirasi rakyat yang tak lebih hanya ingin negerinya menjadi lebih baik. Apalagi Wiranto adalah seorang muslim yang seharusnya tahu persis bahwa dalam segala aspek  hidupnya wajib meneladani Rasulullah SAW. Dan Nabi SAW pun sudah mencontohkan bagaimana menjalankan sebuah insitusi politik bernama negara. Sistem pemerintahan ala Rasul SAW itupun dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin hingga era khilafah Umayyah, Abasiyah dan Utsmaniyah dalam kurun lebih dari 13 abad. Itulah sistem Khilafah yang bersumber dari ideologi Islam.

Dan mustahil jika pensiunan jenderal - yang juga seorang muslim, yang terikat dengan syahadat, yang masih bernafas berkat rahmat Allah SWT, yang pasti juga bakal mati dan menjadi bangkai, yang akan berhadapan dengan malaikat kubur, yang akan dibangkitkan dan antri sidang di yaumil mahsyar, yang pasti akan dihisab amalnya dan ditimbang surga-nerakanya- berani menentang dan mengatakan ajaran Islam yaitu khilafah sebagai sesuatu yang haram didakwahkan.

Sungguh absurd, untuk itu seharusnya Wiranto malu kepada Rasulullah SAW, tapi mungkinkah ambisi dunianya sudah memupus rasa malu itu?

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here