Ada Black Hole dalam Konflik Libya - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, October 16, 2019

Ada Black Hole dalam Konflik Libya


Ilham Efendi – Direktur RIC (Resist Invasion Center)
Konflik internal Libya masih membara. Berbagai kekerasan dan kekacauan politik serta krisis finansial menyelimuti Negara ini. Bagi rakyat Libya, mereka menderita dalam kondisi inflasi tinggi, jatuhnya mata uang, pembatasan listrik, antrean di bank, dan kekerasan tak bertepi.

Dikutip dari laman the Guardian, Libya kini terbelah antara pemerintah yang didukung PBB berkuasa di Ibu Kota Tripoli di sebelah barat dan dilindungi berbagai milisi bersenjata. Di sebelah timur di Benghazi, Jenderal Khalifa Haftar, 75 tahun, tentara loyal Qadafi, membentuk pasukannya sendiri, Tentara Nasional Libya (LNA) dan menguasai hampir dua pertiga Libya, termasuk ladang minyak.

Sejak awal tahun ini, Haftar dan pasukannya memulai operasi militer dari daerah kekuasaannya di sebelah timur Libya, termasuk mengambil alih ladang minyak penting di sebelah selatan. Dia bermaksud menggulingkan pemerintahan yang diakui PBB di Tripoli, sebelah barat Libya. ejak pemilu Juni 2014, Libya terbelah menjadi kubu parlemen yang menarik diri ke Tobruk dan koalisi sejumlah tokoh untuk membentuk pemerintahan tandingan di Tripoli. Perpecahan ini menggambarkan sejarah Libya yang dulunya terbagi menjadi wilayah Cyrenaica, sebelah timur Benghazi dan Tripolitania, di barat. Tapi kekuatan menjadi terpecah-pecah di sejumlah kota pesisir, suku, dan kelompok milisi bersenjata serta kaum Islamis. Di Tripolisi sendiri ada empat faksi milisi.

Perang antar para antek di Libya tidak bisa lepaskan dari persaingan negara-negara Barat untuk merampok kekayaan alam negeri Islam. Panglima Hartar yang gencar melakukan berbagai serangan di Libya banyak menguasai daerah Timur Libya. Ia dikenal dekat dengan Amerika Serikat. Adapun pemerintahan Libya dukungan PBB saat ini, yang dipimpin Fayez Mustafa al Sarraj, dekat dengan negara-negara Eropa. Tidaklah mengherankan kalau para agen ini bergerak dengan arahan Eropa dan Amerika.  Eropa dan Amerika bergerak sesuai dengan kepentingan tuan-tuan mereka.

Amerika mengirim mantan perwira tinggi Libya Khalifah Haftar untuk bekerja di Libya demi kepentingan Amerika. Sejarah hidupnya menyatakan loyalitasnya kepada Amerika. Haftar pernah ditawan di Chad bersama sekitar 300 tentara Libya pada Maret 1987. CIA pada tahun 1990 bernegosiasi untuk membebaskan Haftar dari tawanan Chad. Pesawat Amerika memindahkan Haftar dan kelompoknya ke Zaire  dan membawa dia ke Amerika.  Di sana Haftar mendapatkan suaka politik dan bergabung dengan oposisi Libya di luar negeri.

Haftar menghabiskan 20 tahun hidupnya di negara bagian Virginia Amerika. Dia dilatih perang gerilya oleh CIA. Dia tidak pulang ke Libya kecuali pasca Revolusi 17 Februari 2011. Amerika mengirim dia ke Libya untuk  mendirikan kekuatan militer. Haftar memegang jabatan senior di dalam kepemimpinan pasukan yang menjatuhkan Gaddafi selama Perang Saudara Libya pada tahun 2011. Pada tahun 2014, dia menjadi komandan Angkatan Darat Libya setelah Kongres Nasional Umum (GNC) menolak menyerahkan kekuasaan pada akhir masa jabatannya. Haftar melancarkan kampanye militer melawan GNC dan sekutu-sekutunya, termasuk kelompok Mujahidin.

Amerika  mengirim Haftar ke Libya untuk berusaha membangun kekuatan militer. Tujuannya untuk menjadi alat Amerika menguasai Libya dan menggeser pengaruh Eropa yang kuat di sana. Haftar diharapkan bisa membentuk kelas politik baru melalui kemenangan-kemenangan militer. Untuk itu Amerika mem-back-up penuh Haftar dengan memasok persenjataan dan dana, baik secara langsung maupun melalui agen Amerika lain, Jenderal as-Sisi di Mesir.
Selama ini Amerika menunda solusi politik apapun di Libya sambil menunggu Haftar  bisa memiliki pengaruh yang efektif. Haftar memfokuskan pada wilayah timur sebab Tripoli penuh sesak dengan kelas politik yang loyal kepada Eropa, khususnya Inggris. Haftar berhasil sampai pada batas tertentu dalam mengokohkan kekuatan di wilayah timur Libya dan mengontrol Dewan Perwakilan di Tobruq.  Setelah Haftar agen Amerika mengontrol Kota Benghazi, Haftar bisa mengendalikan Libya Timur.  Penaklukkan Kota Derna pertengahan 2018, membuat Haftar menguatkan cengkeramannya atas Libya timur secara penuh.

Amerika pun mendorong Haftar untuk beralih ke medan pertempuran di Kota al-Hilal an-Nafthi. Hal ini menyebabkan  kondisi Libya makin memanas; agen-agen Amerika dipimpin oleh Haftar melawan agen Eropa yang dipimpin oleh as-Sarraj di Tripoli.  Kontrol Haftar atas al-Hilal an-Nafthiy (Oil Crescent) membuat bobot militer Haftar menjadi lebih kuat terhadap pemerintahan as-Sarraj yang didukung Eropa. Namun, kekuatan Haftar secara militer yang didukung oleh agen Amerika as-Sisi tidak sepenuhnya membuat Haftar bisa mengambil Libya barat. Kuatnya pengaruh Eropa di wilayah itu, ditambah lagi secara geografis dekat dengan Aljazair, menyulitkan Haftar untuk berkuasa penuh. Intinya, serangan Haftar atas Libya selatan untuk merealisasikan kepentingan Amerika meningkatkan bobot politiknya untuk berhadapan dengan Eropa dan meminimalkan pengaruh Eropa di Afrika.

Haftar, dengan dukungan militer Amerika, termasuk dukungan khusus Mesir,  bisa merobek Libya menjadi dua bagian. Mengontrol penuh bagian timur dan al-Hilal an-Nafthiy yang merupakan tulang punggung perekonomian Libya. Haftar bisa menciptakan keretakan di bagian barat. Pergerakan Haftar ke arah selatan untuk meningkatkan kontrol militer dan ekonomi.

Begitulah, di bawah kondisi  yang jumud mengontrol penuh wilayah Barat, akibat pengaruh Aljazair dan dukungan besar Eropa kepada pemerintahan as-Sarraj, Amerika mendorong Haftar merealisasikan tujuan Amerika lainnya. Dengan itu Amerika meningkatkan kelelahan negara-negara Eropa dalam masalah imigran sekaligus menggangu pengaruh Prancis di negara-negara sekitar mulai dari Chad.

Seperti di Suriah dan Yaman, Libya menjadi ajang persaingan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Turki dan Qatar mendukung pasukan di barat (Tripoli) sedangkan Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Mesir, mendukung pasukan timur. Jelas, Imperialisme barat, baik AS maupun Eropa menjadi factor utama krisis di Libya, disamping faktor keantekan, yang sebagian loyal kepada Amerika dan sebagian loyal kepada Eropa, kemudian mereka saling memerangi di antara mereka. Perang bukan demi Islam dan meninggkan kalimat Allah, tetapi demi kepentingan kaum kafir imprialis. 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here