Berbagai Upaya Soft-Approach dan Hard-Approach Untuk Memalingkan Umat dari Dakwah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, October 16, 2019

Berbagai Upaya Soft-Approach dan Hard-Approach Untuk Memalingkan Umat dari Dakwah



M. Arifin (Tabayyun Center)
Kaum muslimin tidak lagi asing dengan seruan penegakan khilafah yang sering disyiarkan para ulama dan aktivis dakwah.  Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah yang diserukan mereka merata di seluruh dunia. Khilafah ini dikabarkan akan menyatukan dunia Islam, dari Timur hingga Barat. Sudah banyak prediksi para pengamat luar negeri, yang menyatakan Khilafah model ini dalam waktu tak begitu lama akan tegak di Dunia ini.

Namun syiar dakwah Islam bukan tanpa hambatan. Ada berbagai upaya sistematis dan massif untuk mencitrakan negative para penyeru dakwah. Ini merupakan indikasi kuat dan meyakinkan, bahwa Demokrasi hanyalah sebuah ide palsu. Para politisi pro Demokrasi selalu bergumam bahwa Demokrasi itu esensinya adalah dialog mencapai kesepakatan berdasarkan kehendak mayoritas. Mereka pun mengatakan bahwa negara-negara Barat yang Demokratis selalu berpikiran terbuka dan menerima dialog, namun faktanya tidak demikian.

Mereka yang kontra akan terus berupaya mencegah ide khilafah itu berkembang luas. Mereka khawatir, jika bergulir luas maka ide khilafah akan cepat menjelma menjadi cita-cita dan arah perjuangan umat Islam sedunia. Mereka berusaha menghadang Khilafah dengan  berbagai cara, baik yang bersifat soft-approach maupun yang hard-approach. Istilah soft-approach umumnya digunakan untuk merujuk pada penggunaan lembaga think-tank, lembaga studi dan penerbitan buku-buku untuk mendiskreditkan ide khilafah. Adapun hard-approach merujuk pada penggunaan kekuatan negara untuk memberangus ide khilafah, seperti pelarangan dan sejenisnya.

Untuk soft-approach, yang paling gencar mereka lakukan adalah menjadikan ide khilafah sebagai utopis dan ide mitos atau berbagai istilah lainnya yang semakna. Intinya mereka ingin memperlemah pemikiran umat Islam dengan menjadikan ide khilafah itu sebagai sebuah mitos yang akan menguras energi secara sia-sia.

Mereka berupaya menanamkan pemahaman bahwa gagasan menyatukan seluruh umat Islam di dunia dalam satu negara Kekhilafahan itu merupakan hal yang mustahil. Berbagai ahli ditampung pendapatnya untuk menentang gagasan kemungkinan persatuan umat Islam di abad ke-21 ini. Mereka juga menerbitkan berbagai buku untuk memperkuat propagandanya tersebut.

Salah satunya adalah buku yang ditulis oleh antropolog Madawi ar-Rasheed (Demystifying the Caliphate: Historical Memory and Contemporary Contexts, Hurst Publishers London, 2013). Madawi yang bekerja di Department of Theology and Religious Studies di King’s College London tersebut mengatakan, “Saya kira seisi Jazirah Arab telah terjerumus ke dalam kekerasan sektarian. Karena itu, menurut saya, tidak mungkin Khilafah dapat terwujud. Kini, pada abad ke-21 ini, gagasan tersebut hanya impian sia-sia dari para aktivis Muslim.”

Madawi yang keturunan Arab Saudi itu, dengan dukungan pihak Barat khususnya Inggris, sangat aktif memberikan kuliah dan menulis buku terkait ketidakmungkinannya ide khilafah itu bisa diwujudkan. Ribuan mahasiswa Muslim telah menjadi obyek dari propagandanya tersebut. Madawi adalah Visiting Professor di Middle East Centre di London School of Economics and Political Science. Dia juga memberikan berbagai kuliah di Amerika Serikat, Eropa dan Timur Tengah. Pada tahun 2016 dia menjadi Visiting Research Professor di Middle East Institute di National University of Singapore.

Banyak buku dan tulisan serupa yang terus dipublikasikan dengan tema utama yang sama, yakni keutopisan dan kemitosan ide khilafah. Secara umum alasan yang mereka kemukakan, ide khilafah itu utopis karena umat Islam saat ini sangat beragam. Menurut mereka tidak mungkin umat Islam disatukan dalam sistem hukum dengan wadah institusi Khilafah tersebut.

Alasan lainnya, menurut mereka, karena umat Islam saat ini berada dalam negara-bangsa (nation-state). Karena itu disinyalir Khilafah akan menimbulkan perpecahan di Dunia Islam. Belum lagi ide penegakan Khilafah ini akan berhadapan dengan rezim represif di berbagai negeri Muslim. Bahkan nantinya akan berhadapan dengan negara-negara kuat di bawah pimpinan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa yang akan menghancurkan benih Khilafah ketika suatu saat berdiri.

Selain menuding sistem Khilafah sebagai sesuatu yang utopis, mereka juga sering menuding syariah dan Khilafah sebagai ancaman. Tentu ini bagian dari penyesatan politik. Apa yang ditulis oleh Paul Kennedy di atas maupun yang disampaikan oleh Mary McAleese sudah cukup sebagai salah satu bantahannya.

Tudingan tersebut sejatinya juga merupakan upaya mereka untuk memalingkan masyarakat dari ancaman sebenarnya, yakni ideologi kapitalisme-liberalisme. Sebab faktanya, berbagai kerusakan yang terjadi di berbagai negeri Muslim dalam bidang ekonomi, hukum, sosial, dan politik justru bersumber pada penerapan sistem kapitalisme-liberalisme itu. Bahkan berbagai kehancuran fisik yang terjadi di Irak, Afganistan, Suriah, Yaman, dan sebagainya sebenarnya akibat kerakusan negara penjajah di negeri-negeri tersebut.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here