BUZZER DALAM PUSARAN POLITIK SEKULER - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, October 21, 2019

BUZZER DALAM PUSARAN POLITIK SEKULER


Kebohongan dalam politik kembali menjadi sorotan publik. Masih ingat? Berita hoax ambulans
mengangkut batu saat aksi mahasiswa akhir September lalu? Itu hanyalah satu dari ribuan
berita/kabar hoax yang bertebaran di media sosial. Beredarnya hoax tak lepas dari peran para buzzer
yang memang disiapkan untuk menyebarkan propaganda.

Buzzer secara bahasa adalah lonceng, atau alarm yang digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan
banyak orang di suatu tempat dengan tujuan untuk menyampaikan suatu pengumuman. Kini istilah
buzzer sering dipakai dalam aktivitas media sosial. Dalam konteks media sosial pengertian buzzer
adalah pengguna akun media sosial (Twiter, Facebook, Instagram) dengan banyak followers yang
dibayar untuk mengkampanyekan atau mempromosikan suatu produk atau isu tertentu melalui
rangkaian update status di media sosial.

Buzzer sebenarnya bersifat netral. Menjadi masalah ketika para buzzer ini mengemban misi untuk
menyesatkan opini publik dan membungkus kebohongan sehingga seolah-olah menjadi sebuah
kebenaran. Istilahnya mereka menyebar berita bohong alias hoax.

Di Indonesia, buzzer menjadi alat kelompok tertentu, alat penguasa untuk memecah belah
masyarakat, tidak hanya memecahbelah tapi juga mengadu domba lalu mendiskreditkan yang
menjadi lawan politik. Dalam pilpres lalu misalnya, buzzer-buzzer pendukung Jokowi mengerahkan
kemampuannya membangun opini publik untuk menjatuhkan lawan politiknya. Prabowo jadi
sasaran. Melalui para buzzer itulah Prabowo di framing sedemikian rupa bahwa ia adalah calon yang
pro terhadap ajaran Khilafah. Saat itu Prabowo langsung menyatakan bahwa itu kabar bohong.

Para buzzer ini  seperti "kebal hukum". Penangkapan terhadap
orang yang diduga menganiaya Ninoy Karundeng -- pegiat medsos sekaligus relawan Jokowi
–(detik.com) bersamaan dengan aksi mahasiswa akhir September lalu begitu cepat. Kepolisian
terlihat sangat sigap memproses kasus tersebut. Sebanyak 14 orang langsung ditetapkan sebagai
tersangka.

Publik lalu bertanya-tanya, mengapa kasus penghinaan yang dilakukan oleh mereka yang
selama ini dekat dengan kekuasaan justru mandeg. Mereka menghina ajaran Islam, hingga menghina
tokoh dan ulama.
Pelaporan masyarakat ke kepolisian sebagai institusi penegak hukum sudah banyak dilakukan.
Diantara yang dilaporkan adalah Victor laiskodat, Ade Armando, Sukmawati, Abu Janda hingga
Denny Siregar. Lebih dari 30 laporan telah dilayangkan. Namun prosesnya entah kemana. Di sisi lain,
proses terhadap mereka yang berseberangan terhadap rezim begitu cepat. Musisi Ahmad Dhani
misalnya, gara-gara cuitannya ia kini harus mendekam di penjara. Ia dipidana, karena didakwa
melanggar UUITE.

Politik demokrasi yang bertumpu pada teori Machiavelli memang hanya terfokus pada upaya
perebutan kekuasaan. Metode dan sarana apapun akan digunakan untuk meraih kekuasaan
tersebut, termasuk berbagai intrik dan manipulasi. Keberadaan buzzer itu tentu termasuk yang
dipicu teori Machiavelli tersebut. Bahwa politisi yang mempunyai senjatalah yang akan menang.
Sementara tidak ada senjata yang lebih ampuh saat ini ketimbang media massa dan media sosial.
Para buzzer politik melalui berbagai media, bertugas mempropagandakan politisi yang menjadi
tuannya. Pada era teknologi digital 4.0 sekarang ini para buzzer sangat mudah menghipnotis
masyarakat. Politisi yang sebenarnya penjahat bisa dicitrakan menjadi pahlawan. Jadilah para politisi
menjelma menjadi makhluk bermuka dua yang pandai berdusta.

Rasulullah mensifati politisi seperti itu sebagai Ruwaibidhah. “Akan datang kepada manusia tahun-
tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur
malah didustakan. Penghianat dipercaya sedangkan orang amanah justru dianggap sebagai
penghianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara. “Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud
Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab “Orang bodoh yang berbicara/mengurusi urusan
masyarakat/publik” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Ya’la dan al-Bazzar).

Kondisi perpolitikan semacam ini akan melahirkan kebahayaan bagi masyarakat. ‘Discruption era’
atau era kekacauan informasi benar-benar terjadi. Masyarakat akan kesulitan melihat mana
informasi yang benar dan mana informasi yang salah. Lebih jauh masyarakat negeri ini akan
kehilangan rasa saling percaya dengan sesama. Yang muncul justru saling curiga. Dan akhirnya
peluang terjadinya konflik horizontal menjadi ancaman serius.

Semua itu adalah buah pahit dari penerapan sistem politik sekuler yang menjauhkan agama dari
negara. Kondisi ini akan terus berlangsung selama sistem sekuler dipertahankan. Sebagai seorang
Muslim yang hidupnya hanya untuk Islam, serta keberadaannya hanya untuk mengemban dakwah
Islam, wajib melakukan perlawanan terhadap kerusakan diatas. Perlawanan itu dilakukan dengan
cara:

Pertama, membangun opini yang benar tentang tatanan politik yang benar. Yaitu tatanan politik
yang berasal dari Allah SWT dengan menerapkan syariah islam secara kaffah yang akan menebarkan
rahmat untuk seluruh alam. Politik bagi umat Islam merupakan bagian dari aktivitas dakwah. Modal
utamanya adalah kebenaran (al-Haq) yang bersumber dari ajaran Islam, bukan manipulasi.
Wujudnya bisa berupa perjuangan politik, seperti mengkritik penguasa ketika kebijakannya
bertentangan dengan syariah dll. Prosesnya dilakukan secara argumentatif dan edukatif, tanpa
buzzer-hoax. Syariah didakwahkan dan ditawarkan sebagai solusi kaffah terhadap berbagai problem
yang membelit negeri ini. Mulai dari problem akhlak, pendidikan, ekonomi, sosial, keamanan, hingga
problem politik. Inilah wujud kepedulian umat Islam pada negeri ini.

Kedua, hoax para buzzer jahat ini harus dilawan dengan melakukan kontrol dan counter opinion,
sehingga masyarakat bisa mendapatkan opini pembanding yang benar dan menenggelamkan
informasi dan opini yang menyesatkan.

Ketiga, mendesak Pemerintah untuk menghentikan aktivitas para buzzer jahat, serta menghukum
mereka yang telah melakukan kejahatan manipulasi informasi kepada publik, tanpa tebang pilih.

Wallahu a’lam bi showab.

Irianti Aminatun

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here