DEFINISI KONSTRUKTIF ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, October 12, 2019

DEFINISI KONSTRUKTIF ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI


® Hiro Sakan

Istilah "mabda' " dalam Bahasa Arab yang kemudian diadaptasikan dengan kata "ideologi" dalam Bahasa Indonesia, sesungguhnya mengandung makna yang lebih luas dari sekadar pemaknaan bahwa ideologi merupakan sekumpulan ide/konsep/gagasan yang muncul dari akal, sebagaimana argumen yang dibangun dari sekulerisme.

Sekiranya kata yang digunakan hanyalah "idiyuluji" yang merupakan kata resapan murni dari "ideologi", barangkali bolehlah dibatasi hanya sebagai ide-ide yang diproduk oleh akal. Namun tidak. Konsep "Islam sebagai Ideologi" menggunakan istilah "al-Mabda' ".

Al-Mabda’ menurut lughoh (Bahasa Arab) adalah suatu bentuk (shighat) mashdar “mimy” dari kata “bada’a”, “yabda’u”, wa “mabda’an”, yang artinya memulai. Adapun secara istilah umum: al mabda’ berarti pemikiran mendasar (asasi) yang di atasnya dibangun pemikiran lain, yang tidak didapatkan pemikiran apapun sebelumnya secara mutlak (artinya: pemikiran yang tidak pernah meniru/bersumber dari pemikiran lain alias menjiplak/plagiat, baik asas maupun bangunan cabang-cabangnya secara keseluruhan).

Lebih jauh lagi, ketika dijadikan istilah yang sesuai dengan fakta syar'i Dienul Islam, maka al-Mabda' ialah "aqîdah aqliyyah yanbatsiqu anhâ nizhâm" (aqidah/iman yang sampai melalui proses berfikir, yang melahirkan sistem atau aturan-aturan).

Melalui definisi ini, diperoleh 2 (dua) substansi mabda', yaitu (1) Aqidah Aqliyyah, (2) Peraturan yang terpancar.

Aqidah Aqliyyah musti berupa fikrah kulliyyah (pemikiran menyeluruh) atas segala objek yang mampu dipikirkan, terkait hubungannya dengan sebelum kehidupan, saat kehidupan, dan setelah kehidupan. Harus pula sampai melalui proses berpikir yang dapat diterima akal, agar tidak menjadi sembarang keyakinan. Peraturan yang terpancar juga otomatis harus mampu (capable) untuk menuntaskan seluruh problematika kehidupan secara khas, sesuai dengan Aqidah Aqliyyah.

Melihat dari hal di atas, sungguh Islam memiliki Aqidah Aqliyyah, juga memiliki Peraturan yang terpancar darinya secara khas. Islam memiliki kaidah halal-haram dalam menetapkan suatu hal. Konsekuensinya tidak hanya sekadar maslahah (kebermanfaatan), namun berimbas pada pahala dan dosa.

Inilah definisi konstruktif dalam memahami Islam sebagai Ideologi. Dienul Islam telah mencakup fakta Ideologi yang mampu menjadi pijakan berpikir dalam setiap peraturan yang dilahirkan.

Dengan demikian, tidak perlu diperdebatkan lagi apakah Islam Ideologi atau bukan, sementara dimensi praktis penerapan Islam secara faktual (di zaman Rasulullâh salallâhu 'alaihi wa sallâm & para sahabat radhiallâhu 'anhum) telah mencakup fakta Ideologi.

Kalau saya mengibaratkan, perdebatan sedemikian ibarat bersikukuh dalam membahas; "pistol bukanlah senjata jarak jauh, karena tidak menggunakan tenaga pegas (murni) layaknya panah, ketapel atau crossbow", sementara faktanya pistol dapat menimbulkan dampak pada target jarak jauh. Bukankah demikian?

Lebih jauh lagi, perdebatan seperti ini justru semakin menjauhkan kita dari kewajiban ber-tahkim (ber-hukum dalam memutuskan perkara) kepada Qur'an dan Sunnah.
Penundaan demi penundaan akan terus terjadi, sehingga kondisi umat semakin terpuruk dalam kelelahan, derita, & kemerosotan berpikirnya.

Padahal, kewajiban kita setelah ber-syahadah (bersaksi) bahwa "lâ ilâha illallâh" (tiada sesembahan selain Allâh) & "muhammad rasuulullâh" (Muhammad utusan Allâh), adalah tunduk (taslim). Tanda dari taslim adalah tahkim, atas segenap yang disyari'atkan.

Wallâhu a'lam wa ahkam..

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here