Demokrasi Manunggal dengan Jerat Kemiskinan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, October 29, 2019

Demokrasi Manunggal dengan Jerat Kemiskinan


dr. M. Amin (Direktur Poverty Care)

Hidup di dalam sistem demokrasi sangat mahal bagi masyarakat. Tidak terkecuali di Indonesia, negeri yang dianggap sebagai model demokratis terbaik dari negeri muslim. Realitas menunjukkan masih banyak Indonesia masih terbelenggu oleh kemiskinan.

Adapun komponen garis kemiskinan yang ditetapkan Badan Pusat Statistik ataupun Bank Dunia tidak bisa menjadi tolak ukur pengentasan kemiskinan. Ada hal-hal yang harus dipahami bahwa kemiskinan adalah penyakit sistemik dari demokrasi itu sendiri.

Ada banyak fenomena mengerikan menunjukkan kegagalan sistem demokrasi sekuler dalam memenuhi hak-hak ekonomi masyarakat, yang memaksa laki - laki dan perempuan untuk bermigrasi ribuan kilometer hanya demi mempertahankan standar dasar kehidupan. Demokrasi kapitalistik memiliki konsekuensi yang mahal dan kejam bagi rakyat. Apalagi kondisi ini justru melanda Indonesia, negeri yang dipandang oleh pemerintah AS sebagai negara yang paling berhasil melangsungkan demokratisasi di antara negeri-negeri muslim lainnya.

Sejumlah pemimpin Barat telah memuji Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar di dunia Muslim dan contoh bagaimana Islam dan demokrasi dapat dikombinasikan dengan baik, mereka menggambarkan "transformasi demokratis yang luar biasa" di Indonesia dan toleransi beragamanya yang mampu  berdiri sebagai contoh untuk negara berkembang lainnya. Ini tentu dilihat China dan AS yang memiliki kepentingan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai pasar untuk produk Amerika dan China juga sebagai sekutu dalam penyebaran ideologi mereka.

AS dan negara Barat lainnya memang memiliki misi untuk menyebarkan sistem demokrasi di seluruh dunia, mengklaim bahwa itu adalah sistem tertinggi yang digunakan untuk mengatur masyarakat secara efektif dan mengamankan kebutuhan masyarakat dan hak.

Namun ada kebohongan pemerintah Barat tentang demokrasi harus dibedakan dari realitas nyatanya. Pujian terhadap demokratisasi Indonesia jelas hanya propaganda ambisius dari agenda kapitalistik-sekuler mereka. Topeng manis demokrasi yang menutupi Indonesia tidak bisa menghapuskan ataupun menyembunyikan belenggu kemiskinan yang menimpa masyarakat Indonesia. Wajah sebenarnya dari demokrasi adalah sistem gagal yang tidak mampu untuk memelihara urusan umat manusia secara efektif. Apalagi di bawah gurita sistem politik yang berpihak untuk kepentingan elit politik, dan tidak berkutik di bawah disfungsi sistem ekonomi yang mengkonsentrasikan kekayaan negara di tangan segelintir orang dan memiskinkan sebagian besar rakyat.

Secara sistemik demokrasi melahirkan negara korporasi yang terbentuk dari simbiosis mutualisme elit politik dan pemilik modal yang tidak akan pernah berpihak pada rakyat. Sistem ini menjadikan uang atau modal sebagai panglima. Sebagai contohnya adalah lebih dari 80% migas Indonesia dikuasai perusahaan asing begitupun kekayaan alam Indonesia lainnya. Sementara angka kemiskinan terus meningkat, angka korupsi yang juga meningkat, kemudian juga konflik sosial di tengah-tengah masyarakat yang juga cenderung meningkat.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here