Fenomena Kongsi Mutung Ngambek, Meweks... O Yes! Inilah Demokrasi - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, October 27, 2019

Fenomena Kongsi Mutung Ngambek, Meweks... O Yes! Inilah Demokrasi


Mahfud Abdullah - Direktur Indonesia Change

Salah satu hasil reformasi yang dominan adalah eksekutif dan legislatif dipilih langsung oleh rakyat. Hal itu dianggap sebagai kemenangan bagi rakyat. Sebab rakyat dianggap bisa menentukan sendiri penguasa bagi mereka. Rakyat bisa memilih penguasa yang sesuai dengan keinginan mereka demi kemaslahatan mereka.

Harapannya rakyat bisa memilih penguasa yang paling memperhatikan kepentingan mereka dan karena dipilih rakyat maka penguasa itu akan memperhatikan nasib rakyat dan bekerja demi kemaslahatan rakyat, sebab penguasa itu merasa berutang budi kepada rakyat yang telah memilihnya. Itu asumsinya. Namun faktanya dianggap sebagian masyarakat jauh berbeda. Yang terjadi penguasa hanya sibuk bekerja demi kepentingannya sendiri, kepentingan kelompoknya, juga untuk membalas budi dari pihak yang mendanainya untuk memenangkan Pemilu.

Anggota dewan dan penguasa dianggap sebagian masyatakat bekerja demi kepentingannya masing-masing. Akibatnya terjadilah konflik kepentingan. Potensi terjadinya konflik itu makin besar jika masing-masing bernafsu untuk maju dalam Pemilu, pilkada, ataupun pileg berikutnya. Maka konflik kepentingan pun tak terhindarkan terjadi antar wakil rakyat. Tak jarang konflik itu sudah meluas kepada perpecahan di tubuh pemerintah di daerah sampai pusat. Pemerintahan pun berpotensi tidak berjalan semestinya. Bagaimana mungkin urusan pembangunan dan kemasyarakat akan bisa berjalan dengan baik jika antara petinggi negara selalu gontok-gontokan, saling berhadapan, saling memupuk rivalitas. Kompetisi serta rivalitas muncul karena sama-sama merasa mendapatkan dukungan langsung dari masyarakat.

Fakta pecah kongsi dalam pemerintahan kapitalistik menunjukkan beberapa hal: pertama, belum terjadi dan mungkin tidak akan terjadi, perubahan paradigma politik yang hanya berputar pada masalah kekuasaan. Hal itu terlihat jelas dari pecah kongsinya antar pendukung pemerintahan.

Selain itu juga tampak pada fakta dimana terjadi pertukaran posisi, sampai oligarkhi politik. Jika dia tidak maju maka isterinya, anaknya atau kerabatnya, atau temannya yang lain maju menggantikan posisinya. Dominannya nafsu kekuasaan itu juga tampak dari majunya Wakil Kepala Daerah incumbent dalam Pemilu Kada berhadap-hadapan dengan kepala daerah incumbent. Untuk itu pasangan mereka pun harus pecah kongsi. Jadi tampak jelas dominannya nafsu kekuasaan dalam proses tersebut.

Fakta - fakta ini makin menegaskan bahwa di dalam politik ala demokrasi itu paradigma politiknya adalah "tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan abadi". Siapa menjadi kawan dan siapa menjadi lawan ditentukan oleh ada tidaknya pertemuan kepentingan.

Jika kepentingan bisa bertemu maka saat ini menjadi kawan. Sebaliknya jika kepentingan tidak bisa bertemu atau bahkan berhadap-hadapan maka saat itu menjadi lawan satu sama lain.

Fakta ini menunjukkan bahwa dalam politik yang ada saat ini pragmatisme menjadi ideologi para politisi. Tolok ukur yang dipakai adalah manfaat. Itu artinya apapun akan dilakukan yang penting bisa merealisasi manfaat atau bisa mendatangkan keuntungan bagi para politisi. Jika pragmatisme itu menjadi ideologi penguasa, akibatnya kekuasaan yang ada di tangannya tidak dijadikan jalan pengabdian untuk kemaslahatan rakyat, tetapi justru digunakan untuk merealisasi kepentingannya sendiri, kelompok, donatur dan pemodalnya juga partainya. Rakyat dan kepentingan rakyat pada akhirnya hanya dijadikan alat, kedok dan justifikasi untuk membuat program, kegiatan dan kebijakan yang pada hakikatnya lebih untuk kepentingannya sendiri, pemodal, kelompok dan partainya.

Sebagian masyarakat sudah paham betul, setelah jabatan di tangan, janji tinggal janji dan slogan-slogan manis pun menguap tanpa bekas sejak hari pertama. Nama dan kepentingan rakyat diperalat demi kepentingan sendiri, parpol dan cukong yang mengongkosi.

Tidak cukup, jabatan, kekuasaan dan pengaruh pun diperalat untuk secepat mungkin balik modal, tambah kekayaan dan memupuk modal. Korupsi, kolusi, manipulasi, rekayasa proyek dan sejenisnya pun mengisi berita harian. Itulah fakta ibarat mendorong mobil mogok. Ketika mobil berhasil hidup, orang yang mendorong pun ditinggalkan dan hanya diberi asap. Seperti itulah nasib rakyat selama ini.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here