Hanya Sistem Islam Mampu Meredam Potensi Krisis Global 2020 Ataupun Setelahnya - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, October 16, 2019

Hanya Sistem Islam Mampu Meredam Potensi Krisis Global 2020 Ataupun Setelahnya



Taufik Setia P. (Geopolitical Institute)
Dunia dengan penerapan ekonomi kapitalis sebenarnya sedang menuju kehancuran. Tidak luput juga Negara AS sebagai barometer kapitalisme dunia saat ini. Ekonom Amerika, Todd Wood (dalam artikel koran Washington, Time US pada tahun 2015 pernah mengatakan, “Ekonomi Amerika Serikat berada di ambang kehancuran. Kondisi ekonomi Amerika saat ini benar-benar menjengkelkan, mulai dari utang luar negeri yang sudah mencapai 20 triliun dolar AS, ditambah lagi dengan kecepatan penambahan hutang yang semakin tinggi.”

Meski ekonomi global tengah menikmati pertumbuhan berkelanjutan, ekonomi pada akhirnya akan menurun karena kebijakan fiskal yang tidak berkelanjutan di AS. Tahun 2020 akan menjadi tahun penurunan. Tak seperti tahun 2008, pemerintah akan kekurangan alat kebijakan untuk mengelola krisis ini.

Dalam opini berjudul The Makings of a 2020 Recession and Financial Crisis di laman www.project-syndicate.org, Kamis (13/9), Nouriel Roubini dan Brunello Rosa mengungkapkan ada 10 alasan terjadinya krisis tahun 2020 atau dua tahun lagi. Krisis ini bisa terjadi menyusul ekspansi global yang masih berlanjut hingga tahun depan. AS masih memiliki defisit fiskal besar. 

Pasar saham AS dan global mendekati gelembung. Price to earning ratio (PER) di AS saat ini 50% lebih tinggi daripada rata-rata historis. Valuasi perusahaan-perusahaan private-equity pun menjadi berlebihan. Obligasi negara AS makin mahal meski imbal hasilnya mini.

Surat utang dengan imbal hasil tinggi juga menjadi semakin mahal karena tingkat rasio utang perusahaan-perusahaan mencapai level tertinggi. Terlebih lagi, rasio utang di berbagai negara emerging market dan negara lebih maju pun makin tinggi. Properti komersial dan residensial mahal di sebagian besar dunia. Koreksi di pasar saham emerging market, pasar komoditas, dan surat utang akan berlanjut hingga badai krisis global muncul.

Seiring dengan langkah investor untuk mengantisipasi perlambatan pertumbuhan pada 2020, pasar finansial akan menggeser aset berisiko pada tahun depan.

Dampak
Dampak krisis juga sangat dirasakan oleh negara-negara produsen minyak dunia seperti Arab Saudi, Venezuela, Iran, dan negara-negara Teluk lainnya. Pengaruh buruk resisi ekonomi ini terlihat jelas pada penurunan harga bahan bakar industri seperti minyak mentah dunia dan batubara; harga bahan baku industri seperti karet, penurunan harga emas, gangguan serius pada pasar modal, penurunan pertumbuhan ekonomi secara terus-menerus, PHK di mana-mana, tingkat pendapatan masyarakat menurun, dan harga kebutuhan pokok yang meningkat.

Krisis ekonomi global yang terus berulang kali terjadi adalah konsekuensi logis akibat penerapan sistem ekonomi kapitalis secara global di seluruh dunia. Sistem ekonomi Kapitalisme dibangun atas dasar kebebasan baik  kebebasan kepemilikan harta, kebebasan pengelolaan harta maupun kebebasan konsumsi. Asas kebebasan ini, menurut Thabib, 1) tidak layak, karena melanggar segala nilai moral dan spiritual. Bisnis prostitusi, misalnya, dianggap menguntungkan, meski jelas sangat melanggar nilai agama dan merusak institusi keluarga.

Kerusakan sistem ekonomi Kapitalisme juga dapat dilihat dari berbagai pola dan sistem untuk menopang kebebasan kepemilikan harta dan pengelolaannya yaitu: (1) Sistem perbankan dengan suku bunga (2) Berkembangnya sektor non-riil dalam perekonomian sehingga melahirkan institusi pasar modal dan perseroan terbatas; (3) Utang luar negeri yang menjadi tumpuan dalam pembiayaan pembangunan; (4) Penggunaan sistem moneter  yang diterapkan diseluruh dunia yang tidak disandarkan pada emas dan perak; (5) Privatisasi pengelolaan sumberdaya alam yang merupakan barang milik dan kebutuhan publik.

Penerapan prinsip-prinsip tersebut mengakibatkan kerusakan  dan kesengsaraan bagi umat manusia dalam bentuk kerusakan alam, kemiskinan serta kesenjangan ekonomi yang sangat lebar baik di antara individu di suatu negara maupun kesenjangan ekonomi antarnegara. Karena itulah tanda-tanda kerapuhan Kapitalisme semakin nyata terlihat. Harry Shutt2) dalam bukunya, Runtuhnya Kapitalisme, menyebutkan bahwa Kapitalisme kini sedang mengalami “gejala-gejala utama kegagalan secara sistemik”, yaitu semakin lesunya pertumbuhan ekonomi, semakin lebar kesenjangan dan bertambah terus orang-orang miskin serta semakin sering terjadi  krisis keuangan baik lokal maupun global. 

Sistem Islam
Kapitalisme memang sukses mengatasi the great depression tahun 1930, tahun 1960-an serta krisis-krisis berikutnya  yang terus berulang hampir tiap 10 tahun seperti tahun 1970-an, 1980-an, dan 1998. Namun demikian, itu tidak  menunjukkan bahwa ekonomi kapitalis yang diterapkan oleh Amerika dan negara-negara Barat merupakan sistem yang  tangguh dan teruji. Sukses mereka bersifat sementara; tidak lebih dari hasil tambal-sulam dan penjajahan yang merupakan sifat yang melekat dari sistem ekonomi kapitalis. Jika tidak melakukan tambal-sulam dan menjajah kekayaan kaum Muslim di negeri-negeri Islam, sungguh sistem ekonomi ini sudah lama hancur. Karena itu, untuk menghentikan penerapan sistem ekonomi kapitalis hanya bisa dilakukan jika muncul negara Khilafah yang menerapkan sistem ekonomi Islam.

Khilafah Islam dengan penerapan  sistem ekonomi Islam akan mampu menghentikan krisis ekonomi global yang sistemik serta memberikan jaminan kesejahteraan bagi umat manusia. Di antara prinsip dan paradigma ekonomi yang akan dilakukan Khilafah untuk mewujudkan hal tersebut adalah:
1.       Penerapan sistem ekonomi Islam
2.       Khilafah akan mengakhiri dominasi dolar dengan sistem moneter berbasis dinar dan dirham.
3.       Khilafah tidak akan mentolerir berkembang sektor non-riil atau sektor moneter yang menjadikan uang sebagai komoditas.
4.       Khilafah akan membenahi sistem pemilikan sesuai dengan syariah Islam.
5.       Khilafah akan mengelola sumberdaya alam secara adil.

Bukan Persoalan Kapan
Sejumlah ekonom dunia memperkirakan krisis global  yang diperkirakan tahun 2020  akan menimbulkan ledakan yang mengerikan atau the Great Depression yang menyebabkan runtuhnya negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan  Uni Eropa. Ekonom Rusia6), Alexander Aevazov, mengatakan bahwa dolar akan terus mengalami depresi. Pada awal tahun 2015 lalu, Dana Moneter Internasional juga telah memperingatkan risiko dari krisis ekonomi global yang baru ini. Ekonom Amerika (Rakadz) mengatakan, “Amerika memasuki periode ekonomi yang paling gelap dalam sejarahnya pada tahun 2015 yang lalu.”

Kita tidak bisa memperkirakan secara pasti kapan ekonomi kapitalis ini akan benar-benar runtuh. Namun, secara subjektif dalam pandangan Islam, sistem ekonomi kapitalis dengan pilar-pilarnya secara internal substansial memiliki pondasi yang rapuh. Akan tetapi, jika tidak ada kekuatan yang menggantikannya maka ekonomi kapitalis akan tetap terkesan kokoh dengan melakukan upaya tambal-sulam dan penjajahan yang semakin masif terhadap negeri-negeri Muslim. Karena itu hanya Khilafah yang akan mampu  mengubur sistem ekonomi kapitalis dan menggantikannya dengan sistem ekonomi Islam.

One Way
Pelaksanaan politik dalam negeri dan politik luar negeri  mengharuskan Khilafah menjadi negara yang kuat dari sisi militer sehingga mampu mencegah upaya negara-negara imperialis untuk menguasai wilayah Islam dan SDA yang terdapat di dalamnya.

Dengan demikian penguasaan dan penghelolaan SDA di tangan negara tidak hanya akan berkontribusi pada kemananan penyedian komoditas primer untuk keperluan pertahanan dan perekonomian Khilafah, tetapi juga menjadi sumber pemasukan negara yang melimpah pada pos harta milik umum. Karena itulah dalam sistem ekonomi Islam yang akan diterapkan oleh Khilafah, setiap warga negara baik Muslim maupun ahludz-dzimmah akan mendapatkan jaminan untuk mendapatkan kebutuhan pokok barang seperti sandang, pangan dan papan; juga kebutuhan pokok dalam bentuk jasa seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan secara murah bahkan bisa gratis.

Khilafah yang direpresentasikan oleh negeri negeri-negeri Muslim saat ini memilik sumberdaya alam yang luar biasa melimpahnya. Menurut Abu Abdullah 4) dalam bukunya, Emerging World Order The Islamic Khilafah State, Khilafah masa depan   memiliki atau menguasai 72% cadangan minyak bumi di antaranya di Arab Saudi 19,47%, Iran 9,88%, Irak 8,34% dan sisanya di negeri-negeri Muslim yang lain. Dari sisi produksi, pada tahun 2009 Dunia Islam menguasai 48,15% dari produksi minyak  dunia. Gas memiliki cadangan 107,75 triliun meter kubik atau 61,45% total deposit gas dunia. Uranium memiliki 22,6% deposit uranium dunia. Bijih besi memiliki 17,23% cadangan  dunia.

Sumber Daya Alam (SDA) merupakan faktor penting bagi kehidupan umat manusia, yang saat ini dikuasai oleh negara-negara penjajah baik secara langsung maupun melalui korporasi-korporasi mereka. Karena itu untuk mengembalikan kedaulatan umat atas kekayaan SDA yang mereka miliki harus ditempuh dengan menegakkan kembali Khilafah. Karena itu pula, kalau saat ini ada penolakan terhadap penegakan negara Khilafah dan kriminalisasi ide khilafah yang dilakukan oleh rezim-rezim negeri negeri Islam, bisa diduga kuat  bahwa di belakang mereka adalah para kapitalis dan negara-negara penjajah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here