Ijma' Shahabat Atas Wajibnya Mengangkat Seorang Khalifah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, October 18, 2019

Ijma' Shahabat Atas Wajibnya Mengangkat Seorang Khalifah


Abu Inas (Tabayyun Center) 

Khilafah merupakan kepemimpinan umum untuk kaum Muslim seluruhnya di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islami dan mengemban dakwah islamiyah ke seluruh dunia. Meski demikian, jangka waktu yang diperbolehkan oleh syara’ untuk kita tanpa seorang khalifah adalah tiga hari tiga malam, tidak lebih.

Hanya saja kita masih terus sejak hampir satu abad lalu diperintah di bawah sekulerisme dengan hukum-hukum positif buatan manusia yang terpancar dari hukum-hukum Belanda, Perancis, Inggris, AS dan akal manusia. Sementara hukum-hukum Allah dijauhkan sejauh-jauhnya dari penerapan di realita kehidupan.

Sesungguhnya penegakan seorang khalifah merupakan fardhu bagi kaum Muslim seluruhnya di seluruh penjuru dunia. Melaksanakannya adalah wajib, tidak ada pilihan di dalamnya dan tidak ada toleransi tentangnya.

Penelantaran di dalamnya termasuk kemaksiatan paling besar. Allah akan mengazabnya dengan azab yang sangat pedih sebagaimana penelantaran kewajiban shalat, zakat dan lainnya. Dan ini merupakan kewajiban yang paling agung bahkan merupakan mahkota kewajiban (taaju al-furuudh).

Dan dalil-dalil atas kewajiban penegakan al-Khilafah tersebar di dalam al-Kitab, as-Sunnah dan Ijmak Sahabat.

Adapun dari al-Kitab, di antaranya adalah firman Allah SWT menyeru Rasul-Nya saw:

﴿فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ﴾

"maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu" (TQS al-Maidah [5]: 48).

Dan firman Allah SWT:

﴿وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ﴾

"dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu" (TQS al-Maidah [5]: 49).

Adapun dalil dari as-Sunnah, apa yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari jalur Nafi', ia berkata: "Ibnu Umar berkata kepadaku: "aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

«مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ، لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»

"Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan niscaya dia menjumpai Allah pada Hari Kiamat tidak memiliki hujjah. Dan siapa saja yang mati sementara di pundaknya tidak ada baiat maka dia mati seperti kematian jahiliyah".

Jadi Nabi saw mewajibkan atas setiap orang Muslim agar di pundaknya ada baiat. Dan Beliau mensifati orang yang mati dan di pundaknya tidak ada baiat bahwa dia mati seperti kematian jahiliyah.  Dan adanya seorang khalifah adalah yang membuat di pundak setiap orang Muslim ada baiat, di mana baiat itu tidak ada kecuali untuk khalifah.  Demikian juga apa yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari al-A'raj dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw. beliau bersabda:

«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ، يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ، وَيُتَّقَى بِهِ»

"Tiada lain seorang imam itu laksana perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya".

Adapun ijmak sahabat, maka para sahabat ridhwanullah 'alayhim, mereka telah sepakat atas keharusan penegakan khalifah untuk Rasulullah saw setelah wafat Beliau. Mereka telah berijmak atas penegakan khalifah untuk Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian untuk Utsman setelah kematian masing-masing dari mereka. Tampak penegasan ijmak sahabat atas penegakan khalifah dari penundaan mereka mengebumikan Rasulullah saw setelah wafat beliau, dan kesibukan mereka mengangkat khalifah untuk beliau, padahal mengebumikan mayit pasca kematiannya adalah fardhu. Keagungan kewajiban penegakan khalifah itulah yang membuat para sahabat membiarkan jenazah Rasulullah saw terbaring di pembaringan beliau dua malam penuh, mereka menyibukkan diri dengan kewajiban penegakan khalifah untuk menggantikan beliau.

Para sahabat semuanya berijmak sepanjang kehidupan mereka atas wajibnya mengangkat seorang khalifah, meski mereka berbeda pendapat tentang person yang dipilih sebagai khalifah. Mereka tidak berbeda pendapat sama sekali atas penegakan seorang khalifah, baik pada saat wafatnya Rasulullah, pada saat wafatnya khalifah di antara khulafaur rasyidin. Sampai-sampai bahwa Umar ra ketika menjelang wafatnya karena tikaman, beliau mencalonkan enam orang sahabat senior, mereka adalah Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair, Abdurrahman bin 'Awf dan Sa'ad bin Abiy Waqash. Umar ra mewasiatkan bahwa jika mereka tidak sepakat atas seorang khalifah pada tiga hari agar orang yang menyelisihi dibunuh. Dan Umar mewakilkan hal itu yakni pembunuhan orang yang menyelisihi, kepada lima puluh orang dari kaum Muslim yang dipimpin oleh Abu Thalhah al-Anshari.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here