Imarah al Mukminin, Itulah Khilafah, Sodara… - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, October 16, 2019

Imarah al Mukminin, Itulah Khilafah, Sodara…



Abu Inas (Tabayyun Center)
Baginda Nabi Muhammad saw. pernah bersabda (yang artinya): Siapa saja yang mati, sementara di pundaknya tidak ada baiat (kepada Khalifah), maka matinya adalah mati Jahiliah (HR Muslim).

Beliau juga bersabda (yang artinya): Siapa saja yang telah membaiat seorang imam (khalifah), lalu mengulurkan tangan kepadanya dan menyerahkan buah hatinya, hendaklah ia menaatinya semampu dia. Jika ada orang lain yang hendak merebut kekuasaan dari tangan imam/khalifah tersebut, bunuhlah! (HR Abu Dawud dan Muslim).

Dua sabda Baginda Nabi saw. di atas, di samping sejumlah sabda Beliau yang senada, sesungguhnya menggambarkan betapa agungnya kedudukan Khilafah dalam pandangan Islam. Nabi saw. sampai mengaitkan kematian orang yang tidak berusaha membaiat Khalifah/menegakkan Khilafah selama hidupnya dengan sifat jahiliah. Beliau pun sampai memerintahkan umatnya untuk membunuh siapa saja yang ingin merebut kekuasaan Khalifah yang sah.

Demikian penting dan agungnya Khilafah, bahkan kewajiban menegakkannya (membaiat Khalifah) paling layak didahulukan ketika berbenturan dengan kewajiban kifayah lainnya. Para Sahabat ridwânullâh ‘alayhim—yang notabene generasi yang paling paham agama ini, karena merekalah murid langsung Baginda Rasulullah saw.—telah mencontohkan demikian. Saat Baginda Nabi saw. wafat, mereka justru menunda penguburan jenazah Beliau hingga tiga hari dua malam dan lebih mendahulukan upaya pemilihan sekaligus pembaiatan seorang khalifah pengganti Beliau dalam urusan pemerintahan. Setelah Abu Bakar terpilih dan dibaiat sebagai khalifah, barulah mereka menguburkan jenazah Rasulullah saw.

Khilafah, Imamah al-‘Uzhma, atau Imarah al-Mukminin semuanya memberikan makna yang satu (sama) dan menunjukkan tugas yang juga satu (sama), yaitu kekuasaan tertinggi bagi kaum Muslim.  (Lihat: Muslim al-Yusuf, Dawlah al-Khilâfah ar-Râsyidah wa al-‘Alaqât ad-Dawliyah, hlm 23; Wahbah a-Zuhaili, Al-Fiqh a-Islâm wa Adillatuhu, VIII/270).

Mari kita lihat juga pendapat serupa dari Imam Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah hlm. 190:
Telah kami jelaskan hakikat kedudukan ini (khalifah) dan bahwa ia adalah wakil dari Pemilik Syariah (Rasulullah saw.) dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama. (Kedudukan ini) dinamakan Khilafah dan Imamah dan orang yang melaksanakannya (dinamakan) khalifah dan imam. (Lihat Ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhma ‘Inda Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ‘ah, hlm. 34).

Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu (VIII/418) menyatakan pendapat serupa:
Khilafah (atau Imamah atau Imarah al-Mukminin) atau yang berarti sistem berdasarkan musyawarah yang menghimpun kemaslahatan dunia dan akhirat, semuanya mempunyai pengertian yang sama. (Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, VIII/418).

Dhiyauddin ar-Rays dalam kitabnya, An-Nazhariyât as-Siyâsiyah al-Islâmiyyah hlm. 92 juga mengatakan:
Patut diperhatikan bahwa Khilafah, Imamah al-Kubra, dan Imarah al-Mu’minin adalah istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama. (Lihat Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, VIII/465).

Semua kutipan ulama di atas menyatakan bahwa istilah Imamah dan Khilafah (juga Imaratul Mukminin) maknanya sama, tidak berbeda.
Kutipan-kutipan yang menunjukkan kesamaan makna Khilafah dan Imamah itu masih banyak sekali. Silakan cek pendapat yang sama dari: Rasyid Ridha dalam kitabnya, Al-Khilâfah aw al-Imâmah al-‘Uzhma, hlm. 101; Prof. Dr. Ali as-Salus dalam kitabnya, ‘Aqîdah al-Imâmah ‘Inda asy-Syî‘ah al-Itsnâ ‘Asyariyah (terj.) hlm. 16; Zainal Abidin Ahmad dalam bukunya, Membentuk Negara Islam, hlm. 30; dan Hasbi ash-Shiddieqy dalam bukunya, Islam dan Politik Bernegara, hlm. 42-43.

Khilafah bukanlah sistem pemerintahan despotik (zalim) atau otokrasi yang tak terkendali. Dalam Khilafah, syariah Islam menjadi dasarnya. Karena itu ada persetujuan diberikan kepada penguasa selama penguasa menerapkan hukum Islam. Jika dia menyimpang dari penerapan ini, dia tidak lagi ditaati. Inilah dasar teori baiat dalam pemerintahan Islam. Ada sebuah bab yang ditulis oleh sarjana Amerika terkenal yang mempelajari Islam, Bernard Lewis, yang menyatakan secara penuh, “Baiat itu dengan demikian dipahami sebagai suatu kontrak di mana subjek melakukan ketaatan dan sebagai gantinya Khalifah kembali melakukan tugas tertentu yang ditetapkan oleh para hakim.  Jika Khalifah gagal dalam tugas-tugas itu—dan  sejarah Islam menunjukkan bahwa hal ini tidak berarti murni teoretis—maka dia dapat, sesuai dengan kondisi tertentu, diberhentikan dari jabatannya.”

Ajaran ini menandai salah satu perbedaan penting antara Pemerintahan Islam dan pemerintahan otokrasi. Penguasa Islam tidak kebal hukum. Dia tunduk pada hukum. Tidak beda dengan orang-orang paling rendah di bawah kekuasaanya.

Namun, hari ini umat Islam mendapatkan tantangan keras dari Barat dan para penguasa antek. Mereka melakukan upaya terstruktur, massif dan brutal dalam usaha menakut-nakuti umat dengan Khilafah. Khilafah dituding sebagai ajaran yang buruk dan harus dimusuhi. Padahal jika Khilafah tegak di tengah-tengah umat Islam, niscaya akan banyak yang bisa dilakukan oleh Khilafah untuk membangun kejayaan Islam dan kaum Muslim.

Tegaknya Khilafah bukanlah fantasi. Justru itu merupakan sesuatu yang mungkin dan praktis. Dengan demikian umat Islam harus menjadikan isu penegakan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah sebagai isu utama dan pertama. Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian… (TQS al-Anfâl [8] : 24).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here