Ironi Oposisi dan Bagi-bagi Kursi - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, October 25, 2019

Ironi Oposisi dan Bagi-bagi Kursi




Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
(Koordinator LENTERA)

Indonesia berbenah. Didahului penetapan para pejabat parlemen beberapa waktu sebelumnya, kini pelantikan kepala negara beserta jajarannya tuntas sudah. Sembari jalan, pemerintah mulai memproyeksi jabatan-jabatan turunan, seperti wakil menteri dan aparatur kementerian maupun instansi lainnya. Tak ayal, suasana politik ibu pertiwi pun ibarat sedang menghijau. Dan demi semakin memberikan kesan segar, untuk periode kedua ini, Pak Presiden menamai kabinetnya Kabinet Indonesia Maju.

Sehari setelah pelantikan para menteri dan pejabat setingkat menteri, Kamis (24/10/2019), sidang pertama kabinet digelar di Istana Merdeka, Jakarta Pusat.

Diwarnai banyak kontra terkait penunjukan para menteri, nyatanya Pak Presiden masih nyantai saja. Diantara yang paling heboh adalah ketika ada menteri yang berasal dari kubu oposisi. Terlebih, sang oposisi ditempatkan di kementerian strategis. Bikin makin ngiler yang tidak kebagian jatah.

Belum lagi, isu radikalisme dan Islam Nusantara masih pekat menyelimuti jalan maju gerbong kabinet. Menag, Menhan, Mendikbud-Dikti, Mendagri, Men-PAN RB, Kapolri baru, semua punya PR yang sama; yakni berantas radikalisme. Radikalisme agama, radikalisme ide/wacana tentang sistem pemerintahan, ASN radikal, dosen radikal, mahasiswa radikal, kampus/sekolah radikal, ulama/ustadz/mubaligh radikal, guru dan murid radikal, pesantren radikal, dst; pemerintah seperti sedang memusuhi rakyatnya sendiri atas nama radikalisme.

Yang model begini justru menguatkan ciri rezim diktator. Jika rakyat berani mengkritik, langsung tangkap, tanpa klarifikasi atau pun persidangan. Semua kebijakan ibarat hukum rimba. Rakyat hanya wajib patuh, dilarang mengkritik. Jika ada yang protes, rakyat bakal dibabat tanpa ampun. Benar-benar mulkan jabariyan!

Tapi, apa iya Indonesia sungguh akan maju jika radikalisme diberantas, sementara Islam Nusantara di-anak-emas?

Sementara di sisi lain, arus liberalisme justru di-kulturisasi secara sistemik. Kemenristek yang bernafas ekonomi, sungguh menyuburkan kapitalisasi dan liberalisasi intelektual. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan diposisikan sebagai komoditi ekonomi. Selanjutnya, ada Kemenparekraf yang realitanya berperan memfasilitasi kebebasan berekspresi. Bahkan sudah menjadi rahasia umum, bahwa pariwisata adaah salah satu sektor utama penghasil devisa negara. BUMN juga diserahkan kepada menteri berlatar belakang pengusaha swasta. Ini jelas celah lebar untuk mengalihfungsikan sistem dan kinerja instansi, yang tadinya untuk kepentingan rakyat, menjadi harus ramah pada investasi. Jadi mana instansi negara yang bervisi-misi besar untuk menuju negara mandiri dan terdepan? Unfortunately it seems no one.

Yang ada dalam pikiran pejabat lagi-lagi berantas radikalisme dan habisi radikalisme. Jika sudah mentok, isunya digiring ke arah menghancurkan paham Khilafah dan ISIS. Seolah-olah, menjadi aktivis dakwah Islam kaffah itu begitu hina di hadapan rezim. Dan nampaknya pula, radikalisme sudah menjadi hantu abadi bagi rezim, sehingga dianggap layak dibasmi habis.

Sekali lagi, mari kita cermati, Kabinet Indonesia Maju, ingin maju ke mana? Hendak maju dalam aspek apa? Dan mau memajukan siapa? Bagaimana hendak maju jika pemerintah saja begitu paranoia kepada rakyatnya sendiri. Komposisi kabinet toh sudah jelas berwujud bagi-bagi kursi. Bahkan kubu oposisi pun tak tahan dengan iming-iming itu, hingga turut mengais-ngais jatah kursi. Yang lebih ironi, ketika ada sejumlah parpol pendukung kubu petahana yang mendadak jadi oposisi setelah tidak kebagian jatah menteri maupun wakil menteri.

Karena itu, wahai umat, tetaplah berjuang. Rezim periode kedua tak ubahnya yang pertama. Sistem demokrasi hanya pasti mengakomodir kepentingan abadi, di mana sekularisasi adalah nyawa diri. Yakinilah bahwa tak pernah ada ruang untuk kemashlahatan umat Islam dalam sebuah tata kehidupan sekular. Yang ada, umat Islam justru selalu menjadi tumbal. Kubu oposisi yang tadinya didukung dengan korbanan darah, air mata, bahkan nyawa umat Islam, nyatanya merapat pada rezim tanpa sedikit pun pernah merasa menjadi oposisi. Ini sungguh ironi, benar-benar ironi.

Karena itu wahai umat, mari rapatkan barisan. Istiqomah berjuang dan bersuara demi Islam. Gentingnya suasana politik akibat pekatnya kezhaliman sungguh ibarat kian gelapnya malam. Saat malam telah mencapai anti klimaksnya, maka itulah pertanda fajar kemenangan. Mari tetap berpegang teguh kepada bisyarah Rasulullah ﷺ. Bahwa setelah masa mulkan jabariyan itu, akan kembali tegak Khilafah 'ala minhajin nubuwwah ats-tsaniyah. In syaa Allah.


No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here