Kami Ingatkan, Moral dalam Kapitalisme Mati Sejak Kelahirannya! - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, October 16, 2019

Kami Ingatkan, Moral dalam Kapitalisme Mati Sejak Kelahirannya!



Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)
Kapitalisme adalah sistem yang muncul hasil dari pemisahan gereja dan negara di Eropa dan kemudian di Amerika Serikat. Sistem ini mengakui kebebasan absolut manusia untuk memiliki dan menjual aset apapun dan untuk membuat undang-undang dan hukum yang antara lain mengatur kepemilikan itu. Kapitalisme seperti ini muncul sebagai sistem yang berporos pada kepemilikan pribadi; individu boleh memiliki jenis atau kekayaan apapun dan untuk meningkatkan kekayaan mereka dengan segala cara atau bentuk yang tersedia. Pembatasan apapun bagi kepemilikan atau pengembangan lebih jauh atas kekayaan/kesejahteraan itu adalah penyimpangan dari aturan itu. Dalam jangka waktu lama, Kapitalisme berhasil membuat dua bentuk ekonomi: ekonomi riil dan ekonomi non-riil. Ekonomi non-riil memungkinkan kekayaan uang untuk tumbuh secara bebas dari pertumbuhan ekonomi riil di lapangan.

Kapitalisme sangat bergantung pada prinsip “kelangkaan relatif” yang menunjukkan bahwa sumber daya yang tersedia di pasar tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang yang menginginkan sumberdaya tersebut. Namun kenyataannya, dunia memiliki sumberdaya yang jauh lebih banyak daripada yang dapat dikonsumsi orang pada waktu tertentu. Hal ini jelas terlihat pada angka yang menunjukkan peningkatan berkelanjutan atas kekayaan negara-negara, sementara kemiskinan juga terus meningkat. Dengan kata lain, rusaknya distribusi sumberdayalah yang menyebabkan kemiskinan, dan bukan kelangkaan sumberdaya itu sendiri yang jadi penyebabnya.

Prinsip lain yang juga telah rusak adalah prinsip kepemilikan pribadi. Di seluruh dunia, di Amerika maupun di Eropa, pemerintah negara-negara itu bergegas untuk menasionalisasi dan mengubah perusahaan-perusahaan milik swasta menjadi milik pemerintah dan milik publik. Bank-bank, perusahaan-perusahaan raksasa asuransi, industri-industri otomotif dan lembaga-lembaga keuangan lainnya dialihkan menjadi milik pemerintah dalam konteks “terlalu besar untuk gagal”. Itu artinya bahwa kepemilikan swasta saja tidak dapat mempertahankan ekonomi, terutama ketika ukuran ekonomi tumbuh besar.

Satu bab pada buku itu mencurahkan perhatian mengenai papan skor kinerja Kapitalisme. Papan skor itu menunjukkan betapa buruknya kinerja Kapitalisme dalam beberapa dekade terakhir meskipun terjadi peningkatan luar biasa dalam hal kekayaan dan produksi. Papan skor itu menjadi bukti atas kenaikan angka kemiskinan, tak terjaminnya kesehatan dan menyebarnya penyakit-penyakit menular, perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, dan pembusukan infrastruktur pendidikan.

Sebagian elit politisi masih percaya dan berharap akan sistem ini. Maka kami ingatkan, moral dalam Kapitalisme hanyalah ilusi. Kenyataannya, selama kita masih hidup dalam pelukan sistem Kapitalisme yang menaungi seluruh aspek kehidupan, telah terjadi kehilangan kesadaran secara kolektif akibat distorsi kesadaran individu untuk memahami kenyataan. Distorsi kesadaran masyarakat muncul pada individu-individu secara kolektif dalam masyarakat yang tidak mampu menemukan jawaban dan celah untuk memahami kenyataan yang sesungguhnya. Telah terjadi perampasan hak secara massif sejak berlakunya sistem Kapitalisme sekular. Proses penghilangan kesadaran ini melibatkan hegemoni kekuasaan kelas yang kuat. Kesenjangan sosial direproduksi untuk mempertahankan kenyataan hilangnya kesadaran individu-masyarakat. Perampasan terjadi secara legitimated berpijak di atas logika-moral pasar yang selama ini telah menjadi kesadaran kolektif masyarakat untuk memahamai tentang nilai.

Masyarakat telah dibutakan oleh kesadaran moral yang telah diciptakan oleh kekuatan pasar yang melibatkan kekuasaan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dalam sistem Kapitalisme, kita tidak akan menemukan arti dari altruisme dalam pasar. Yang ada hanyalah kepentingan yang terlembagakan.

Inilah realitas pasar yang kita hadapi. Menciptakan kasadaran-kesadaran ilutif. Menjauhkan manusia dari kenyataan sejati. Ada realitas pengkondisian sistemik dan sistematik yang terjadi dalam masyarakat yang melibatkan semua perangkat struktural kekuasaan baik politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Dalam artian, persoalan ketidakadilan yang terjadi adalah ketidakadilan struktural yang massif. Lalu kita ‘dipaksa’ untuk saling merampas satu sama lain. Inilah Kapitalisme yang hadir. Tidak hanya menghisap hak komunal kita, tetapi juga menghisap kesadaran kita secara kolektif dan massif.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here