Kapitalisme, Media Sosial dan Eksploitasi Konsumerisme Generasi Milenial - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, October 12, 2019

Kapitalisme, Media Sosial dan Eksploitasi Konsumerisme Generasi Milenial


Lalang Darma B. (Praktisi media)

di negara sekuler, keberadaan media seperti di negara ini adalah perwujudan dari HAM serta manifestasi dari kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi. Karenanya konten media massa tidak dibatasi dengan tegas serta tidak ada yang memberi pengarahan penggunaan dengan sistematis.

Akibatnya, media cukup banyak menyebarkan informasi sampah dan membangun persepsi dan pemahaman yang justru merusak. Bahkan saat ini media massa menjadi salah satu faktor pengancam generasi. Konten-konten porno bertebaran dan menjadi komoditas menguntungkan segelintir pihak. Dalam masyarakat kapitalis sekuler, seks dianggap hal yang harus selalu dihadirkan di tengah kehidupan. Wajar masyarakatnya dipenuhi perselingkuhan, zina, kekerasan seksual, dan kebejatan moral. Keluarga hancur dan masa depan generasi terancam.

Individu juga bisa berpotensi memanfaatkan media sosial untuk tujuan serupa; kesenangan syahwat, mengejar popularitas bermodal mengumbar kecantikan fisik. Lihatlah, apa yang bisa kita harapkan dari generasi ala Awkarin. Terkait langsung dengan ketahanan keluarga, lembaga konsultan perkawinan AS menyebut 80% perkawinan di AS berakhir dengan perceraian karena pemicu media sosial. Di Indonesia, trend nya menuju ke arah sama, menjadikan media sosial juga bisa merusak ketahanan keluarga.

Dalam perspektif budaya konsumerisme, anak muda melalui sosial media tidaklah terjadi secara alami, tetapi ini adalah gejala global akibat dari apa yang disebut dengan arus ekonomi digital yang digerakkan oleh raksasa-raksasa Kapitalis. Generasi muda sekarang yang lahir tumbuh dalam lingkungan serba digital – telah dijadikan sebagai pasar yang sangat besar bagi perdagangan online atau e-commerce.

Dengan statistik pengguna internet di dunia sebesar 3,249 miliar dan pengguna sosial media sebanyak 2,317 miliar (We Are Social Singapore, 2015) dan ini didominasi oleh kaum muda meniscayakan transaksi perdagangan bebas secara masif tidak hanya terjadi secara langsung tetapi juga secara online melalui media sosial. Maka wajar saja awal tahun 2019 ini perusahaan teknologi AS mendominasi peringkat perusahaan terbesar di dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya. Facebook bahkan telah menyalip posisi raksasa minyak Exxon Mobil menjadi perusahaan keempat yang paling berharga di dunia dengan kapitalisasi pasar senilai US $ 330 miliar. Menurut riset Bloomberg, keempat raksasa teknologi dalam daftar teratas berdasarkan kapitalisasi pasar adalah: Alphabet (Google), Apple, Microsoft, dan Facebook.

Tidak bisa dipungkiri bahwa simbiosis antara perusahaan sosial media, industri hiburan, dengan rezim-rezim perdagangan bebas untuk menarget kaum muda sebagai konsumen mereka. Akibat simbiosis ini ruang media sosial yang sebelumnya hanya menjadi arena komunikasi dan jejaring pertemanan virtual saat ini telah berubah menjadi arena industri gaya hidup serta jual beli berbagai kebutuhan baik barang maupun jasa. Arus perdagangan digital ini jelas akan memperlakukan generasi muda Muslim tidak lebih seperti mesin ekonomi penghasil uang, melumpuhkan saraf berfikir dan idealisme mereka dan membuat mereka menjauh dari agama mereka. Ditambah dengan dominasi nilai-nilai Kapitalisme di masyarakat yang konsisten menempatkan keuntungan materi di atas nilai-nilai agama dan kemanusiaan sehingga membentuk gaya hidup materialistik, hedonis dan konsumtif. Arus ini juga bersimbiosis dengan program deradikalisasi intensif yang fokus pada anak-anak dan kaum muda Muslim ditambah sekularisasi kurikulum pendidikan dan sekolah, regulasi madrasah serta budaya liberal yang mengagung-agungkan budaya Barat sekaligus mengikis nilai-nilai Islam.

Krisis identitas dan krisis iman akhirnya ditumbuhkembangkan diantara banyak anak muda Muslim, menjadikan mereka terpikat dengan gaya hidup dan sistem liberal Barat sehingga membentuk pikiran, kecenderungan, aspirasi, dan kesetiaan mereka di atasnya. Kita ketahui Barat selalu ingin merebut keberpihakan pemuda Muslim, jikapun mereka gagal setidaknya mereka telah melumpuhkan idealisme kaum Muda hingga membuang waktu dan masa muda mereka dengan banyak hal yang merusak.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here