Koalisi Hoyag - Hayig - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, October 27, 2019

Koalisi Hoyag - Hayig


Romadhon - LARAS (Lingkaran Analisis)

Di suatu negara demokrasi sekuler tampaknya ada semacam kesepakatan para elit partai bahwa koalisi tidak dibangun atas dasar ideologi partai. Koalisi pun terjadi antara partai yang menamakan diri partai Islam dan partai sekuler.

Landasan koalisi hanya didasarkan pada persamaan platform, sekalipun fakta menunjukkan bahwa yang dominan justru kepentingan sesaat. Platform yang dijadikan kesepakatan adalah sama-sama mengembangkan demokrasi dan membentuk pemerintahan yang kuat untuk mengokohkan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan. Tidak disebut-sebut dalam kesepakatan itu berjuang bersama untuk menegakkan hukum Allah (syariah Islam).

Muncul pertanyaan, bolehkah berkoalisi dalam rangka mewujudkan platform demokrasi sekular tersebut?

Inti dari demokrasi adalah kedaulatan ada di tangan rakyat. Pembuatan berbagai perundang-undangan diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah. Artinya, pihak yang memiliki otoritas untuk menghalalkan dan mengharamkan sesuatu, menyatakan apakah sesuatu itu terpuji dan tercela, menetapkan mana yang harus ada dan mana yang harus tidak ada di tengah masyarakat adalah para wakil rakyat di Parlemen dan di pemerintahan.

Koalisi partai Islam dengan partai sekular adalah koalisi untuk mengokohkan keberadaan hukum di tangan manusia. Padahal pihak yang memiliki otoritas untuk menentukan hukum hanyalah Allah Swt. Tegas sekali firman Allah Swt.:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Allah Swt. juga berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ

Kewenangan membuat hukum itu ada pada Allah (QS Yusuf [12]: 40).

Koalisi seperti ini merupakan aktivitas yang diharamkan oleh Islam. Bahkan Islam telah menganggapnya sebagai masalah penuhanan (rubûbiyyah). Allah SWT menegaskan:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ

Mereka menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan selain Allah; mereka juga mempertuhankan Al-Masih putra Maryam (QS at-Taubah [9]: 31).

Terkait dengan masalah ini, Imam Ibnu Katsir menceritakan bahwa Adi bin Hatim pernah datang ke Madinah menemui Rasulullah saw. Saat itu Adi mengenakan kalung salib perak. Melihat hal tersebut, Nabi Muhammad saw. membaca ayat di atas (yang artinya): Mereka menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan selain Allah (QS at-Taubah [9]: 31). Adi pun berkomentar, “Sungguh, mereka tidak menyembah para rahib itu.” Rasulullah menyanggah, “Ya. Mereka menyembah para rahib. Para rahib itu telah menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Lalu mereka mengikuti para rahib itu. Begitulah, mereka menyembah para rahib mereka.” Lalu beliau mengajak Adi untuk masuk Islam dan dia pun menyambut ajakan Nabi saw. dengan mengucapkan kalimat syahadat.

Islam juga telah menganggap koalisi seperti dikemukakan di atas sebagai bentuk pengokohan berhukum pada hukum selain Allah SWT, yang justru kaum Muslim telah diperintahkan agar mengingkarinya sebagaimana penegasan ayat al-Quran:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah mengimani apa saja yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada hawa thoghut. Padahal mereka telah diperintah untuk mengingkarinya. Setan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya (QS an-Nisa'  [4]: 60).

Dalam realitasnya, koalisi tidak lagi memperhatikan ideologi partai, apakah Islam atau sekular. Inti dari koalisi adalah kompromi. Akhirnya, kompromi pun tidak lagi memperhatikan ideologi partai. Bahkan sering ideologi partai dikorbankan; diganti oleh pragmatisme dan kepentingan sesaat.

Suatu hal yang tidak dapat dihindari dari setiap kompromi adalah saling mengorbankan sebagian keyakinan dan kepentingan sendiri dengan menerima sebagian keyakinan dan kepentingan mitra koalisi. Celakanya, kompromi dalam koalisi justru terjadi antara hukum Islam dan hukum sekular, mencampurkan yang halal dengan yang haram, perkara haq dengan perkara batil. Tidak jarang, partai Islam tidak berani sekalipun hanya sekadar menyebut syariah Islam. Hal ini bertentangan dengan firman Allah SWT:

وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kalian menyembunyikan kebenaran itu, sementara kalian mengetahuinya (QS al-Baqarah [2]: 42).

Adh-Dhahak memaknai ayat itu dengan menyatakan, "Janganlah kamu mencampurkan haq dengan batil, kebenaran dengan kedustaan."

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here