Labbaik, Labbaik Ya Allah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, October 16, 2019

Labbaik, Labbaik Ya Allah


dr. M. Amin (direktur Poverty Care) 

Hidup di dunia ini cuma sekali. Mari kita ukir jalan hidup kita dengan takwa diselingi evaluasi (muhasabah) untuk semakin meneguhkan ketakwaan tersebut. Firman Allah SWT:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan (TQS al-Hasyr [59]:18).

Ahli tafsir ternama, Imam Ibnu Katsir memaknai ayat tersebut: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah! Ini adalah perintah untuk bertakwa kepada-Nya, yang mencakup melakukan apapun yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apapun yang dilarang oleh Dia. Adapun perintah 'Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok' artinya adalah, 'Hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab. Lihatlah amal-amal shalih apa yang telah kalian lakukan untuk menyongsong hari yang telah dijanjikan kepada kalian dan hari saat kalian kembali kepada Rabb kalian. Bertakwalah kepada Allah. Ini merupakan penegasan kedua untuk bertakwa. 'Sesungguhnya Allah Mahateliti atas apa yang kalian lakukan' maknanya adalah, 'Ketahuilah sesungguhnya Dia Mahatahu atas semua perbuatan kalian dan keadaan kalian.' Tidak ada secuil pun yang tersembunyi bagi Allah. Tidak ada urusan kalian yang tersembunyi dari Dia, baik perkara yang dilakukan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi." (Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al- 'Azhim, hlm. 548).

Hidup tidak luput dari ujian, maka kita harus sabar mengamalkan Islam,  mengemban dakwah Islam, dan menyatukan kekuatan umat Islam. Semua wajib dijalankan dengan istiqomah dan keikhlasan.

Ujian terus datang silih berganti, berbagai tudingan terhadap ajaran Islam dan para pejuangnya kian hari kian marak terjadi. Berbagai tudingan ini bermuara pada satu hal: nafsu untuk menghalang-halangi penerapan ajaran Islam dalam kehidupan.

Khilafah, misalnya, dituding sebagai bukan bagian dari ajaran Islam. Jelas, ini merupakan fitnah yang luar biasa. Bagaimana mungkin Khilafah yang telah dinyatakan dalam al-Quran, as-Sunnah dan Ijmak Sahabat bahkan Ijmak Ulama dituding bukan bagian dari ajaran Islam? Bagaimana mungkin pula Khilafah yang pernah ada dalam rentang sejarah selama lebih dari 13 abad dengan peradaban emasnya—sejak Khulafaur Rasyidin, Khilafah Umayah, Khilafah Abasiyah dan Khilafah Utsmaniyah—seolah-olah dianggap tidak pernah ada?

Kini seruan tentang Khilafah bagi pihak tertentu seolah menjadi aib. Penyebar ajaran tentang Khilafah dianggap tidak patut. Para pejuang Islam yang menyerukan Khilafah sebagai wujud penerapan Islam secara kaffah dituding sebagai ancaman, pemecah-belah bangsa, anti Pancasila dan NKRI. Karena itu Pemerintah—meski harus melanggar UU yang mereka buat sendiri—terkesan memaksakan diri untuk mengeluarkan Perppu dua tahun lalu dengan tujuan untuk membubarkan ormas yang sebelumnya dituding dengan berbagai tudingan di atas. Boleh jadi tidak hanya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang disasar, tetapi sejumlah ormas Islam lain yang juga dituding radikal hanya karena berseberangan.

Tantangan seperti ini sebenarnya merupakan sunnatullah. Setiap upaya dakwah untuk membangkitkan umat Islam senantiasa menghadapi tantangan. Rasulullah saw. sejak awal dakwahnya telah menghadapi banyak tantangan. Beliau dituduh tukang sihir, tukang syair, gila, pemecah-belah bangsa Arab, dsb. Bahkan beliau diembargo selama dua tahun dan diancam pembunuhan. Justru, berbagai tantangan berupa tuduhan dan ancaman fisik menegaskan kemenangan dakwah semakin dekat. Sebab, tuduhan dan ancaman fisik dari pihak anti-Islam merupakan tanda kekalahan mereka secara intelektual. Yang penting adalah kita tetap berada di atas aturan Allah SWT. Rasulullah saw. bersabda, "Sekelompok dari umatku selalu berada di atas aturan Allah, orang-orang yang menentang dan menyalahi mereka tidak akan memadaratkan bagi mereka hingga datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan menang atas manusia." (HR Muslim).

Oleh karena itu, keberanian dan keyakinan sudah sepantasnya berada di dalam diri seorang Mukmin, pejuang kebenaran, pelanjut pembawa Risalah Islam yang rahmatan lil alamin. Ragam tudingan—seperti radikal, anti kebhinekaan, anti Pancasila dan NKRI serta tudinghan lain yang tidak berdasar—kepada para pejuang Islam yang menghendaki penerapan syariah Islam secara kâffah adalah fitnah yang harus dihadapi dengan sikap tenang dan penuh keberanian.

Tentu kita menolak cara-cara kekerasan dalam berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini.  Mengubah pikiran dan keyakinan manusia agar mau menerapkan Islam secara kâffah tidaklah dengan senjata dan cara-cara kekerasan, tetapi dengan cara berdiskusi, adu argumentasi, bahkan mungkin berdebat untuk menyibak kepalsuan dari sebuah kebatilan dan sekaligus menampilkan kebenaran Islam secara nyata.

Alhasil, sekali lagi penting kita sadari bahwa kaum Mukmin yang sudah lurus dalam menempuh jalan yang dicontohkan Rasulullah saw. dalam menegakkan Islam pasti akan menghadapi banyak fitnah. Itu wajar, sesuai sunnah Rasulullah saw. dan para pejuang kebenaran sebelum beliau. Datangnya fitnah dari segala penjuru dengan aneka ragam bentuknya tidak lain demi menggagalkan perjuangan kaum Mukmin dalam menegakkan kebenaran Islam. Musuh-musuh Islam memang akan selalu berbuat makar. Namun, yakinlah bahwa makar mereka akan dibalas oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Mereka membuat makar, Allah pun membalas makar (mereka). Allah adalah Sebaik-baik Pembalas makar mereka (TQS Ali Imran [3]: 54).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here