Masihkah Kita Berharap Keadilan Hukum dalam Sistem Demokrasi? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, October 11, 2019

Masihkah Kita Berharap Keadilan Hukum dalam Sistem Demokrasi?


Oleh: Mochamad Efendi (Pengamat el-Harokah Research Center)


Benarkah demokrasi bisa menjamin keadilan bagi seluruh rakyatnya? Tidak ada bukti bahwa rakyat diperlakuakan adil dalam demokrasi. Buktinya banyak rakyat yang menuntut keadilan dengan turun ke jalan bahkan tidak hanya mahasiswa tapi anak STM juga turun ke jalan menuntut keadilan. Mereka yang remajapun mampu melihat kedzaliman di depan mata karena mereka tidak memiliki kepentingan pribadi atau golongan. Mereka hanya ingin menegakkan keadilan di bumi yang mereka tinggal.

Alih-alih dapat perhatian dari penguasa malah mereka dikriminalkan, dikejar dan bahkan saat mereka masuk ke rumah Allah. Aparat masuk masjid tidak lepas sepatu yang kotor tapi tidak ada hukuman bagi mereka. Hukuman hanya untuk rakyat kecil, sementara aparat kebal hukum. Itulah demokrasi yang katanya kedaulatan ditangan rakyat. Faktanya, kedaulatan ditangan segelintir orang yang mengaku mewakili rakyat.

Ada pendemo yang menuntut keadilan dari mahasiswa terbunuh, ditembak peluru tajam dan ada juga yang dilindas mobil barakuda. Sadis, semuanya seolah terdiam, tidak ada proses hukum. Inikah keadilan dalam demokrasi?

Gilirannya saat ada buzzer yang menyusup dan menjadi penumpang gelap dalam demo mahasiswa dan kemudian diketahui sehingga terkena amuk masa, hukum bergerak dengan cepat dan menuduh aktivis Islam sebagai tersangka. Sekum PA 212 Ustadz Bernard Abdul Jabbar yang menolong dan ingin menyelamatkan Ninoy Karundeng Buzzer Jokowi dari amuk masa ditetapkan sebagai tersangka.

Ketua Umum DPP PA 212 KH Slamet Maarif memaparkan kronologis lengkap kasus yang menimpa Ustadz Bernard, bahwa beliau justru mengamankan menyelamatkan Ninoy bukan mempersekusi.(https://www.faktakini.net/2019/10/press-release-dpp-pa-212-ustadz-bernard.html)

Masihkah kita berharap keadilan hukum dari sistem demokrasi. Hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Penguasa seolah kebal hukum karena mereka yang membuat aturan dan  berkuasa atas hukum. Negara hukum hanyalah ilusi dalam sistem demokrasi. Negara kekuasaan itulah faktanya.

Mereka yang berani mengkoreksi penguasa dikriminalkan. Padahal merekalah orang-orang yang ingin menyelamatkan negeri ini dari kehancuran oleh penguasa yang dzalim.

Penguasa yang baik akan mencintai dan mendekat pada mereka yang berani mengingatkan penguasa. Karena merekalah orang-orang yang ikhlas yang tidak mengharapkan balasan apa-apa dari penguasa. Bahkan mereka terancam hidupnya. 

Sebaliknya para penjilat kekuasaan yang ingin mendapatkan kue kekuasaan, tinggal di lingkaran kekuasaan. Mereka menyanjung penguasaan sehingga dia lupa sudah banyak berbuat dzalim pada rakyatnya. Pada hakekatnya merekalah yang menjerumuskan sang penguasa ke dalam lembah dosa yang mengatarkan dia ke neraka jahanam.

Oleh karena itu seorang pemimpin dalam Islam sangat mencintai ulama' atau rakyatnya yang berani mengingatkannya atas kesalahan yang telah diperbuat karena kekuasaan adalah amanah yang harus dijaga. Selama memimpin harus lurus sesuai dengan al-Qur'an dan as-Shunah.

Sebaliknya pemimpin dalam demokrasi menjadikan kekuasaan sebagai tujuannya. Bahkan cara curangpun dilakukan. Rakyat dibuat ketakutan agar tidak berani memberikan kritikan. Mereka yang memiliki pemikiran berbeda dengan penguasa dinggap musuh yang harus dihabisi karena ditakutkan menggoyang kedudukannya. Standart kebenaran bukan al-Qur'an dan as-Shunah tapi ambisi penguasa untuk terus berkuasa. Bahkan aturanpun bisa direvisi sesuai dengan keinginan penguasa agar kedudukannya aman dan bisa terus berkuasa.

Masihkah kita berharap keadilan hukum dalam sistem demokrasi? Tentunya tidak mungkin itu terjadi yang pasti negara hukum dalam sistem demokrasi adalah ilusi. Hanya siatem khilafah yang mampu menjamin keadilan hukum dan itu sudah terbukti.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here