Media Sosial, Menyempitnya Ruang Kritik… Bibit Ketidakpuasan yang Mendidih - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Wednesday, October 16, 2019

Media Sosial, Menyempitnya Ruang Kritik… Bibit Ketidakpuasan yang Mendidih



Rudianto (Analis dari Ababil Media)
Ini era tumbuh dan berkembangnya media social. Sarana ini dipandang sangat ampuh untuk mengekspresikan diri. Salah satu media sosial yang sangat efektif untuk mengekspresikan diri. Di sana, setiap pengguna dapat mengunggah tulisan, meme dan video-video menarik yang berkaitan erat dengan bakat yang dimiliki ataupun kegiatan-kegiatan yang menginspirasi.

Kehadiran media sosial jelas menjadi pemicu bagi penggunanya untuk bersosialisasi dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial tentu manusia membutuhkan orang lain untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Melalui media sosial, kita dapat bertemu kembali dengan teman lama ataupun teman baru menjalin silaturahmi, berbagi informasi, dan lain-lain. Dengan bersosialisasi melalui media sosial, sesungguhnya kita menjalin jaringan komunikasi baru yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan sosial kita.

Hari ini media sosial (medsos) dianggap sebagian masyarakat mengalahkan kekuatan media mainstream. Medsos telah memunculkan reservoir energi politik yang mengemukakan relasi baru antara teknologi media baru, politik dan kehidupan publik. Teknologi digital ini cukup “powerfull” untuk dimanfaatkan dalam proses pembentukan opini dan kegiatan di tengah kelompok-kelompok masyarakat. Suara para ulama dan gerakan Islam ideologis hari ini mendapatkan simpati publik secara kongkret. Dukungan untuk kemenangan politik dan figur islami yang dilakukan berbagai lapisan masyarakat kian menguat.

Medsos dipandang membantu mengurangi hambatan tradisional sosio-ekonomi untuk menjadi sosok yang terkenal. Di sinilah letak nilai tambah utama dari medsos. Di medsos Anda tidak harus “menjadi orang” untuk “menjadi seseorang”. Ibu rumah tangga, politisi, wartawan, juru bicara pemerintah, ulama, birokrat, anak sekolah artis, dan aktivis melihat dan dengan sengaja memanfaatkan potensi medsos. Medsos memiliki keleluasaan untuk dibentuk secara mandiri oleh kalangan kaum muda. Dari aspek jangkauan pesan yang tersampaikan pun, medsos memperlancar apapun format hubungan yang dibangun. Tentu termasuk bagaimana komunikasi diproduksi, direproduksi, dimediasi dan diterima.

Media sosial juga memiliki peran untuk menyebarkan informasi. Tak dipungkiri bahwa media sosial menjadi wadah bagi berbagai pihak untuk menyebarkan jenis-jenis informasi,  baik informasi yang berasal dari sumber-sumber terpercaya maupun yang tidak.

Jenis informasi yang disajikan oleh sumber-sumber terpercaya melalui media sosial dapat mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang terhadap suatu isu atau permasalahan.

Namun, berbagai komentar bias yang muncul dari berbagai pihak sebagai respon terhadap informasi tersebut dapat membelokkan akurasi informasi. Biasanya, komentar-komentar bias ini merupakan cara yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki tujuan tertentu untuk membentuk opini publik yang baru.

Berbagai komentar bias ini umumnya disajikan dengan menggunakan data dan fakta yang tidak valid dan diberikan oleh mereka yang tidak menggunakan nama yang sebenarnya atau bahkan tanpa nama sehingga sulit untuk dipertanggungjawabkan. Hal ini merupakan salah satu permasalahan etika komunikasi di internet yang sangat pelik dan dapat membawa dampak negatif bagi masyarakat.

Namun dalam suasana yang represif, ada sejumlah tantangan bagi para mubalig dan aktivis dakwah. Berbagai upaya dilakukan untuk menjegal dan membungkam dakwah. Terkait penggunaan medsos, para aktivis media sosial di tengah peluang dan tantangan ini perlu meningkatkan kualitas dirinya. Euforia teknologi informasi jangan berlarut-larut tanpa batas. Kini saatnya setiap orang berpikir ulang tentang arti kualitas dalam mengisi ruang maya. Tradisi menulis pendek dan kebiasaan berkomentar nyinyir sudah waktunya diubah menjadi informasi berguna dan perkataan-perkataan yang konstruktif. Menghentikan kebiasaan hoax dan ujaran kebencian mungkin tidak mudah, tetapi harus dilakukan untuk menunjukkan perubahan sebagai penanda kedewasaan manusia.

Masyarakat hari ini menuju ke arah kebangkitan berpikir, di saat yang sama para penguasa sekuler hari ini telah membuktikan diri mereka sebagai orang-orang yang tidak kompeten. Para penguasa liberal telah berbuat banyak untuk merestrukturisasi ekonomi yang bergantung pada utang luar negeri. Negara – Negara berkembang terus ditahan langkahnya dengan resep dari IMF yang telah memaksa langkah-langkah penghematan yang melumpuhkan, sehingga pemerintahan di Negara – Negara tersebut menemukan pilihan ekonominya terbatas.

Tindakan para penguasa diktator sekuler yang hadir di dunia Islam menyisakan sedikit ruang untuk kritik masyarakat yang pada akhirnya membentuk bibit ketidakpuasan dan keputusasaan yang mendidih. Namun ada fakta bahwa kelompok status quo sedang berjuang untuk bertahan dan rakyat di dunia Islam tidak memiliki waktu lama untuk kembali turun ke jalan-jalan. Tapi kali ini, jelas bahwa perubahan sistemik adalah sangat diperlukan, bukan sekadar perubahan wajah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here