Ogah Kecetit Pragmatisme Politik! - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, October 12, 2019

Ogah Kecetit Pragmatisme Politik!


dr. M. Amin (direktur Poverty Care)

Sejak era reformasi 1998 hingga kini, demokrasi terus mempertontonkan anomali tanpa henti. Paras demokrasi kapitalistik yang dulunya begitu cantik memesona, kini berubah menjadi monster yang  menyeramkan dan membuat banyak orang cemas.

Pelan tapi pasti, kepercayaan rakyat terhadap demokrasi liberal semakin terdegradasi hingga titik nadir. Bagaimana tidak, proses demokratisasi yang tercermin melalui penyelenggaraan pemilu/pemilukada secara langsung terbukti gagal menghasilkan pemimpin/wakil rakyat yang amanah, adil dan berkualitas. Yang muncul justru sebagian oknum pemimpin rakus kekuasaan dan bermental korup. 

dan hari ini kita menyaksikan dan merasakan oknum - oknum elit politisi asyik berdebat dan bersandiwara guna meraih simpati, namun kering dengan nilai empati terhadap nasib rakyat kecil.

Sementara ada bencana lain,  kecenderungan perubahan pola pikir masyarakat pemilih dari idealis ke pragmatis seperti fenomena yang terjadi dalam pilkada dan pemilu, disinyalir karena reaksi atas kenyataan yang terjadi.

Kasus korupsi yang menjerat sejumlah wakil rakyat dan kepala daerah selama ini, baik di tingkat pusat, provinsi maupun di tingkat kabupaten, mengubah pola pikir masyarakat bahwa jabatan wakil rakyat itu diperebutkan untuk meraih kekayaan.

Masyarakat sudah paham betul, setelah jabatan di tangan, janji tinggal janji dan slogan-slogan manis pun menguap tanpa bekas sejak hari pertama. Nama dan kepentingan rakyat diperalat demi kepentingan sendiri, parpol dan cukong yang mengongkosi. Tidak cukup, jabatan, kekuasaan dan pengaruh pun diperalat untuk secepat mungkin balik modal, tambah kekayaan dan memupuk modal.

Korupsi, kolusi, manipulasi, rekayasa proyek dan sejenisnya pun mengisi berita harian. Itulah fakta ibarat mendorong mobil mogok. Ketika mobil berhasil hidup, orang yang mendorong pun ditinggalkan dan hanya diberi asap. Seperti itulah nasib rakyat selama ini.

Ditambah lagi, seiring ketatnya persaingan berebut kursi, masyarakat dipikat dengan berbagai iming-iming, bantuan bahkan uang. Masyarakat akhirnya merasa, suaranya memiliki "harga" dan bisa dijual.

Masyarakat merasa tidak mendapat manfaat yang semestinya dari para politisi. Masyarakat juga merasa selama ini hanya diperalat, dijadikan obyek dan komoditas politik bahkan alat tawar demi mendapat manfaat finansial tinggi.

Maka ketika ada kesempatan, sebagian masyarakat pun menjadikan suaranya yang ber-"harga" untuk mendapat manfaat. Siapa pun yang datang memberikan uang akan diterima, tanpa peduli siapa sebenarnya yang didukung. Ungkapannya "kapan lagi mendapatkan uang dari para politisi kalau tidak pada momen pemilu?" Duh...

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here