Organisasi Islam Mbok Ya Jangan Pragmatis - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, October 27, 2019

Organisasi Islam Mbok Ya Jangan Pragmatis


Hadi Sasongko (Political Grassroots)

Politik pragmatis seperti kanker ganas, ngeri. Barat telah membagi kaum Muslim menjadi dua golongan utama: golongan fundamentalis (ekstremis) dan golongan moderat. Dari keduanya Barat hanya mendukung golongan moderat, dan bahkan mendudukkannya ke kursi kekuasaan, karena golongan moderat memang tidak menimbulkan bahaya bagi sistem politik di Dunia Islam dan bagi eksistensi Barat di Dunia Islam. Inilah garis besar Barat untuk mengarahkan harakah-harakah Islam.

Barat telah menggariskan karakter-karakter tertentu untuk harakah Islam agar sesuai dengan kepentingan Barat. Mereka menghendaki agar harakah Islam dapat menerima sistem kapitalisme yang dijalankan Barat dan penguasa Dunia Islam yang zalim. Agar diterima umat, Barat menyebut aktivis harakah ini sebagai kaum moderat, bukan kaum fundamentalis atau ekstremis yang memang dimusuhi Barat.

Padahal kenyataannya, kaum moderat hakikatnya tidak berbeda dengan kaum liberal-sekular, kecuali perbedaan formalitas saja. Jika dicermati, lontaran ide harakah Islam pragmatis sama saja dengan ide kelompok liberal-sekular. Umat hari ini mulai sadar dan tidak tertipu dengan permainan istilah dan pengggunaan simbol-simbol Islam, termasuk gerakan yang sangat sering mengeksploitasi istilah dan simbol Islam. Padahal berbagai strategi dan langkah politiknya seribu kali lebih berbahaya bagi umat Islam daripada kelompok-kelompok sekular.

Maka dari itu, sudah saatnya umat Islam sadar, bahwa tak setiap harakah yang seakan-akan islami dan melayani kepentingan Islam adalah memang betul-betul baik bagi Islam. Kita juga harus menyadari bahwa di antara harakah Islam ada yang menjadi agen Barat yang sadar atau tidak justru melayani kepentingan-kepentingan Barat. Kita juga harus sadar bahwa niat yang ikhlas tidaklah cukup, melainkan juga diperlukan langkah perjuangan yang benar sesuai dengan syariah Islam.

Paling tidak, ada 6 (enam) karakter harakah Islam yang mengakui pragmatisme sekuler.  Pertama: menganut sikap pragmatis (waqi'iyyah), yaitu bertindak bukan atas dasar pertimbangan syariah, melainkan atas dasar fakta yang ada dengan pertimbangan untung-rugi kapitalistik.

Kedua: tidak mempunyai ide Islam yang jelas. Mereka menyerukan Islam secara umum saja, dengan penafsiran yang disesuaikan dengan fakta yang ada demi meraih keridhaan penguasa zalim dan kaum penjajah (Barat).

Ketiga: tidak berusaha mengubah secara total sistem korup liberal yang ada, melainkan hanya memperbaikinya secara parsial pada aspek-aspek tertentu. Mereka mempunyai asumsi dasar bahwa sistem yang ada sudah sah dan final. Yang diubah bukan sistemnya, melainkan hal-hal tertentu yang memerlukan perbaikan.

Keempat: mempunyai wawasan dan aksi yang hanya bersifat lokal. Mereka tidak peduli dengan persoalan umat Islam yang bersifat global.

Kelima: selalu berusaha menampakkan diri sebagai kelompok modern, dengan dalih Islam adalah agama yang fleksibel dan luwes. Mereka mengecam harakah Islam ideologis sebagai kelompok garis keras (mutasyadidun) yang hanya cari masalah dengan memberontak kepada pemerintahan yang sah. Mereka menggembar-gemborkan ide-ide tertentu, seperti fiqih al-waqi' (fikih yang bertolak dari fakta), fiqih al-mashalih (fikih yang mempertimbangkan kemaslahatan), dan semisalnya. Mereka masuk ke dalam parlemen dengan dalih untuk menegakkan agama, dan seterusnya.

Keenam: mementingkan figuritas. Mereka adalah harakah yang mempraktikkan kultus individu, karena mengedepankan figur pimpinan (qiyadah) daripada pemikiran yang serius dan produktif. Jika menghadapi masalah yang perlu keputusan, kata akhirnya bukan pada pertimbangan pemikiran, melainkan pada kehendak figur pimpinan yang telah tertawan oleh realitas sistem yang bobrok.

Harakah dengan karakter-karakter ini jelas sangat menyenangkan penguasa dari sistem kapitalistik. Harakah seperti ini kemudian dimanfaatkan dan diperalat untuk mengalihkan perhatian umat dari harakah ideologis yang sahih. Dengan demikian, di samping telah mengacaukan gambaran perjuangan Islam yang hakiki, harakah pragmatis itu juga telah mempersulit perjuangan ke arah perubahan total yang dikehendaki Islam.

Padahal sudah jelas, keterlibatan harakah pragmatis dalam parlemen sesungguhnya adalah suatu bentuk ketaatan kepada kemungkaran dan upaya jahat untuk memperpanjang umur rezim zalim itu. Hal ini juga akan mengacaukan pemahaman umat mengenai sistem kapitalisme sehingga umat bisa jadi menganggap sistem liberal yang ada sudah bagus dan final.

Dari seluruh penjelasan di atas, sudah seharusnya harakah pragmatis menyadari kekeliruan langkah mereka. Namun, akankah mereka mau sadar? Dengan penuh kepahitan kami katakan, tampaknya mereka tidak akan sadar. Sebab, cacat yang ada pada harakah pragmatis itu adalah cacat bawaan yang fatal, yaitu cacat pada ide (fikrah) dan metode (thariqah) perjuangan mereka.

Sungguh, setiap perjuangan yang dilandasi asumsi bahwa sistem yang ada sudah sah dan tidak perlu diubah hanya akan menghasilkan kesia-siaan dan kemurkaan dari Allah SWT, meskipun mereka berniat ikhlas. Ingatlah firman Allah SWT:

أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمْ مَنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkup yang lebih terpimpin (dalam kebenaran) ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? (QS al-Mulk [67]: 22)

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here