PELANTIKAN PRESIDEN : APARAT SUPER TEGANG, RAKYAT SUPER CUEK - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, October 21, 2019

PELANTIKAN PRESIDEN : APARAT SUPER TEGANG, RAKYAT SUPER CUEK


Oleh : Ahmad Sastra 

Dalam perjalanan, sejenak saya mampir di warung makan pinggir jalan sepanjang Parung Bogor, hari ini Minggu tanggal 20/10/19. Bagi kalangan tertentu, tanggal 20 adalah tanggal penting karena ada pelantikan presiden. Saya sedetikpun tidak nonton TV, karena sedang mencari nafkah keluarga yang kian susah.

Iseng saya mencoba membuka perbincangan dengan tukang warung makan perihal pelantikan presiden hari ini. ‘ ah bodo amat mas, males nonton TV juga, mending buka warung’, jawab tukang warung sambil melayani pembeli yang lain. Tukang kopi itu tentu tidak mewakili masyarakat umum, tapi memang antusias masyarakat nampak lesu terhadap pelantikan presiden kali ini.

Masyarakat di sekitar RT saya juga adem ayem tanpa ada perbincangan sedikitpun perihal pelantikan presiden pemenang pemilu yang masih menyisakan pilu itu. Justru yang banyak diperbincangkan adalah hadirnya mbah dukun dalam acara pelantikan di gedung DPR/MPR. Ada juga yang membincangkan bau busuk dari septic tank gedung DPR di hari pelantikan presiden.

Maklum masyarakat kampoeng lebih suka membincangkan sesuatu yang lekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Masyarakat mendapat informasi adanya mbah dukun yang katanya mendatangkan Nyi Blorong, Nyi Loro Kidul dan sejenisnya untuk ikut menjaga pelantikan. Akhirnya muncul banyak meme hantu dan jin menghiasi jagad sosmed yang diakses masyarakat.

Masyarakat bertanya-tanya dengan penuh keheranan, kenapa wakil presiden yang seorang Kyai dan bahkan sebagai ketua MUI, namun berdiam saat menyaksikan fenomena perdukungan dan kesyirikan terlibat dalam pelantikan presiden dan wakil presiden. Padahal dalam Islam, selain tidak diterima 40 hari sholatnya, bagi yang bertanya dan percaya kepada dukun bisa menyebabkan musyrik yang merupakan dosa sangat besar.

Masyarakat juga terheran-heran, mengapa pelantikan presiden yang sangat dekat dengan masyarakat dengan gaya blusukannya, giliran pelantikan kok seperti orang sedang ketakutan dengan cara mengerahkan aparat kemanan yang sangat fantastis. Selain dari jumlah aparat yang banyak, juga dari jenis aparatnya yakni dari kalangan manusia dan jin.

Usut punya usut, ternyata kemanan super ketat itu dimaksudnya untuk berjaga-jaga atas dugaan upaya untuk menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih pemilu 2019. Namun faktanya, hingga pelantikan diselesaikan, tak ada satupun indikasi yang mengarah kesana. Namun, sebaliknya, bahkan masyarakat tak peduli dengan pelantikan itu. Bahkan ada yang seharian sengaja mematikan TV.

Jadi narasi akan adanya upaya menggagalkan pelantikan presiden adalah narasi bombastis yang justru membuat masyarakat tidak nyaman, padahal yang terjadi masyarakat justru cuak atas pelantikan itu. Mestinya, jika memang merupakan pilihan rakyat, maka seharusnya pelantikannya disetting sebagai pesta rakyat.

Pelantikan presiden yang dicintai rakyat semestinya tidak perlu di gedung DPR yang penuh ketegangan dan hanya elit yang hadir, sementara orang alit yang memilih terpinggirkan. Sebagaimana kebiasaan pak Presiden, mestinya pelantikan dibuat santai dan dihadiri oleh rakyat, setidaknya rakyat yang memilihnya. Tidak perlu dibuat tegang, apalagi melibatkan dunia mistis.

Pelantikan seorang presiden yang maknanya adalah akan menanggung beban amanah yang sangat berat, mestinya dilakukan dengan penuh nilai spiritual, terlebih wakil presidennya adalah seorang kyai. Jika tahu bahwa menjadi pemimpin adalah menanggung amanah yang sangat besar, maka tidak mungkin manusia mau berebut jabatan.

Jika tahu bahwa kepemimpinan adalah amanah sangat besar yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akherat, maka pasti seorang pemimpin akan sangat berterima kasih saat mendapat kritik dan nasehat dari rakyatnya. Sebagaimana khalifah Umar yang justru mengucapkan terima kasih kepada rakyat yang mau mengingatkan jika kelak Umar  melanggara syariah Allah.

Nasehat adalah bagian dari amal sholeh dalam pandangan Islam. Nasehat adalah sebagai bentuk dakwah sekaligus rasa cinta kepada sesame muslim, agar saudaranya tidak tergelincir kepada jalan setan. Maka, jika ada presiden justru selalu mempersekusi rakyatnya yang kritis, maka disitu akan tumbuh bibit-bibit diktatorisme.

Apalagi jika pelantikan presiden dengan menyebut ‘demi Allah, aku bersumbah’ dengan Kitab Suci Al Qur’an diletakkan diatas kepalanya. Peristiwa sumpah dan pelantikan ini merupakan pelibatan Allah di dalamnya. Artinya, semestinya sumpah itu untuk melaksanakan kitab suci, bukan kitab konstitusi, mengingat yang diletakkan di atas kepala adalah kitab suci, bukan kitab konstitusi. 

Bahkan presiden dan wakil presiden harus tahu bahwa Barat kini sedang terus membangun narasi bahwa Al Qur’an adalah sumber radikalisme dan terorisme. Tuduhan Barat ini mestinya dibantah oleh pemimpin negeri ini, sebab selain tuduhan keji, Barat memang selamanya tidak akan ridho atas kebangkitan peradaban Islam di negeri ini.

Tapi ya sudahlah, masyarakat mungkin sudah tak lagi peduli siapa presidennya, sebab faktanya tidak akan pernah mengubah hidupnya menjadi lebih baik, bahkan dari pemilu ke pemilu, hidup rakyat justru makin tercekik. Rakyat mulai sadar bahwa selama sistem kapitalisme yang diterapkan, maka siapapun presidennya tidak akan pernah membawa kebaikan bagi rakyat.

Masyarakat kini justru sedang berduyun-duyun belajar Islam dan sedang berjuang mendakwahkan kepada masyarakat. Islam adalah agama yang diwakili oleh Rasulullah dan Al Qur’an diyakini sebagai sistem hidup terbaik yang mampu menggantikan ideologi kapitalisme dan komunisme.

(AhmadSastra,KotaHujan,21/10/19 : 14.14 WIB)

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here