Perempuan, Kemiskinan dan Kemiskinan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, October 10, 2019

Perempuan, Kemiskinan dan Kemiskinan


Fajar Kurniawan (analis senior PKAD)

Berbicara tentang problem yang dihadapi kaum muslimin tentu tidak bisa dipisahkan dengan problem yang dihadapi masyarakat secara keseluruhan. Problem pendidikan yang rendah, upah buruh yang minimalis, kemiskinan, gizi buruk, dll  tentu tidak semata-mata diderita perempuan, tetapi juga banyak anggota  masyarakat lain saat ini. Artinya, jika mayoritas perempuan tarap pendidikannya rendah, upah kerjanya minimalis, atau dilanda kemiskinan, maka sebetulnya kasus yang sama juga dialami oleh banyak anggota masyarakat lainnya.

Harus kita akui, semua persoalan di atas lebih disebabkan oleh penerapan ideologi Kapitalisme yang memang destruktif. Secara spesifik, karena perempuan menempati komposisi sebagai mayoritas, tentu merekalah yang paling banyak merasakan dampaknya. Karena itu, muncullah gagasan sekaligus upaya di seputar pemberdayaan perempuan. Tujuannya adalah demi mengangkat martabat perempuan yang selama ini dianggap sebagai korban yang paling menderita. Sayangnya, pemberdayaan perempuan lalu dipahami sebagai upaya optimal agar perempuan punya peran lebih besar di sektor-sektor publik. Mereka, misalnya, didorong agar mampu bersaing dengan laki-laki dalam hal pekerjaan dan aktivitas politik, sering dengan mengorbankan tugas utamanya sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga.

Harus diakui, sebagian dari mereka memang berdaya secara ekonomi. Namun juga haris disadari, bahwa semua itu menghasilkan dampak negatif yang tidak sedikit: suami tidak terlayani secara penuh dan anak-anak kurang perhatian dan kasih-sayang ibunya. Di luar rumah, perempuan itu sendiri acapkali mengalami banyak masalah: dieksploitasi dengan pekerjaan yang berat dan waktu kerja yang lama serta upah kerja yang rendah, dilecehkan secara seksual bahkan diperkosa, dll.

Pada hari ini, meningkatnya harga pangan dan berbagai harg pokok lainnya telah berdampak pada meningkatnya jumlah orang miskin. Mereka yang miskin semakin sulit untuk mendapatkan pangan dengan harga terjangkau. Namun demikian, meskipun harga pangan mengalami kenaikan pesat bukan berarti stok pangan Indonesia mengalami kelangkaan. lalu mengapa di berbagai belahan daerah termasuk yang menimpa Nenek Rokayah banyak yang mengalami kekurangan pangan?

Sebagai umat Rasulullah (saw) yang Allah (swt) gambarkan sebagai umat yang terbaik di bumi ini, kita pasti harus bertanya kepada diri sendiri, bagaimana kita bisa mencapai titik yang demikian rendah dalam keberadaan kita dimana kaum Muslim dibiarkan kelaparan dan penguasa berkhidmat kepada kaum kapitalis?

Dalam sistem kapitalisme, negara tidak bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya pangan, sandang dan papan. Negara hanya berupaya agar pendapatan perkapita rakyat secara agregat mengalami peningkatan tanpa melihat apakah masing-masing individu rakyatnya mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Dengan demikian pemenuhan kebutuhan pangan menjadi tanggungjawab rakyatnya sendiri. Pangan tetap dipandang sebagai komoditas yang memiliki harga yang harus dibayar oleh siapapun yang ingin mengkonsumsinya.

Memang negara kadangkala melakukan intervensi dengan memberikan subsidi termasuk pangan. Namun demikian berbagai subsidi tersebut tidak dimaksudkan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar seluruh rakyatnya. Di Indonesia misalnya ada program penjualan beras untuk orang miskin (raskin) dengan harga di bawah harga pasar. Tapi hal itu tidak menyelesaikan masalah. Kenyataannya subsidi tersebut di samping temporal, jumlahnya sangat terbatas–apalagi seringkali salah sasaran–sehingga tidak mampu menjangkau seluruh penduduk yang terkategori miskin. Selain itu, bagi sebagian penduduk miskin, harga tersebut masih cukup mahal sehingga mereka tidak dapat menikmatinya secara persisten. Dengan demikian kebijakan tersebut memang tidak didesain untuk menjamin agar seluruh rakyat dapat menikmati pangan secara berkelanjutan. Tak heran jika dalam realitasnya banyak penduduk yang kekurangan pangan sehingga rentan penyakit.

Ini adalah fenomena gunung es, betapa kemiskinan telah mendera negeri ini. Ini menandakan kegagalan sistem yang sedang eksis di negeri ini. Sekaligus menunjukkan ketidakmampuan sistem ini untuk menyelesaikan satupun dari masalah-masalah yang menimpa Indonesia. Yaitu, masalah-masalah yang akan menjadikan kondisi paling buruk jika tidak dipahami secara benar. Hal itu menegaskan pentingnya aktivitas serius untuk mengubahnya dan membebaskan negeri dan penduduknya dari berbagai keburukannya. Maka terlihatlah, bahwa masalah ekonomi yang terlihat sekarang adalah ciri khas Kapitalisme. Di antaranya adalah utang meningkat, konsentrasi kekayaan dan timbulnya kemiskinan. Walhasil, Kapitalisme memiliki masalah sistemik dengan kemiskinan. Kapitalisme, diutak-atik bagaimanapun, tidak akan dapat memecahkan masalah sistemiknya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here