Rezim anti kritik dan anti Islam, Apa yang Bisa Diharapkan? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, October 12, 2019

Rezim anti kritik dan anti Islam, Apa yang Bisa Diharapkan?


Oleh: Mochamad Efendi (Pengamat el-Harokah Research Center)


Sebutan Rezim anti kritik dan anti Islam bukan tanpa alasan. Label ini semakin menguat dengan banyaknya tudingan miring yang selalu diarahkan pada Islam oleh rezim. Aktivis Islam yang kritis terhadap kebijakan rezime yang dzalim dipersekusi dan dikriminalkan.

Sebagai contoh kasus yang menimpa ustadz Bernard adalah usaha untuk mengkriminalkan aktivist Islam. "Dalam Press Release yang dibacakan langsung oleh Ketua Umum DPP PA 212 KH Slamet Maarif, dipaparkan kronologis lengkap kasus yang menimpa Ustadz Bernard, bahwa beliau justru mengamankan menyelamatkan Ninoy bukan mempersekusi. (https://www.faktakini.net/2019/10/press-release-dpp-pa-212-ustadz-bernard.html).

Prinsip praduga tak bersalah seolah tidak berlaku bagi aktivis Islam yang kritis terhadap kebijakan rezim yang dzalim. Tuduhan bersalah sering ditujukan pada kelompok Islam yang dianggap radikal bahkan sebelum diproses secara hukum.

Tentu kita masih ingat bagaimana UAS dikriminalkan hanya karena menyampaikan kebenaran tentang patung dalam sebuah forum pengajian di masjid yang hanya dihadiri umat Islam. Ada pihak-pihak yang ingin menyeret UAS ke ranah hukum dengan tuduhan menyebarkan kebencian. UAS yang kritis dalam pemikirannya dan sering bersebrangan dengan penguasa rezim ditakuti sehingga dipersekusi dalam langkahnya. Bahkan yang terakhir dan viral, acara kuliah tamu di UGM dibatalkan tanpa alasan. Tentunya ini adalah bukti penguasa rezim anti kritik dan anti Islam. Mereka takut dengan ulama' atau aktivis Islam yang berani dan kritis pada setiap kebijakan rezim yang dzalim pada rakyat.

Pengajian yang diadakan oleh Muslim United pun dibatalkan dengan alasan yang tidak masuk akal oleh seorang penguasa, raja yang merasa memiliki masjid yang ada di wilayah kekuasaannya. Sungguh penguasa yang anti kritik dan anti Islam yang menghalang-halangi acara pengajian yang tujuannya untuk membangun kesadaran umat dengan ajaran Islam yang mulia. Harusnya seorang pemimpin merasa senang dan mendukung aktifitas positif dari kalangan muda yang ingin mencerahkan kesadaran umat dengan ajaran Islam yang mulia.

Kebencian pada Islam juga terlihat dari penanganan kasus penusukan Wiranto di Pandeglang. Bahkan begitu cepatnya mereka berkesimpulan bahwa ada kelompok Islam radikal dibalik insiden penusukan menkopolhukam, Wiranto. Rupanya dalam pemahaman penguasa rezime hanya kelompok Islam radikal yang mampu melakukan tindakan kekerasan. Tentunya penusukan pak Wiranto tidak ada artinya jika dibandingkan korban kerusuhan di Wamena Papua.  Apakah dalam pemikiran penguasa rezim hanya kelompok Islam radikal yang mampu melakukan sadisme di Wamena atau di tempat lain? Kenapa Islam yang selalu disalahkan?

Padahal sering tindakan radikal berasal dari penguasa rezime sendiri yang menuduh Islam radikal. Tidak mungkin Islam menggunakan kekerasan. Kekerasan bahkan sering dilakukan oleh penguasa yang anti kritik dan anti Islam. Mereka lebih memilih kekerasaan karena merasa kalah dalam narasi perang pemikiran. Untuk menutupi kelemahan mereka, perang melawan radikalisme di lancarkan yang sebenarnya melawan Islam.

Islam garis keras atau radikalisme sering dituding sebagai penyebab permasalahan yang muncul ditengah umat.  Padahal banyaknya permasalahan disebabkan karena diterapkannya demokrasi, sistem batil. Kerusakan moral yang sangat parah di tengah masyarakat adalah buah dari demokrasi, kebebasan bertingkah laku. Maraknya korupsi dan kecurangan dalam politik adakah akibat dari sekularisme, memisahkan agama dalam kehidupan. Negeri yang kita cintai ini terancam oleh pemikiran sekularisme, sinkretisme dan juga kapitalisme.

Khilafah sebagai ajaran Islam disalahkan, padahal demokrasi yang menjadi biang segala permasalahan. Kalau mereka bisa berfikir objektif banyak permasalah negeri ini hanya bisa diselesaikan dengan diterapkannya Islam secara kaffah dalam sistem khilafah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here