Rezim China vs Islam - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, October 27, 2019

Rezim China vs Islam


Ilham Efendi (Center of Global Political Analysis)

Konflik antara Cina dan kaum Muslim di provinsi ini bukan hal baru, khususnya sejak 1863 M. Turkistan Timur yang merupakan ujung negeri Islam dari sisi timur, telah mengalami serangan pembantaian oleh Cina. Lebih dari satu juta orang dari kaum Muslim Uighur telah gugur dalam menghadapi Cina yang terjadi pada tahun 1949 M ketika rezim dikuasai oleh komunis Cina pimpinan Mao Che Tung, dimana rezim Cina menghapus kemerdekaan provinsi itu dan digabungkan ke Republik Cina.

Terjadi pengosongan provinsi itu dari penduduknya kaum Muslim. Mereka didistribusikan ke provinsi-provinsi di Cina. Akan tetapi, kaum Muslim Uighur kuat, tidak menyerah kepada Cina. Revolusi mereka terjadi pada tahun 1933, 1944.

Perlawanan terus mereka lakukan di provinsi itu melawan pendudukan Cina, seperti perlawanan yang berlangsung pada tahun 2009.
Islam adalah sebab utama kedengkian mendalam orang-orang Cina terhadap kaum Muslim Uighur.

Masjid-masjid menjadi sasaran-sasaran bagi Cina yang dengki terhadap Islam. Cina menghancurkan sekitar 25 ribu masjid pada tahun 1949 M. Di provinsi yang luas itu hanya tersisa sekitar 500 masjid. Dan hari ini, setelah Cina melepaskan setengah komunismenya “
"ekonomi", penangkapan terhadap manifestasi agama dalam bentuk apapun, khususnya pada para pemuda, masih terus menjadi kebijakan riil yang dilakukan Cina di provinsi tersebut.

Dikarenakan kekayaan alam terutama minyak di provinsi yang oleh Cina disebut Xinjiang yang artinya jajahan baru itu, Cina sengaja mengosongkan provinsi tersebut dari penduduknya etnis Uighur dan mendorong mereka ke provinsi-provinsi di dalam Cina. Dan dari sisi lain, Cina mendorong rasnya dari etnis Han Cina untuk berdiam di provinsi tersebut (Xinjiang) sampai etnis Uighur saat ini (10 juta orang) hanya menjadi 40 persen dari penduduk Xinjiang. Konsentrasi etnis Han makin meningkat di bagian selatan provinsi tersebut dan demikian juga di daerah-daerah pedesaan.

Provinsi itu sangat miskin khususnya di selatan, di mana menjadi daerah konsentrasi kaum Muslim. Demikian juga di daerah-daerah pedesaan yang etnis Han Cina minoritas atau bahkan tidak ada.

Meski semua itu, vitalitas kaum Muslim di Turkistan Timur terus berlanjut dengan bentuk mereka bisa mengembalikan manifestasi islami untuk kehidupan khususnya di pedesaan. Ketidaktenangan terus melanda provinsi tersebut dari waktu ke waktu dan menjadikannya sebagai provinsi yang memiliki ciri tidak stabil disebabkan berbagai peledakan dan aksi-aksi kekerasan melawan negara dan teguhnya orientasi untuk berpisah dari Cina. Sisi terlemah untuk negara itu berasal dari dalam.

Sebaliknya, Cina mencengkeram detil-detil kehidupan kaum Muslim Uighur. Cina melarang media memonitor aksi-aksi pembunuhan dan penangkapan yang dijalankan di kegelapan yang ditimpakan secara paksa terhadap provinsi tersebut. Cina melacak kaum Muslim Uighur yang lari dari Xinjiang dan akhirnya memiliki suara di luar negeri di bawah dalih "terorisme".

Cina berhasil menangkap banyak orang dari mereka melalui jalur-jalur keamanan internasional, terutama dari negeri-negeri Asia Tengah dan Pakistan.

Karena Islam hidup di dalam hati etnis Uighur, maka kengerian menyusup ke hati diktator Cina dan berikutnya Cina menampakkan ketakutan-ketakutannya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here