Sebuah mimpi atau ambisi untuk terus berkuasa - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, October 24, 2019

Sebuah mimpi atau ambisi untuk terus berkuasa


Oleh: Mochamad Efendi

Sebuah mimpi besar memang harus dimiliki oleh pemimpin besar. Mensejahterakan rakyat adalah impian mulia bagi seorang pemimpin. Namun, semua itu harus diwujudkan dengan kerja nyata berupa kebijakan yang pro-rakyat, bukan menyengsarakan rakyat. Seorang pemimpin tidak boleh hanya bermimpi. Dia harus segera bangun untuk mewujudkan mimpi itu agar menjadi kenyataan.

Pak Jokowi dalam pidato pelantikan presiden menyampaikan mimpinya yang indah untuk rakyat Indonesia.   "Indonesia telah menjadi negara maju dengan pendapatan menurut hitung-hitungan Rp320 juta per kapita per tahun atau Rp27 juta per kapita per bulan. Itulah target kita. Target kita bersama," imbuhnya. (https://m.detik.com/news/berita/d-4752769/live-report-pelantikan-presiden-dan-wapres-2019-2024).

Namun sayangnya jika impian itu tidak diimbangi dengan usaha untuk mewujudkannya akan menjadi ilusi yang tidak akan terjadi.  melihat hutang luar negeri semakin menggunung, untuk perbaikan ekonomi dengan pendapatan 27 juta perbulan rasanya jauh panggang dari api.  Mimpi itu hanya sebatas mimpi, namun tidak mungkin untuk terjadi.

Apalagi jika sumber daya alam masih dikuasai asing, kesejahteraan rakyat jauh dari harapan. Pajak naik, tarif listrik dan iuran BPJS juga naik. Biaya pendidikan mahal dan kebutuhan pokok juga mahal. Rakyat diberi mimpi dengan gaji 27 juta namun faktanya rakyat masih belum sejahtera.

Benarkah ini mimpi dan cita-cita Jokowi atau ini janji politik yang biasa diucapkan atau lebih dikenal pencitraan agar bisa terus berkuasa. Jika melihat kebijakan yang dihasilkan sepertinya ini hanyalah pencitraan agar bisa terus berkuasa. Rakyat hanya diberi mimpi agar merasa simpati dan terus mendukung kekuasaan rezime.

Demokrasi hanya memberi mimpi-mimpi yang jauh dari usaha untuk mewujudkannya. Rakyat bukan tujuan namun diperalat untuk mencapai tujuan politik penguasa agar bisa terus berkuasa. Rakyat diberi mimpi-mimpi berupa pencitraan yang sering dilakukan untuk mengambil hati rakyat agar memberikan pilihannya pada dia.

Sebaliknya sistem Islam rakyat dijadikan tujuan dalam berpolitik, mengurusi urusan mereka. Tujuan mulia untuk mensejahterakan rakyat dan memberikan rasa aman pada mereka. Rakyat dijamin kebutuhan dasar mereka dan pajak bukan sumber utama APBN. Negara akan mengelola sumber daya alam yang menjadi aset negara dikelola untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Pelayanan kesehatan gratis, pendidikan gratis, tarif listrik murah. Semua dilakukan untuk mensejahterakan rakyat dan itu sudah terbukti dalam sejarah saat Islam diterapkan secara kaffah dalam sistem pemerintahan Islam khilafah.

Bisakah rakyat hidup sejahtera ditengah menggunungnya hutang luar negeri sementara banyak aset negara dikuasai asing. Bagaimana rakyat sejahtera jika sumber pendapatan negara didapat dari pajak yang mencekik rakyat? Rakyat juga semakin terjepit dengan kebutuhan dasar yang mahal padahal itu harusnya bisa murah dan bahkan gratis karena dijamin oleh negara. Bagaimana negara bisa mensejahterakan rakyatnya sementara rakyat dijadikan objek bisnis bukan bukan dapat pelayanan gratis.

Benarkah rakyat Indonesia penghasilannya   27 juta per bulan? Mimpi yang sulit dan bahkan tidak mungkin terwujud, jika sistem demokrasi masih diterapkan. Hanya sistem Islam yang mampu mewujudkan mimpi itu. Ataukah ini ilusi, janji-janji yang ditebar dalam sistem demokrasi untuk meraih tujuan politik, kursi kekuasaan. Namun, saat kursi kekuasaan sudah benar-benar ditangan janji tinggal janji, bukan untuk ditepati.

Janji yang terucap akan menjadi teror bagi penguasa itu sendiri sehingga tidak pernah tenang dalam kursi kekuasaannya. Resah, takut dan kuwatir akan hilangnya kekuasaan sehingga Kritikan dianggap ancaman yang harus dilawan. Rakyatpun tidak merasa aman karena sering dapat ancaman dan sanksi agar mau mengikuti keinginan penguasa rezime. 

Sebaliknya janji dalam Islam adalah utang harus dipenuhi. Oleh sebab itu pemimpin dalam Islam tidak banyak menghasilkan janji tapi bukti nyata berupa kebijakan yang pro-rakyat. Mensejahterakan rakyat dan memberi rasa aman adalah tujuan pemimpin dalam sistem Islam. Rakyat mencintai pemimpinnya, pemimpin mencintai rakyatnya. Rakyat diberi bukti nyata bukan janji-janji palsu seperti dalam sistem demokrasi.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here