Waspadai Politik Adu Domba Musuh - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, October 12, 2019

Waspadai Politik Adu Domba Musuh


Waspadai Politik Adu Domba Musuh

Taufik S.P. (Geopolitical Institute)

Politik adu domba dan pecah-belah adalah cara paling efektif yang digunakan Barat untuk menancapkan hegemoninya di negeri-negeri Islam.

Politik ini terbukti efektif digunakan untuk menaklukan negeri jajahan. Tidak aneh, politik adu domba terus eksis sepanjang periode penjajahan dan bermetamorfosis dalam berbagai variasi dan bentuk. Jika pada zaman penjajahan Belanda dikenal dengan Politik Belah Bambu (Devide at Impera), akhir-akhir ini istilah ini dipopulerkan dengan istilah 'Proxy War'.

Proxy War?

Makna proxy war memang perang boneka atau perang perwalian, namun bukan secara asimetris atau non militer, bahwa ia tetap dilakukan dalam konteks perang militer (simetris) secara terbuka sebagaimana terjadi di Ukraina, Syria, dll. Itulah kemasan varian perang militer seperti hybrid war, perang kota, gerilya, dsb.

Sifat dan karakteristik perang telah bergeser seiring dengan perkembangan teknologi. Kemungkinan terjadinya perang konvensional antar dua negara dewasa ini semakin kecil. Namun, adanya tuntutan kepentingan kelompok telah menciptakan perang-perang jenis baru. Diantaranya, perang asimetris, perang hibrida, dan perang proxy.

Perang asimetris adalah perang antara belligerent atau pihak-pihak berperang yang kekuatan militernya sangat berbeda.

Perang hibrida atau kombinasi merupakan perang yang menggabungkan teknik perang konvensional, perang asimetris, dan perang informasi untuk mendapat kemenangan atas pihak lawan. Pada saat kondisi kuat, perang konvensional dilakukan untuk mengalahkan pihak lawan. Namun, pada saat situasi kurang menguntungkan, cara-cara lain dilakukan untuk melemahkan pihak musuh.

Perang proxy atau proxy war adalah sebuah konfrontasi antar dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan mengurangi risiko konflik langsung yang berisiko pada kehancuran fatal.

Biasanya, pihak ketiga yang bertindak sebagai pemain pengganti adalah negara kecil, namun kadang juga bisa non-state actors yang dapat berupa LSM, ormas, kelompok masyarakat, atau perorangan. Melalui perang proxy ini, tidak dapat dikenali dengan jelas siapa kawan dan siapa lawan karena musuh mengendalikan non-state actors dari jauh. Proxy war telah berlangsung di Indonesia dalam bermacam bentuk, seperti gerakan separatis dan lain-lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Taktik Barat

Cara-cara yang paling lazim digunakan untuk memecah-belah di antaranya dengan menciptakan atau mendorong perpecahan di antara kelompok-kelompok Islam untuk mencegah aliansi yang bisa menentang hegemoni Barat dan para penguasa agen Barat. Barat juga membantu dan mempromosikan kelompok-kelompok Islam yang bersedia untuk bekerjasama dan pro terhadap Barat dengan memberikan ruang aktualisasi, dukungan politik, bantuan keuangan, akses dan dukungan publik.

Politik adu domba dilakukan juga dengan jalan mendorong ketidakpercayaan dan permusuhan antar kaum Muslim. Isu-isu pecah-belah seperti Sunni-Syiah, Islam Radikal-Islam Moderat, Islam Fundamentaslis-Islam Liberal, Islam Tekstual-Islam Kontekstual, Islam Arab-Islam Nusantara, adalah contoh paling faktual bagaimana Barat memecah-belah umat Islam.

Cara ini setidaknya mampu merealisasi dua tujuan sekaligus. Pertama: Memecah-belah persatuan kaum Muslim sekaligus menjadikan aliran-aliran dan mazhab yang ada saling serang satu sama lain. Kedua: Cara ini sekaligus cara paling efektif untuk memverifikasi dan mengklasifikasi mana kelompok-kelompok Islam yang pro dan kontra terhadap Barat, untuk menerapkan kebijakan "Stick and Carrot".

Stigma negatif, penekanan, alienasi, serangan pemikiran dan politik, termasuk serangan secara fisik melalui pendekatan intelejen dan perang digunakan untuk menekan kelompok-kelompok yang kontra terhadap Barat (Politik Stick). Adapun terhadap kelompok-kelompok Islam yang pro Barat, Barat telah mempersiapkan kompensasi berupa dukungan finansial, politik dan ekonomi, dukungan media dan penokohan, bahkan sampai pada turut serta memasarkan sekaligus melakukan penggalangan opini umum untuk menjadikan pemikiran dan sikap kelompok dan tokoh Islam pro Barat sebagai rujukan bagi kaum Muslim (Politik Carrot).

Devide et Impera

di Indonesia, politik belah-bambu (Devide at Impera) menjadi senjata klasik yang ampuh digunakan Belanda untuk menundukan Nusantara sekaligus mempertahankan kekuasaannya. Sejak periode sebelum kemerdekaan, Belanda secara konsisten menerapkan politik Devide at Impera untuk menundukan dan memadamkan api perjuangan kaum Muslim di Nusantara.

Perang Diponegoro dan Perang Padri adalah contoh paling heroik perjuangan kaum Muslim di Nusantara dengan semangat jihad yang sangat merepotkan Belanda. Perang Diponegoro  yang juga dikenal dengan sebutan Perang Jawa  (1825-1830) dan Perang Padri (1803 hingga 1838) tidak akan pernah berhasil dimenangkan Belanda jika saja tidak ada pengkhianatan dan perpecahan di tubuh kaum Muslim. Dengan Politik Devide at Impera, kelicikan dan pengkhianatan, Belanda mampu menumpas perlawanan kaum Muslim pada Perang Diponegoro dan Perang padri.


Pasca Kemerdekaan

Pasca Kemerdekaan, politik adu domba masih menjadi pilihan favorit para penjajah untuk membelah dan melumpuhkan kekuatan Islam. Kekuatan nasionalis sekular yang diwakili Partai Nasional Indonesia didorong menjadi kekuatan penyeimbang untuk membendung arus perjuangan umat Islam yang telah berfusi dalam satu wadah politik Partai Masyumi. Entitas komunis juga mengambil peran dalam ruang politik dan mendominasi kekuasaan melalui Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahkan untuk melakukan penyeimbangan kekuasaan, Soekarno terpaksa mengadopsi politik Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis). Padahal sangat mustahil bisa menyatukan Islam dengan Komunisme, sama mustahilnya mencampurkan air dengan api.

Pada saat tampuk kekuasaan beralih ke Rezim Soeharto, adu domba digunakan dengan menekan kekuatan Islam agar berfusi menjadi satu parpol (PPP) yang dikontrol penguasa. Dimunculkan sebuah kelompok kekaryaan (Golkar) meskipun pada faktanya adalah Partai Politik. Kekuatan nasionalis sekular pengikut Soekarno ditekan dan dimarginalkan melalui Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Untuk memperoleh legitimasi dan dukungan umat, Sosialisme-komunis ditekan habis, PKI dikubur sebagai sampah sejarah.

Namun, kekuatan penjajahan yang telah bergeser ke Amerika, mulai masuk melakukan upaya aneksasi di Indonesia dengan pendekatan politik, ekonomi, perang pemikiran dan kebudayaan. Senjata utama untuk menguasai Indonesia adalah dengan utang dan perjanjian-perjanjian. Amerika pun tetap tidak pernah meninggalkan politik adu domba warisan penjajahan sebelumnya. Entitas politik yang dianggap sebagai penantang penjajahan secara khusus dan perlawanan terhadap ideologi Kapitalisme global adalah umat Islam.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here