ISLAM TIDAK AKAN TEGAK DI TANGAN PARA MANIPULATOR AGAMA - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, November 3, 2019

ISLAM TIDAK AKAN TEGAK DI TANGAN PARA MANIPULATOR AGAMA

                                           


Oleh Abu Muhammad Al Fatih

            Setelah Menteri Agama Fachrul Razi membuat gaduh dengan isu larangan cadar dan celana cingkrang, Presiden Joko Widodo juga membuat pernyataan pro kotra tentang usulan “manipulator agama” untuk menyebut istilah radikalisme. Sebagaimana kita ketahui, beberapa waktu yang lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengusulkan perubahan istilah radikalisme menjadi manipulator agama. Presiden Jokowi sebelumnya meminta ada upaya serius untuk menangkal radikalisme. Jokowi meminta Menko Polhukam Mahfud Md mengkoordinasikan penangan masalah itu.)1

            Menanggapi polemik “manipulator agama”, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas belum dapat bicara lebih jauh, justru Anwar Abbas ingin mendengar dari banyak kalangan soal apa itu radikalisme. Dia mengaku belum dapat memahami apa yang dimaksud dengan radikalisme. “Apakah kalau orang misalnya ingin menyampaikan ajaran agamanya dan dia ingin memperjuangkan ajaran agamanya apakah dia dianggap radikal ”. Anwar pun menyinggung soal persoalan yang terjadi di Papua. Dia heran tidak ada penyematan istilah radikal untuk masalah di Papua. Karena itu, Anwar meminta semua pihak merenungkan soal diksi yang disematkan pada kelompok tertentu. “Ya kita renungkan dululah, apakah diksi itu tepat atau tidak,” kata dia. )2

            Sementara itu, Waketum PAN Hanafi Rais mempertanyakan istilah “manipulator agama” oleh Presiden Joko Widodo yang mirip dengan cara-cara orde baru. “Ya mau diganti istilah itu sama saja, istilah mengganti radikalisme dengan manipulator agama itu sama saja dulu cara pandang Orde Baru tidak mau dibilang korupsi, tapi dibilangnya kesalahan prosedur. Sama nggak kira-kira?”  Menurut Hanafi, Jokowi sebaiknya lebih bijaksana. Ia juga meminta Jokowi berhati-hati dalam memilih kosakata. )3

            Pimpinan Program Studi Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran Dr.Lina Meilinawati Rahayu menilai penggantian kata pelaku radikalisme menjadi “manipulator agama” seperti yang diusulkan oleh Presiden Joko Widodo adalah usaha untuk memperhalus makna. Dalam bahasa hal itu disebut sebagai eufemisme. Eufemisme atau ungkapan pelembut, dibuat karena ungkapan lama dianggap kasar atau kurang sedap nilai rasanya.

            Sementara itu, menurut Febri Taufiqurrahman, Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang, dalam penggantian penggunaan istilah kata “radikalis” menjadi “manipulator agama” bisa disebabkan karena kata “radikal” sendiri memiliki makna yang amat keras.

            Manipulator agama, ujar Febri, memiliki makna orang yang sedang memanipulasi atau memprovokasi agama dengan melakukan tindakan yang melanggar aturan hukum dan agama. Dalam pengertian itu, ujar Febri, ada keinginan untuk menghaluskan makna dari radikal atau radikalisme karena selama ini kata radikal lebih sering diartikan dalam sisi negatif. )4



MEMANIPULASI AGAMA : MENUAI PETAKA

            Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam kitab Al Fath ar-Rabbani wa Faydh ar-Rahmani, halaman 43 menjelaskan hancurnya agama Islam itu karena 4 hal yaitu :
     
      Tidak mengamalkan apa yang diketahui.

Allah SWT telah mencela orang yang banyak tahu agama, bahkan banyak ngomong
masalah agama, tetapi tidak melaksanakan apa yang dia ketahui dan sering dia bicarakan.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapakah kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Sungguh, Allah sangat murka karena kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan!” (QS ash-Shaff :2-3). Karena itu, sangat disayangkan jika orang banyak tahu agama tetapi sedikit mengamalkan agamanya. Banyak Muslimah yang tahu menutup aurat/berjilbab itu wajib, tetapi enggan melakukannya. Banyak pejabat, pegawai pemerintah, polisi, jaksa, hakim dan lain-lain yang tahu suap dan korupsi itu haram/dosa namun mereka tetap melakukannya. Banyak Muslim yang tahu bahwa menegakkan Syariah Islam itu wajib, tetapi tidak berusaha memperjuangkannya, seolah-olah itu bukan urusannya. Banyak Ulama yang tahu menegakkan Khilafah itu wajib. Mereka pun tahu kewajiban menegakkan Khilafah itu merupakan Ijma’ Sahabat dan Ijma’ Ulama salafush-shalih. Namun alih-alih berusaha menegakkannya, bahkan ada yang menganggap upaya tersebut tidak relevan untuk saat ini, memecah belah, dan mengancam NKRI.


2.    Mengamalkan apa yang tidak diketahui

Tidak sedikit orang yang awam agama melakukan banyak hal yang dia sendiri tidak tahu status hukumnya, apakah halal atau haram. Tidak sedikit Muslim/Muslimah yang memandang baik profesi sebagai artis, yang biasa membuka aurat, berkhalwat, berikhtilat, serta beragam maksiat lainnya, bahkan mereka berlomba-lomba untuk meraihnya. Tidak sedikit pula Muslim yang memandang mulia  demokrasi dan HAM, mereka mempraktikkannya bahkan memujanya dan menjadi pejuangnya. Pada hal Rasulullah SAW telah bersabda : “ Siapa saja yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka tertolak” (HR.Muslim)


        Tidak mencari tahu apa yang tidak diketahuinya

Banyak Muslim/Muslimah yang sadar dirinya awam dalam agama, tetapi tidak terdorong untuk mempelajari dan mendalami agama. Mereka seolah enjoy dengan kebodohan dalam agama.

4.    
                Menolak orang yang mengajari apa yang tidak diketahuinya. Tidak sedikit Muslim/Muslimah yang karena kesombongannya menolak ketika orang lain mengajarinya (mendakwahkannya). Pada hal Rasulullah SAW telah bersabda : “Sombong itu menolak kebenaran”.(HR.Muslim dan Abu Dawud). Tidak sedikit pula yang enggan belajar kepada orang lain hanya karena orang lain itu lebih muda, karena lebih rendah tingkat pendidikan formalnya, karena dari kelompok/harakah yang berbeeda, atau karena faktor-faktor lain.


            Keempat  hal diatas telah menghancurkan agama pada diri seorang Muslim/Muslimah. Akibatnya nyata, hukum-hukum Allah SWT dicampakkan dan dijauhkan. Kewajiban-kewajiban agama banyak ditinggalkan. Larangan-larangannya sering dilakukan dan bahkan menjadi kebiasaan. Yang halal disembunyikan. Yang haram ditonjolkan. Yang sunnah enggan diamalkan. Yang bid’ah malah dibesar-besarkan. Adat menjadi ibadat. Ibadat bercampur dengan khurafat dan maksiat.


Khatimah
            
           Saat ini Umat Islam mengalami keterpurukan yang luar biasa. Islam dianggap sebagai agama yang mengajarkan kekerasan dan terror. Bahkan mereka gencar mempropagandakan Islam sebagai agama penebar kebencian. Sebaliknya mereka berusaha menutupi Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.
            
           Munculnya Istilah radikal atau “manipulator agama” menjadi bukti, betapa Umat Islam lemah alam politik dan bernegara.
            

           Istilah radikalisme disematkan pada Islam sehingga lahir antithesis, “Perang Melawan Radikalisme”. Apalagi dibumbui dengan berbagai framing “radikalisme mengancam keutuhan negara”. Akibatnya, konotasi yang terbentuk dalam benak masyarakat jelas negative. Pendek kata, penggunaan istilah ini jelas merupakan propaganda untuk menyerang Islam, Umat Islam dan proyek perjuangan Islam yang dianggap mengancam kepentingan penjajah dan para kompradornya.
            
           
                Dengan konotasi seperti itu, Umat Islam tidak boleh menggunakan istilah ini untuk menyerang agamanya, menyerang sesama Umat Islam dan proyek perjuangan Islam. Pasalnya, di balik penggunaan istilah radikalisme jelas ada skenario untuk menyerang Islam, Umat Islam dan proyek perjuangan Islam. Yang lebih menyedihkan, ketika proyek “Perang Melawan Radikalisme” ini dilakukan oleh negara. Akibatnya,terjadilah pelecehan terhadap Islam secara massif, kriminalisasi ajaran Islam, Ulama, dan kaum muslimin.




Catatan Kaki :


No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here