ISLAMOPHOBIA DI BALIK ISU LARANGAN CADAR - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, November 2, 2019

ISLAMOPHOBIA DI BALIK ISU LARANGAN CADAR



Oleh : Abu Muhammad Al Fatih

Baru sepekan dilantik menjadi Menteri Agama, Fachrul Razi telah membuat gaduh di tengah umat Islam. Hal ini terkait rencana Menteri Agama melarang penggunaan niqab atau cadar. 

         Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Yaqut Cholil Quomas meminta Menteri Agama
Fachrul Razi untuk belajar serta mendalami terlebih dulu ideologi radikalisme dan terorisme ketimbang mengurusi gaya berbusana masyarakat yang menggunakan niqab atau cadar.Hal itu ia katakan merespon Fachrul yang berencana melarang pengguna niqab atau cadar masuk ke instansi milik pemerintahan. "[Menag] pelajari dulu itu, apa itu radikalisme, terorisme. Berhubungan nggak sama cara berpakaian orang? Kalau tidak berhubungan, ngapain sih bikin rencana aturan yang nggak perlu," kata Yaqut saat ditemui di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (31/10). Lebih lanjut, Ketua Umum GP Ansor itu memandang bahwa radikalisme dan terorisme tak memiliki keterkaitan dengan gaya berbusana seseorang. Ia menilai radikalisme dan terorisme merupakan sebuah ideologi yang bisa tertanam dalam pemikiran masyarakat. )1

Sementara itu, PPP meminta pemerintah mengkaji kembali wacana tidak diperbolehkannya memakai cadar atau nikab di instansi pemerintah. Larangan itu dinilai berpotensi melanggar hak asasi manusia (HAM). "PPP minta agar pemerintah mengkaji dulu soal akan diterapkannya larangan cadar ketika perempuan masuk atau berada di instansi pemerintahan. Kebijakan ini berpotensi melanggar HAM meski dari perspektif keamanan bisa saja dibenarkan," kata Sekretaris F-PPP DPR Achmad Baidowi dalam keterangannya, Jumat (1/11/2019). )2

Sedangkan Ketua Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto menilai pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi yang menyinggung penggunaan niqab atau cadar dan celana cingkrang telah menimbulkan kegaduhan. Menurutnya, belum ada korelasi pasti dan belum ada penelitian antara pakaian dengan paham radikal. Sebab, ada orang yang berpakaian rapi dan terlihat milenial malah menembak dan membunuh manusia, contohnya di New Zealand. )3

Islamofobia Terhadap Islam
Seorang Inggris, Runnymede Trust mendefinisikan Islamophobia sebagai rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan umat Muslim. Orang yang terjangkit Islamofobia biasanya memiliki persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya Barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis dari pada berupa suatu agama.


Islamofobia sesungguhnya sudah ada sejak Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam diutus. Saat itu tokoh-tokoh kafir Quraisy menolak dakwah Rasulullah saw dengan berbagai cara. Mereka mulai dengan cara yang halus yakni lobi dan tawaran harta, tahta dan wanita agar beliau menghentikan dakwah. Saat semua itu gagal, mereka mulai dengan cara yang kasar yakni “black campaign” dengan menyebut Rasulullah sebagai tukang sihir, lalu menganiaya hingga memboikot beliau dan pengikutnya selama sekitar tiga tahun.


Kita tahu, saat Rasulullah saw diutus, masyarakat Arab Jahiliah sudah memiliki keyakinan dan tatanan tersendiri yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Bagi mereka, kedatangan Islam dan Muhammad Shallalahu alaihi wa sallam adalah ancaman terhadap eksistensi dan kedudukan mereka selama ini. Mereka memahami betul, Muhammad Shallalahu alaihi wa sallam datang membawa kebaikan. Mereka pun tidak bisa membantah kebenaran risalah yang dibawa oleh beliau. Namun, mereka pun tahu persis, bahwa lambat-laun tata kehidupan yang selama ini mereka pertahankan akan digantikan oleh Islam. Ini yang mereka khawatirkan.


Saat ini pun kurang lebih demikian. Para elit politik dan ekonomi mati-matian membela sistem Kapitalisme karena mereka sudah mapan dan dibuat nyaman dalam sistem tersebut. Mereka tahu persis, sistem Kapitalisme tidak membawa kebaikan untuk masyarakat luas. Namun, para elit ini khawatir jika sistem Kapitalisme yang selama ini memperkaya kehidupan mereka digantikan oleh sistem Islam, maka eksistensi dan kedudukan mereka pun bisa jadi terancam. Sesungguhnya mereka tahu, sistem Islam akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Namun, karena alasan pragmatisme dan kepentingan dunia sesaat, mereka harus menolak Islam.


Jauh sebelum pro-kontra penggunaan cadar, sudah banyak pernyataan para tokoh yang mempertanyakan penerapan Syariat Islam. Ada yang menyatakan “kalau syariat Islam ditegakkan di negeri ini,maka akan terjadi disintegrasi bangsa”. Ada juga yang berpendapat “ Jika Syariat Islam ditegakkan di negeri ini,berarti bangsa ini mundur ratusan tahun kebelakang”. Bahkan ada tokoh politik dari partai berbasis Islam menyatakan ”Di negeri ini tidak mungkin ditegakkan Syariah Islam,karena masyarakatnya,masyarakat pluralis”. Tidak sedikit yang memberikan stigma negatif kepada pengemban dakwah dengan label Kelompok Islam radikal, Islam fundamentalis, Islam ekstrem, intoleran, anti-pluralisme, eksklusif dan sebutan-sebutan negatif lainnya.


Tuduhan miring terhadap Syariat Islam dan para pengembannya yang datang dari berbagai kalangan baik kafirin, munafiqin, zalimin, adalah sunatullah yang telah terjadi semenjak dimulainya perjuangan Islam oleh Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam, hingga sekarang dan akan terjadi di masa yang akan datang. Hal itu dimaksudkan agar jelas dan nyata antara yang haq dan bathil, yang halal dan haram, yang iman dan syirik, yang muslim dan yang kafir.


Orang yang sudah terlanjur memiliki pemikiran yang miring ketika menghadapai kaum muslimin yang menyerukan dan memperjuangkan diterapkannya Syariah Islam dan tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah, sejatinya mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki jalan menuju iman. Kalau mereka beriman, iman mereka semu, dan samar. Maka ketika menghadapi gerakan penegakkan Syariah Islam, sementara kesenangan hawa nafsunya terancam, maka ghorizatul baqo’ (naluri mempertahankan dirinya) muncul. Mereka akan mengerahkan segala potensi pemikirannya untuk menangkal pemikiran yang shoheh tentang tegaknya Syariat Islam, baik dengan manuver pernyataan politik, konferensi pers, berdalil yang tidak jelas asal-usulnya dalil dan yang paling tidak luwes mengerahkan masa melalui politik penyesatan dan manuver politik pembohongan umat demi kelestarian kesenangan yang selama ini dinikmati hawa nafsunya.


Khatimah

Sebagaimana pada masa awal-awal Islam di Mekah, Ketika Nabi Shallalahu alaihi wa sallam menyampaikan dakwah ditengah gemerlapnya kehidupan jahiliyah di Mekah, ketika Abu Lahab, Abu Jahal, dan kawan-kawannya sedang memuaskan diri,hidup dalam kesenangan hawa nafsu yang tidak mengenal haq dan batil, halal dan haram, mukmin dan musyrik, tiba-tiba muncul sosok manusia yang menyampaikan pemikiran yang mencela tata kehidupan mereka mengadakan gerakan yang berlawanan dengan pemikiran, pemahaman, dan perilaku mereka, maka Nabi Shallalahu alaihi wa sallam, langsung dicap sebagai orang sinting, orang ayan, orang gila dan tuduhan-tuduhan miring lainnya yang pada prinsipnya menolak Islam tanpa kompromi.


Pada awal dakwah di Mekah, bangsa quraisy sedikit sekali membicarakan dakwah Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam. Mereka menyangka bahwa Muhammad hanyalah seorang ahli syi’ir sehingga ucapannya tidak pernah melampaui perkataan para rahib dan pejabat mereka, dan masyarakat pun suatu waktu pasti akan kembali pada agama dan keyakinan nenek moyangnya. Apabila mereka melewati Nabi menyampaikan wahyu, mereka mencibirnya dengan kata-kata: ”inilah cucu Abdul Muthalib sedang menyampaikan berita dari langit.” Beginilah terus mereka melakukan pelecehan.


Sampai akhirnya, kaum Quraisy mulai menyadari bahaya dakwah Rasul terhadap kedudukan mereka. Bersepakatlah mereka untuk menentang, memusuhi dan memeranginya. Mereka menyadari, cara penting untuk menghancurkan dakwah Rasul adalah dengan menjatuhkan pribadinya (pembunuhan karakter) dan mendustakan kenabiannya. Dimunculkanlah tuduhan-tuduhan dan pertanyaan-pertanyaan memojokkan seperti: ”Bagaimana Muhammad ini,kok tidak dapat mengubah bukit Shofa dan Marwa menjadi emas”, ”Mengapa Jibril yang banyak disebut-sebut oleh Muhammad itu tidak pernah muncul di hadapan masyarakat”, ”Dia juga tidak dapat memindahkan perbukitan hingga Makkah tidak dikelilingi oleh bukit”, Mengapa dia tidak memancarkan air yang lebih segar dan banyak daripada air zamzam padahal dia sangat tahu akan kebutuhan penduduk terhadap air”, dan ungkapan lainnya. Intinya, menjatuhkan Rasulullah dengan menuduh ajaran-ajaran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disampaikannya dengan tujuan agar masyarakat menjauhi beliau dan Islam yang dibawanya.


Upaya mengembalikan aqidah dan hukum Syariat Islam sebagai konstitusi dan undang-undang dalam kehidupan masyarakat di dunia Islam adalah merupakan usaha mulia yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh .Lebih dari itu merupakan kewajiban dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita.Oleh karena itu,kini saatnya ujian iman bagi kaum muslim,turut memperjuangkan Islam demi kebahagiaan dunia-akherat atau netral bahkan menentangnya.


Wallâh a’lam bi ash-shawâb

Catatan kaki :
1) (CNN Indonesia | Jumat, 01/11/2019 05:40 WIB)
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191031114344-32-444428/pkb-soal-menag-larang-cadar-belajar-dulu-apa-itu-radikalisme

2) (news.detik.com Jumat 01 November 2019, 09:59)
 WIBhttps://news.detik.com/berita/d-4767972/ppp-berpotensi-langgar-ham-larangan-cadar-perlu-dikaji-dulu

3) (vivanews.com Kamis, 31 Oktober 2019 | 17:58 WIB)
 https://www.vivanews.com/berita/nasional/16411-larang-cadar-dan-celana-cingkrang-menteri-agama-jangan-aneh-aneh


No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here