Jangan Jadi Setan Bisu - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, November 28, 2019

Jangan Jadi Setan Bisu


Ali Maksum (Pimpinan Majelis Taklim Al Ukhuwah Kediri)

Dari Thariq bin Syihab, dia berkata, "Orang yang pertama memulai khutbah hari raya sebelum shalat adalah Marwan. Lalu ada seorang laki-laki berdiri mendekati Marwan kemudian berkata, "Bahwasanya shalat (dikerjakan) sebelum Khutbah." Marwan menjawab, "Itu telah terabaikan." Abu Said mengatakan, "Laki-laki ini telah menunaikan kewajibannya." Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya, kalau ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan kalau ia tidak mampu maka dengan hatinya, mengingkari (dengan hati) itu adalah iman yang paling lemah. " {Muslim 1/50}

Dari Abdullah bin Mas'ud RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang nabi yang diutus oleh Allah Ta'ala kepada umat sebelum aku, kecuali nabi tersebut mempunyai pengikut atau pendukung yang memegang teguh ajarannya dan mengerjakan perintahnya. Akan tetapi setelah itu datang penerus mereka, dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan serta mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barang siapa berjuang menghadapi mereka dengan tangannya maka ia seorang mukmin, barang siapa berjuang menghadapi mereka dengan lisannya maka ia adalah seorang mukmin, dan barang siapa berjuang menghadapi mereka dengan hatinya maka ia adalah seorang mukmin. Tidak ada keimanan walaupun sebesar biji Sawi selain yang disebutkan itu." Abu Rafi berkata, "Maka saya sampaikan hadits itu kepada Abdullah bin Umar tetapi dia tidak mau mempercayainya, lalu datanglah Ibnu Mas'ud kemudian ia turun ke Qanaah. Abdullah bin Umar RA pun mengikuti saya menuju Ibnu Mas'ud RA, lalu saya sampaikan hadits kepada Ibnu Umar kemudian saya pergi bersamanya. Tatkala kami duduk saya bertanya kepada Ibnu Mas'ud tentang hadits tersebut, kemudian Ibnu Mas'ud menyampaikan hadits itu kepada saya (persis) sebagaimana yang saya sampaikan kepada Ibnu Umar. {Muslim 1/50-51}

Dari kedua hadist diatas jelas sebuah kewajiban seorang muslim untuk mencegah terjadinya kemungkaran, jika tidak berani dengan tangan, maka dengan ucapan, dan jika tidak berani dengan ucapan maka dengan hati dan itu selemah-lemahnya iman.

Seharusnya para ulama menjadi garda terdepan menyuarakan kebenaran dengan tidak berdiam diri melihat kemaksiatan yang ada di era demokrasi sekuler hari ini, termasuk juga kita semua umat Islam -- hal ini akan menghindarkan kita menjadi apa yang disebut oleh Abu 'Ali Ad-Daqqaq an-Naisaburi as-Syafie sebagai syaithan bisu atau syaithan yang bisa bicara.

Dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah disebutkan, "Yang tidak meyuarakan kebenaran adalah syaitan bisu." (Lihat hlm 62 bab as-shumti). Ungkapan ini bukan hadis, tapi dikutip oleh banyak ulama dalam fatwa dan kitab-kitab mereka. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam Majmu 'fatawa. Ibnu al-Qayyim juga menukilnya. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim juga mengutipnya dari Abi al-Qasim al-Qusyairy yang meriwayatkan dari Abu 'Ali Ad-Daqqaq an-Naisaburi as-Syafie.

Atau malah menjadi syaithan yang bisa berbicara yakni ketika apa yang disampaikan adalah perkara yang bathil. Assakitu 'anil haqqi syaitahonun akhros, wal mutakallimu bil bathili syaithonun nathiqu (Orang yang diam dari menyampaikan kebenaran adalah syaitan yang bisu, dan orang yang berbicara kebathilan adahlah syaitan yang bisa bicara).

Setan, menurut sebagian ulama, berasal dari kata syathana; maknanya adalah ba'uda, yakni jauh. Maksudnya, setan adalah sosok yang jauh dari segala kebajikan (Ibn Katsir, I/115, Az-Zamakhsyari, I/39). Setan juga berarti sosok yang jauh dan berpaling dari kebenaran. Karena itu, siapa saja yang berpaling dan menentang (kebenaran), baik dari golongan jin ataupun manusia, adalah setan (Al-Qurthubi, I/90, al-Alusi, I/166).

Sebagaimana gambaran yang bisa kita lihat pada Surat al-An'am ayat 112 yang berbunyi : "Kami mengadakan bagi tiap-tiap Nabi suatu musuh, syaitan-syaitan daripada manusia dan jin, yang mewahyukan ucapan palsu yang indah-indah kepada satu sama lain, untuk menipu; dan sekiranya Pemelihara kamu menghendaki, tentu mereka tidak membuatnya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka mengada-adakan." (TQS Al-An'am: 112)

Semoga kita tetap berani menyuarakan kebenaran, agar tidak terkategori syaithan yang bisu ataupun syaithan yang bisa bicara. Qul al-haqqa walau kāna murra" (katakanlah kebanaran itu walaupun pahit).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here