Jangan Melecehkan Ajaran Islam Terkait Khilafah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, November 2, 2019

Jangan Melecehkan Ajaran Islam Terkait Khilafah


Boedihardjo, S.H.I. (Ketua LBH PELITA UMAT Korwil Jatim)

Akhir - akhir ini masih ada saja individu - individu yang mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait seruan ataupun pelarangan individu menyebarkan ajaran Islam khilafah Islamiyah.

Bila ditelaah pernyataan tersebut dapat dinilai memenuhi unsur tindak pidana penistaan agama. Unsur perbuatan tindak pidananya berupa:

1. Permusuhan, Penyalahgunaan, atau Penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia adalah perbuatan yang dapat dipidana berdasarkan Pasal 156a KUHP;

2. Bahwa yang dimaksud dengan sengaja mengeluarkan perasaan atau perbuatan Permusuhan adalah menyatakan perasaan permusuhan atau kebencian atau meremehkan agama tertentu, sedangkan bagi individu yang menyatakan “akan melarang Khilafah". Pernyataan ini dapat dinilai sebagai bentuk permusuhan atau kebencian terhadap ajaran agama Islam. Khilafah bukan ajaran sesat, melainkan bagian dari ajaran Islam sama seperti haji, sholawat,dzikir, berkata jujur dll.

3. Perlu diingat unsur utama untuk dapat dipidananya Pasal 156a adalah unsur sengaja jahat untuk memusuhi, membenci dan/atau menodai ajaran agama (malign blasphemies). Sehingga siapapun yang menyatakan permusuhannya terkait Khilafah bukanlah kali pertama dan dinyatakan di hadapan dan/atau ditujukan kepada publik, artinya dapat dinilai unsur sengaja terpenuhi

4. Berikutnya terkait unsur penodaan adalah berupa menista atau menodai suatu agama, pernyataan siapapun yang menyatakan Khilafah adalah Ideologi sesat dapat dinilai sebagai bentuk penistaan atau menodai agama Islam. Ajaran Islam yang agung dibangun narasi sebagai sebuah ideologi yang kemudian ada dugaan kuat disandingkan narasi bahaya dengan ideologi Komunis. Maka, pernyataan tersebut termasuk menebar kebencian terhadap ajaran Islam.

Kami mengingatkan sekali lagi, bahwa khilafah adalah ajaran Islam. Allah SWT memerintahkan kita menaati ulil amri (QS an-Nisâ’ [4]: 59). Berdasarkan dalâlah al-iltizam, perintah menaati ulil amri merupakan perintah mewujudkan ulil amri itu sehingga kewajiban tersebut terlaksana. Karena itu ayat tersebut pun mengandung petunjuk tentang kewajiban mewujudkan ulil amri (Khalifah) dan sistem syar'i-nya (Khilafah).

Kedua: Dalam banyak ayat al-Quran, Allah SWT mewajibkan kaum Muslim menegakkan syariah Islam (lihat: QS. al-Baqarah [2]: 208, QS al-Maidah [5]: 48). Namun, penerapannya takkan sempurna kecuali oleh Khilafah. Karena itu menegakkan Khilafah adalah wajib. Ini sesuai kaidah syar'iyyah:

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Suatu perkara yang menjadikan suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan perkara tersebut maka perkara itu hukumnya pun wajib.

Para ulama pun menjadikan kaidah ini sebagai penguat hujjah atas kewajiban menegakkan Khilafah. Penerapannya dijelaskan oleh Imam al-Naisaburi (w. 850 H):

 "Umat ini (ulama) bersepakat bahwa yang diseru dari firman-Nya, 'Cambuklah,’ adalah Imam (Khalifah) hingga mereka pun berhujjah dengan ayat ini atas kewajiban mengangkat Imam (Khalifah). Sebab, sesungguhnya suatu perkara yang menjadikan suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan perkara tersebut, maka perkara itu menjadi wajib adanya.

Ada banyak dalil-dalil a-Sunnah yang mendasari kewajiban menagkkan Khilafah. Nabi saw., misalnya, bersabda:

«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

Sungguh Imam (Khalifah) itu perisai; orang-orang akan berperang mendukung dia dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya (HR Muttafaq 'alayh).

Hadis ini mengandung pujian yang sangat kuat terhadap sosok Khalifah. Pasalnya, yang maksud dari al-Imâm dalam hadis ini adalah Khalîfah. Menurut al-Mulla al-Qari (w. 1041 H), pujian tersebut—dalam ilmu balaghah—ditunjukkan oleh dua hal: ungkapan qashr (pengkhususan) dan tasybîh mu’akkad (penyerupaan tegas) yang menyerupakan Khalifah sebagai perisai kaum Muslim. Jika keberadaan "hal yang dipuji" tersebut menjadi sebab tegaknya hukum Islam, dan ketiadaannya menyebabkan hukum Islam terbengkalai, maka pujian tersebut merupakan qarînah jazîmah (indikasi tegas) bahwa “hal yang dipuji” tersebut hukumnya wajib, yakni tegaknya sistem Khilafah.

Dalil lainnya adalah sabda Rasulullah saw. berikut:

«مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»

Siapa saja yang mati, sedangkan di pundaknya tiada baiat (kepada Khalîfah), maka ia mati seperti mati jahiliah (HR Muslim).

Baiat secara terminologis adalah hak umat dalam melaksanakan akad penyerahan Kekhilafahan. Para ulama menegaskan bahwa baiat merupakan metode syar'i pengangkatan Khalifah.

Nabi saw. telah mewajibkan adanya baiat di pundak setiap Muslim, dengan qarînah jâzimah adanya ancaman tasybîh: mati seperti mati jahiliah. Menurut al-Hafizh Ibn Hajar al-'Asqalani (w. 852 H), maksudnya adalah mati dalam keadaan bermaksiat.

Hadis ini mewajibkan adanya baiat di atas pundak setiap Muslim. Baiat tidak diberikan kecuali kepada Khalifah. Ini menjadi dalil atas kewajiban mengadakan Khalifah, yakni menegakkan sistem Khilafah, dalam tempo tiga hari. Imam Ibn Hubairah (w. 560 H) menjelaskan hadis ini:

"Jika tiada Imam/Khalifah baginya, ini menunjukkan bahwa tidak boleh terjadi kekosongan yang meliputi kaum Muslim, lebih dari tiga hari sebagai tempo syura' (dari ketiadaan Khilafah), kecuali di pundak mereka terdapat baiat terhadap seorang khalifah tempat kembali mereka."

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here