Membangun Karakter Semu jika Tidak Dikaitkan dengan Keyakinan - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, November 21, 2019

Membangun Karakter Semu jika Tidak Dikaitkan dengan Keyakinan


Oleh: Mochamad Efendi (Pengamat el-Harokah Research Center)


Membentuk peserta didik yang berkarakter kuat adalah salah satu tujuan pendidikan kita bahkan ini menjadi terobosan pertama yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, disamping juga terobosan yang lain dalam penggunaan teknologi dan menyiapkan lulusan yang berorientasi kerja. Nampak terobosan yang bagus namun ada satu hal yang kurang dalam orientasi pendidikannya yang tidak menyertakan unsur agama dalam pembentukan karakter anak bangsa. Kenapa unsur yang penting ini terlewatkan?


Lima kebijakan  tersebut, kata Erlangga, adalah pertama, prioritaskan pendidikan karakter dan pengamalan Pancasila. Kedua potong semua regulasi yang menghambat terobosan dan peningkatan investasi. Ketiga, kebijakan pemerintah harus kondusif untuk menggerakkan sektor swasta agar meningkatkan investasi di sektor pendidikan. Keempat, semua kegiatan pemerintah berorientasi pada penciptaan lapangan kerja dengan mengutamakan pendekatan pendidikan dan pelatihan vokasi yang baru dan inovatif. Serta kelima, memperkuat teknologi sebagai alat pemerataan baik daerah terpencil maupun kota besar untuk mendapatkan kesempatan dan dukungan yang sama untuk pembelajaran. (https://tekno-tempo-co.cdn.ampproject.org/v/s/tekno.tempo.co/amp/1273133/5-kebijakan-mendikbud-nadiem-untuk-kembangkan-pendidikan?)

Unsur agama terlupakan dalam membangun karakter peserta didik atau memang tidak  dianggap penting dalam sistem demokrasi. Bahkan, agama dianggap membawa virus jahat dan benih radikalisme ketika agama dibawa ke ranah hubungan manusia dengan yang lain. Agama dikebiri dalam ranah ritual kegamaan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya saja. Agama dianggap sebagai urusan pribadi yang tidak boleh ada saat mengatur kehidupan.

Mampukah nilai-nilai budi pekerti secara umum mampu membentuk karakter peserta didik yang kuat tanpa mengkaitkannya dengan keyakinan mereka. Karakter semu akan terbentuk dengan mengedepankan pragmatisme dalam bersikap. Mereka akan menganggap sesuatu itu benar jika itu menguntungkan dirinya, namun nilai-nilai kebaikan yang diajarkan akan ditinggalkan jika mereka merasa itu akan menyulitkan dirinya. Mereka akan berbuat agar terkesan baik dihadapan manusia yang lain. Sebuah pencitraan sering dilakukan sebagai hasil pendidikan karakter dalam sistem sekular yang memisahkan agama dengan kehidupan.

Sementara karakter kuat akan terbangun jika dikaitkan dengan keyakinan peserta didik. Nilai-nilai kebenaran akan tertanam kuat dalam dadanya karena dikaitkan dengan keyakinannya. Kesadaran hubungan dengan Tuhannya akan membuat peserta didik terus melakukan  kebaikan meskipun tidak ada yang melihat kerena dia yakin bahwa Allah Maha Tahu apapun yang dia kerjakan bahkan saat sesuatu itu tersembunyi didalam hati manusia sehingga tidak ada yang sia-sia, sekecil apapun kebaikan itu. Inilah karekter yang sesungguhnya yang mampu menjaga nilai-nilai kebenaran dimanapun mereka berada karena kesadaran hubungannya dengan Allah yang menciptakan mereka.

Mereka akan belajar sungguh-sungguh karena itu perintah Allah bukan karena untuk mendapatkan nilai bagus atau agar mendapat ranking 1 di kelas. Mereka akan terjaga dari perbuatan curang. Mereka tidak mau menyontek karena kecurangan sangat dibenci oleh Allah meskipun itu bisa mengantarkanya untuk meraih kesuksesan.

Saat mereka besar nanti akan amanah dalam tugas dan pekerjaan. Mereka tidak akan menyalah gunakan jabatan karena takut pada Allah. Mereka juga tidak akan tergoda melakukan korupsi meskipun tidak ada yang melihat karena mereka yakin bahwa Allah Maha Melihat.

Peserta didik dengan kepribadian khas yang dikaitkan dengan keyakinan mereka akan mampu menangkal berbagai pengaruh buruk yang datang dari lingkungannya. Sementara nilai-nilai kebaikan yang dibangun diatas nilai-nilai budi pekerti umum tanpa dikaitkan dengan keyakinan atau agama peserta didik hanya akan memunculkan karakter semu bukan pribadi bertaqwa.

Dalam sistem Islam disamping pendidikan bisa mengantar peserta didik untuk menguasai keahlian atau ilmu yang diperlukan dalam dunia kerja, pendidikan harus bisa membentuk karakter peserta didik yang memiliki kepribadian Islam yang menjadi benteng mereka dari pengaruh buruk dan menjaga mereka dari perbuatan yang dilarang oleh agama mereka. Dengan pembentukan karakter yang dikaitkan dengan keyakinannya akan membentuk peserta didik yang bertaqwa yang melakukan kebaikan karena Allah dan menjauhi perbuatan tercela juga karena Allah.

Dalam membentuk kepribadian Islam melalui sistem pendidikan Islam, minimal ada 3 hal yang harus menjadi perhatian. Pertama, sinergi antara sekolah, masyarakat, keluarga dan negara. Kedua, kurikulum yang terstruktur dan terprogram mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi. Ketiga, berorientasi pada pembentukan tsaqâfah Islam, kepribadian Islam, dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here