Mengangkat Pemimpin yang Jujur - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, November 3, 2019

Mengangkat Pemimpin yang Jujur

M. Arifin (Tabayyun Center) 

Perjalanan hidup Nabi saw. telah diatur oleh Allah SWT, yang kelak mengantarkannya menjadi pemimpin agung.

Pidato yang disampaikan baginda Nabi saw. kepada kaum Quraisy sebagai berikut:

الحمد لله أحمده وأستعينه، وأومن به وأتوكل عليه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له. ثم قال: إن الرائد لا يكذب أهله. والله الذي لا إله إلا هو، إني رسول الله إليكم خاصة وإلى الناس عامة [أخرجه ابن الأثير في الكامل فيي التاريخ، ج 1/478]

"Segala puji hanya milik Allah. Hamba memuji dan meminta pertolongan kepada-Nya. Hamba beriman dan berserah diri kepada-Nya. Hamba bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya." Lalu bersabda, "Sesungguhnya seorang pemimpin tidak akan membohongi rakyatnya. Demi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah, kecuali Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang secara khusus diutus kepada kalian, dan kepada seluruh umat manusia secara umum.”(Dikeluarkan oleh Ibn al-Atsir dalam al-Kamil fi at-Tarikh, juz I/478)

Hendaknya pemimpin adalah pemimpin yang sholih. Pemimpin yang dicintai rakyatnya, karena dia mencintai rakyatnya. Didoakan, karena dia juga mendoakan mereka. Ini merupakan hubungan timbal balik, meminjam istilah Ibn Katsir, "al-jaza' jins al-'amal" (balasan sesuai dengan jenis amalnya). Ini tidak mungkin terjadi, jika seorang pemimpin ini tidak jujur kepada dirinya, tidak jujur kepada rakyatnya, dan tidak jujur kepada Rabb-nya. Karena dicintai merupakan efek timbal balik, maka tidak mungkin seorang pemimpin dicintai sedemikian rupa, jika dia tidak benar-benar mencintai rakyatnya. Dengan melayani seluruh kemaslahatan mereka, dengan tulus, tanpa pamrih, apalagi sekedar citra. Ini membutuhkan kejujuran (ketulusan).

Sebaliknya, pemimpin yang tidak jujur, pasti tidak akan mendapat simpati, apalagi cinta dari rakyatnya. Ketidakjujurannya pula yang akan mengantarkannya untuk terus-menerus menutupi kebohongannya, agar tak terlihat oleh rakyatnya. Akibatnya, dia pun dipecundangi oleh rakyatnya sendiri. Jika sudah begitu, sang pemimpin pun tidak segan melaknat rakyatnya sendiri, dan efek timbal baliknya, dia pun dilaknat oleh rakyatnya sendiri. Inilah pelajaran yang berharga dari jatuh-bangunnya rezim pembohong di seluruh dunia.

Begitulah Nabi saw. mengajarkan resep kepemimpinan bagi para pemimpin. Ketika para pemimpin itu tidak jujur, dia akan membuat kebijakan yang memberatkan rakyatnya. Berbagai kebohongan pun disusun agar tampak rasional. Dengan alasan penghematan, boros, APBN defisit, penimbunan, dan sebagainya, BBM dinaikkan. Padahal, senyatanya kenaikan itu untuk memenuhi nafsu serakah para cukong di belakangnya. Lebih mengherankan, meski sudah jelas membebani rakyatnya, masih saja bisa berbohong, bahwa dengan kenaikan BBM akan mengurangi angka kemiskinan. Padahal, jelas harga sembako baik, tarif angkutan umum naik, dan inflasi pun tak terelakkan. Pendek kata, rakyat sudah ditindas, dibohongi lagi.

Wajar, jika Nabi saw. murka terhadap para pemimpin seperti ini, selain disebut sebagai "syarar aimmatikum" (para pemimpin kalian yang paling buruk), mereka juga didoakan Nabi:

اللهم من ولي من أمر أمتي شيئا فشق عليهم فاشقق عليه [رواه أحمد]

 "Ya Allah, siapa saja yang diberi mandat untuk mengurus urusan umatku, lalu dia memberatkannya, maka beratkanlah dia." (HR. Ahmad)

Karena itu, Nabi pun tidak pernah berbohong kepada dirinya, umat, rakyat apalagi kepada Rabb-nya. Bahkan, sekedar isyarat bohong pun, Nabi saw. tidak sanggup melakukannya. Begitu rupa kejujuran Nabi saw.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here