Moderasi Beragama atau Berislam secara Kaffah - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Thursday, November 21, 2019

Moderasi Beragama atau Berislam secara Kaffah


Oleh: Mochamad Efendi (Pengamat el-Harokah Research Center)


Apakah bisa pemikiran yang ekstrim bisa disatukan jika mereka memiliki landasan pemikiran yang berbeda? Apakah boleh mencampurkan adukkan yang haq dan yang batil dalam beragama?  Dalam beragama kita harus kaffah karena itu adalah perintah Allah, bukan setengah hati apalagi ada usaha untuk mendangkalkan aqidah umat.

Pemikiran kita yang tidak sesuai dengan ajaran Islam harus diupdate agar sesuai dengan Islam bukan sebaliknya merombak ajaran Islam agar sesuai dengan pemikiran penguasa rezim. Mengambil jalan tengah bukan berarti meninggalkan satu ajaran Islam yang dianggap bermasalah, tapi Islam harus diambil secara keseluruhan tanpa memilih ajaran yang disukai saja yang dianggap tidak mengadung virus radikalisme. Islam adalah ajaran yang mulia dan akan membawa rahmatan lil 'alamin jika diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

3 profesor baru kemenag dikukuhkan untuk melanjutkan moderasi beragama, "Masing-masing atas nama Prof. Muhammad Adlin Sila, Prof. Farida Hanun, dan Prof. Idham. Untuk itu saya mengucapkan selamat karena telah mencapai puncak gelar tertinggi sebagai jabatan fungsional peneliti. Semoga mementum ini bisa menjadi pemicu kita semua untuk senantiasa berusaha mencapai prestasi yang tertinggi," kata Menag Fachrul Razi pada acara Orasi Pengukuhan Profesor Riset, di kantor Kementerian Agama, Jalan M.H. Thamrin, Kebon Sirih, Menteng, Kota Jakarta Pusat, Selasa (19/11/2019). "Mengutip dari orasi bapak Prof. Muhammad Adlin Sila tadi, moderasi beragama merupakan upaya menghadirkan jalan tengah atas dua kelompok ekstream antara liberalisasi dan konservatisme dalam memahami agama. Tujuannya tak lain untuk menghadirkan keharmonisan di dalam kehidupan kita sebagai sesama anak bangsa," ucapnya.

Liberalisasi adalah kebebasan dalam segala hal yang dalam kehidupan lebih memilih aturan buatan manusia. Dengan asas ini, setiap individu bebas melakukan perbuatan. Negara tak memiliki hak mengatur. Perbuatan itu hanya dibatasi oleh undang-undang yang dibuat sendiri, dan tidak terikat dengan aturan agama. Dengan demikian, liberalisme merupakan sisi lain dari sekulerisme, yaitu memisahkan dari agama dan membolehkan lepas dari ketentuan agama. Sehingga asas ini memberikan kebebasan kepada manusia untuk berbuat, berkata, berkeyakinan, dan berhukum sesukanya tanpa dibatasi oleh syari’at Allah. Manusia menjadi tuhan untuk dirinya dan penyembah hawa nafsunya. Manusia terbebas dari hukum, dan tidak diperintahkan mengikuti ajaran Ilahi. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [al-An’âm/6:162-163].

Apakah pemikiran liberalisasi bisa dipertemukan dengan pemikiran  konservatisme yang menginginkan Islam bisa diterapkan secara kaffah dalam kehidupan. Dua pemikiran yang bertolak belakang tidak bisa disatukan jika perbedaan itu menyangkut prinsip dalam beragama. Liberalisme dan konservatisme memiliki landasan pemikiran yang berbeda sehingga menyatukan mereka adalah ilusi yang ingin dibangun oleh rezim.

Negara harus memilih antara liberalisme dan ajaran Islam kaffah. Leberalisme tidak menginginkan Islam diterapkan secara kaffah padahal ini adalah perintah Allah. Liberalisme atau wajah lain dari sekularism terbukti gagal membentuk negara ideal. Banyak permasalahan muncul akibat dari diterapkannya liberalisme dalam kehidupan. Penyimpangan perilaku yang menjijikkan semakin marak. Kecurangan dianggap biasa dan dimenangkan dalam sistem sukularisme. Korupsi menggurita dan tidak bisa dihentikan oleh aturan buatan manusia yang tidak tegas dan memenuhi unsur keadilan untuk seluruh rakyat.

Negara harus memilih sistem khilafah yang akan menjamin diterapkannya Islam secara kaffah dalam kehidupan jika ingin masalah yang dihadapi negeri ini dapat diselesaikan secara tuntas dengan aturan sempurna yang berasal dari Yang Maha Sempurna. Rakyat hidup aman dan sejahtera dalam naungan sistem khilafah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here