Refleksi Diri BWA dalam buku berjudul : Filantropi Islam, Sejarah dan Kontestasi Masyarakat Sipil dan Negara di Indonesia - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, November 16, 2019

Refleksi Diri BWA dalam buku berjudul : Filantropi Islam, Sejarah dan Kontestasi Masyarakat Sipil dan Negara di Indonesia

Slamet Sugianto 

Menarik membaca buku berjudul Filantropi Islam, Sejarah dan Kontestasi Masyarakat Sipil dan Negara di Indonesia oleh Dr. Amelia Fauzia. Seolah merefleksi diri arti eksisting diri bergelut kurang lebih kurun waktu 2 tahun menyatu dengan salah satu filanthropi Islam. Sebuah kegiatan yang dulu dimaknai berbeda karena dianggap sama layaknya men take over tugas kewajiban negara. Sebagaimana tumbuh kembang kegiatan lain sejenis yang berkelindan di antara lembaga lembaga pendidikan formai, informal dan non formal. Atau kegiatan filanthropi lain yang sejenis. Mindset dikotomis yang mencoba memisahkan antara aktifitas kerja dengan dakwah nampaknya mengaburkan nilai strategis keberadaan filanthripi Islam dalam lintasan sejarah di Indonesia. Perubahan kebijakan politik semakin menggugah cakrawala pemikiran para pengemban dakwah yang melihat kegiatan filanthropi Islam dengan dakwah secara dikotomis menjadi semakin open mind. Padahal sudah muncul numlecatuur tabanni mashalih al umah sebagai ruang ekspressi giat filanthropi. Meski sepenuhnya belum menjadi mindset dominan hingga merata ke semua pengemban dakwah, namun eksisting filanthropi Islam dalam sebuah entitas dakwah lambat laun dinilai strategis keberadaannya.

Buku ini menjelaskan keberadaan filanthropi Islam yang selalu melekat pada kronologis historis gerakan sosial, budaya, ekonomi dan politik berbagai organisasi masyarakat. Hingga merepresentasikan kekuatan sipil sebagai penyeimbang kekuatan negara. Keberadaannya menjadi faktor penguat logistik eksternal selain logistik internal anggota sebuah organisasi masyarakat. Support logistik eksternal yang equivalen dengan masifikasi kekuatan pembesaran tubuh dan opini. Kegiatan filanthropi Islam seolah menjadi ushlub kanalisasi masifikasi kedua kekuatan tersebut. Karena berisi tentang edukasi, akumulasi dan distribusi yang menjadi mediator dan fasilitator dari simpul simpul umat.

Filanthropi Islam sebagai penyeimbang kekuatan negara bisa dimaknai sebagai mitra negara yang direpresentasi oleh rezim penguasa untuk wilayah bidang garap yang tidak bisa kelar ditangani oleh negara. Isu isu tentang keterbelakangan, keterasingan, kemiskinan aqidah, pendidikan, kesehatan, sarana sarana umum seperti air bersih, listrik menjadi isu isu strategis. Terutama saat bicara soal pemerataan pembangunan dalam desain kebijakan negara. Filanthropi Islam bisa hadir memenuhi ruang ruang persoalan krusial itu. Inilah yang menjadikan filanthropi Islam sebagai bagian dari potensi solusi komprehensif negeri. Meski di sisi lain dimaknai sebagai potensi sangat berbahaya yang mengancam eksisting rezim status quo yang lemah tidak memiliki keberdayaan ekonomi dan politik. Sudahkah BWA merefleksikan diri sebagaimana digambarkan oleh buku karya Dr. Amelia Fauzia ? Hingga menyadari bahwa ada potensi besar eksistensinya sebagai sebuah entitas penyeimbang kekuatan negara ? Semoga tulisan singkat ini memberi kesadaran internal BWA tentang arti strategis giatnya dalam mewujudkan kemaslahatan umat. Hingga terbangun soliditas tim mulai dari pusat hingga ke bawah untuk all out menjadikan BWA sebagai salah satu ushlub kanal dakwah. Aamiin. []

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here