Rotasi Titi Mangsa - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Friday, November 22, 2019

Rotasi Titi Mangsa


Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD) 

Secara global, kaum Muslim sekarang banyak mengalami tekanan pada saat ini. Musuh-musuh Islam menganggap kaum Muslim yang konsisten mempraktekkan agamanya akan menjadi masalah potensial. Mereka ingin kaum Muslim mempraktekkan agamanya dengan cara yang mereka suka.

Sementara di Indonesia, begitu semangatnya pemerintah saat ini utuk tetap membubarkan ormas Islam seperti HTI, maka tentu menimbulkan pertanyaan. Mengingat, masih banyak urusan-urusan rakyat yang penting yang justru terabaikan. Beban ekonomi rakyat yang semakin berat, harga-harga yang semakin meningkat, krisis sumber pendanaan negara, utang yang semakin bertambah, belum lagi kriminalitas yang semakin parah. Anak-anak muda semakin brutal dengan geng motornya, ditambah pemakai narkoba di kalangan remaja yang semakin mengkhawatirkan.

Padahal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tegak dan bergerak untuk Islam, konsisten menyibak kelemahan, korupsi, kemunafikan dan kerusakan nilai-nilai kapitalisme, sekularisme, liberal. HTI gencar kampanye untuk membongkar kebohongan dan argumen-argumen palsu dari negara-negara pengusung kapitalis dan penguasa yang menipu rakyatnya. Berkali-kali HTI melakukan protes atas ketidakadilan dengan terorganisir rapi, berbicara di tengah-tengah publik dan menyampaikan baik secara umum maupun detil, menunjukkan kepada masyarakat bahwa solusi Islam sebagai sebagai suatu alternatif.

Lalu, apakah rezim yakin dengan jenis 'kebebasan' yang menyerukan pelarangan organisasi-organisasi Islam politik dan menutup dialog? Hari ini kaum muslim masih melihat standar ganda dari upaya dan propaganda pelarangan organisasi Islam Ideologis. Jika selama ini  Anda melihat jargon kebebasan dikatakan bebas dan tidak ada diskriminasi. Namun, jika berkaitan dengan kebebasan untuk menghadirkan Islam sebagai solusi negara, mereka tidak punya jawaban, selain melarang dan mencegah untuk tumbuh, lalu dilempar isu radikalisme kepada pengembannya. Apakah model ini yang akan dipraktekkan di negeri ini?

Kita pun patut curiga apa yang terjadi sekarang adalah penyesatan politik. Pertama, mengalihkan perhatian masyarakat dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang semakin menyulitkan mereka seperti kenaikan tarif listrik dan kelangkaan premium. Masyarakat pun disibukkan dengan urusan-urusan ideologi. Rezim ini tampaknya lupa, pengalihan perhatian sifatnya hanyalah sementara, masyarakat pun tidak bodoh. Apalagi kalau beban ekonomi mereka semakin parah.

Kedua, mengalihkan dari persoalan yang sesungguhnya dihadapi oleh bangsa ini. Seolah-olah yang menjadi biang kerok berbagai persoalan sekarang adalah Islam. Seolah-olah bangsa ini diambang kehancuran karena adanya kelompok yang mereka tuding militan, ekstrimis, radikal, yang ingin memperjuangkan syariah Islam dan khilafah. Padahal, sangat nyata yang menghancurkan negeri ini, justru ideolog kapitalisme yang diadopsi dan diterapkan di negara ini oleh rezim penguasa. Bagaimana mungkin kesalahan ditimpakan kepada Islam yang belum diterapkan?

Untuk menutupi kedok, merekapun berlindung pada narasi 'Pancasila', padahal kenyataan yang diterapkan sekarang adalah kapitalisme liberal yang mengatasnamakan Pancasila. Lihatlah seluruh produk UU kita dalam bidang ekonomi maupun politik, nyaris semua dijiwai pandangan liberal. Mulai dari UU Migas, UU Kelistrikan, UU Sumber Daya Alam. Kebijakan negara pun jelas sangat liberal seperti menghilangkan subsidi, privatisasi BUMN, utang luar negeri. Kebijakan inilah yang merusak negara dan menyengsarakan rakyat.

Ketiga, hiruk pikuk sekarang, sangat mungkin untuk menutupi kejahatan-kejahatan para elite politik yang kerap kali mengklaim dirinya paling pancasilais sambil menuding lawan politiknya anti Pancasila. Bukankah mereka yang mengklaim pancasilais itu terlibat berbagai kasus korupsi besar seperti BLBI dan Bank Century? Mereka pun terlibat dalam penjualan aset-aset negara. Tidak hanya itu, para politisi liberal dan aktivis  LSM liberal yang ngotot membubarkan ormas Islam,  memiliki rekam jejak sebagai pendukung disintegrasi Timor-timur atas nama kebebasan berpendapat.

Sementara itu, klaim "Saya Pancasila" seraya menuding pihak lain anti Pancasila, sesungguhnya mengulangi kejahatan penguasa represif sebelumnya. Pancasila oleh rezim berkuasa, menjadi palu politik menggebuk lawan politiknya, atau yang mengancam kepentingan keserakahan elite politik. Termasuk untuk menggembirakan tuan-tuan politik mereka dari negara-negara imperialis. Menunjukkan pelayanan mereka yang totalitas demi menjaga eksitensi kepentingan penjajahan kapitalisme di negeri ini.

Perlu kita tegaskan, penyesatan politik ini tidak akan ampuh. Barang busuk tetaplah busuk. Penyesatan ini akan gagal menutupi kebusukan sistem kapitalisme liberal yang diterapkan sekarang. Termasuk tidak bisa menyembunyikan kejahatan-kejahatan politik, para elite politik penguasa. Karena selama Indonesia masih menerapkan kapitalisme liberal, rezim yang berkuasa pasti gagal melayani rakyat dengan baik, gagal menyejahterakan rakyat.

Sebaliknya, penerapan kapitalisme telah memberikan jalan bagi para koruptur untuk merampok uang rakyat, membuka pintu yang seluas-luasnya bagi negara-negara imperialis untuk merampok kekayaan alam negeri ini.

Hendaknya kaum muslim mengingat pesan Rasulullah saw. dalam Hasyiyah as-Sindi Syarah Sunan Ibnu Majah terdapat bab, "Laa Thaa'ata fi Ma'shiyatilLah (Tidak Ada Ketaatan dalam Bermaksiat kepada Allah)". Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumhin, telah menceritakan kepada kami Laits bin Saad dari Abdullah bin Umar dari Nafi', dari Ibnu Umar; (dari sanad lain) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin shabah dan Suwaid bin Saad, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Raja' al-Makki dari Nafi' dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda: Seorang Muslim wajib menaati apa pun yang disenangi atau yang dibenci, kecuali dia diperintah untuk bermaksiat. Siapa saja yang diperintah untuk bermaksiat, ia tidak wajib mendengar dan taat.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here