Aneh, Rakyat Kelaparan, Pemerintah Buang Ribuan Ton Beras - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, December 3, 2019

Aneh, Rakyat Kelaparan, Pemerintah Buang Ribuan Ton Beras


Aneh, Rakyat Kelaparan, Pemerintah Buang Ribuan Ton Beras
Oleh: Mochamad Efendi (Pengamat el-Harokah Research Center)


Aneh negara yang rakyatnya butuh makan, tapi menyimpan beras ribuan ton dan mau dibuang hanya karena tidak memenuhi standar kwalitas, penyimpanannya melebihi satu tahun. Harusnya rakyat hidup sejahtera dengan beras gratis atau paling tidak murah dengan harga yang terjangkau rakyat miskin. Tapi ribuan ton beras harus terbuang karena kurang pekanya pemerintah dan menset pemerintah yang tidak berfikir untuk rakyatnya.

Perum Bulog menyatakan akan membuang 20 ribu ton cadangan beras pemerintah yang ada di gudang mereka. Nilai beras tersebut mencapai Rp160 miliar. Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengatakan pemusnahan dilakukan karena usia penyimpanan beras tersebut sudah melebihi 1 tahun. (https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20191129170603-92-452742/bulog-akan-buang-20-ribu-ton-beras-bernilai-rp160-miliar)

Beras harusnya disalurkan ke rakyat yang membutuhkan makan. Pemerintah harus menjamin tersedianya kebutuhan beras, makanan pokok, untuk rakyatnya. Jangan sampai ada rakyat kelaparan sementara 20 ribu ton senilai Rp160 miliar tersimpan di gudang dan akhirnya harus dibuang karena tidak memenuhi standar kwalitas yang baik.  Aneh,   pemerintah mampu menyimpan ribuan ton sementara rakyatnya kelaparan. "Sebanyak 22 juta penduduk Indonesia dilaporkan menderita kelaparan dalam kurun waktu dua tahun pemerintahan Presiden Jokowi, tepatnya pada periode 2016 - 2018." (https://amp-suara com.cdn.ampproject.org/v/s/amp.suara.com/news/2019/11/06/183925/laporan-adb-22-juta-rakyat-indonesia-kelaparan-pada-era-jokowi?.)

Jangan hanya ingin terlihat kuat dalam pertahanan pangannya karena mampu menyimpan cadangan beras rubuan ton, tapi rakyatnya dibiarkan kekaparan. Harusnya dengan 20 ribu ton candangan beras rakyat tidak perlu kekurangan beras. Harusnya rakyat hidup sejahtera jika penerintah peka dan berfikir untuk rakyatnya.

Jika memang pemerintah berfikir untuk rakyatnya, tidak mungkin ribuan ton tersimpan di gudang  melebihi 1 tahun. Harusnya sebelum waktu yang membuat kwalitas beras menurus menurun dan tidak layak dimakan, beras harus disalurkan ke rakyat yang membutuhkan. Beras ribuan ton harus bisa diselamatkan, bukan dibuang dan tidak memiliki nilai untuk pemenuhan kebutuhan dasar rakyatnya. Pemerintah harus memikirkan cara untuk menggunakan beras itu untuk kebutuhan rakyatnya. Jangan hanya berfikir untung rugi sehingga akan membuang dan memusnahkan beras yang sangat dibutuhkan rakyat.

Pelajaran penting bagi pemerintah bahwa ketahanan pangan dan kesejahteraan rakyat bukan diukur banyaknya cadangan beras atau makanan pokok di gudang, tapi kesejahteraan rakyat dengan hilangnya angka kekaparan rakyatnya. Dalam sistem Islam, rakyat tidak dibiarkan kelaparan karena itu adalah tanggung jawab negara untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Negara diwakili oleh penerintah sangat pergatian dan menjadikan rakyat sebagai tujuan yang harus diurusi dengan sepenuh hati. Tidak perlu melakukan pencitraan dan menebar janji karena setiap kebijakan dan keputusan yang diambil adalah untuk kebaikan rakyat bukan untuk para pemodal asing-aseng yang menjadikan rakyatnya lahan bisnis.

Sungguh pemimpin saat ini harus belajar dari kisah khalifah Umar Bin Khattab saat menemukan seorang ibu dan putrinya kelaparan pada masa paceklik di Arab.  Segeralah diajaknya Aslam, asistennya, pergi cepat-cepat kembali ke Madinah. Sesampai di Madinah, Khalifah langsung pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum dan mengakatnya sendiri untuk keluarga miskin itu. Dia bahkan memasaknya sendiri karena takut jika nanti harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah. Seorang pemimpin besar tidak marah saat disumpahi dan dicaci oleh rakyatnya. Bahkan dia rela memanggul dan memasak makanan sendiri untuk rakyatnya. Dia juga meminta maaf karena telah membiarkan rakyatnya kelaparan di wilayah kekuasaan yang dia pimpin.

Apakah ada pemimpin saat ini yang peduli dengan nasib rakyatnya? Apakah ada pemimpin saat ini yang mau meminta maaf atas kesalahannya yang sudah membuat sengsara. Bahkan pemimpin saat ini sering memaksakan kebijakan yang jelas menyengsarakan rakyat. Pemimpin saat ini juga enggan minta maaf bahkan mengancam rakyat yang berani menghinanya dengan ujaran kebencian. Sungguh, demokrasi menciptakan pemimpin yang tidak peka dan tidak peduli dengan rakyatnya. Ribuan ton dibiarkan tersimpan di gudang meskipun rakyatnya kelaparan

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here