Catatan Resah 2019 ke 2020 - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, December 30, 2019

Catatan Resah 2019 ke 2020


Fajar Kurniawan (analis senior PKAD)

Tahun Masehi akan berganti. Kondisi negeri ini masih menunjukkan bahwa kita masih memiliki banyak masalah, yang tak bisa dilepaskan dari sistem liberal yang diadopsi Indonesia. Pada masa rezim Jokowi yang dicitrakan merakyat, justru dituding banyak pihak liberalisme makin menguat. Padahal liberalisme merupakan pintu negara-negara imperialis untuk lebih mengokohkan penjajahannya di Indonesia. Jadilah Indonesia makin liberal dan makin terjajah.

Kita tentu tidak boleh larut dalam masalah, apalagi sekadar meratap dengan putus asa tanpa melakukan apa-apa. Justru inilah yang diinginkan negara-negara imperialis: kita berputus asa, lalu menerima tanpa daya penjajahan mereka. Padahal penjajahan adalah kejahatan besar yang harus dilawan dan kebangkitan Islam adalah kewajiban yang harus kita lakukan.

Diantara beberapa problem di tahun 2019 yang masih mendera negeri ini di antaranya: Pertama, dominasi asing makin menguat. Asing makin leluasa menguasai dan memiliki aset-aset di negeri ini di bidang properti, perbankan, perkebunan, pertambangan dan sektor strategis; termasuk sektor pelayanan publik, seperti kesehatan dan pendidikan. Utang luar negeri juga makin besar. Padahal utang merupakan sarana efektif penjajahan asing.

Kedua, dominasi Cina juga makin menguat. Banyak produk Cina makin membanjir. Investasi dan pemberian utang dari Cina makin meningkat. Lolosnya proyek reklamasi juga patut diduga bagian dari dominasi Cina itu. Puluhan ribu tenaga kerja Cina—termasuk buruh kasar—masuk ke sini. Banyak juga yang ilegal seperti yang terungkap dalam beberapa penindakan. Padahal rakyat negeri ini masih banyak yang menganggur.

Ketiga, penistaan agama. Ini juga menjadi kasus yang sangat besar bagi umat Islam. Umat digegerkan pernyataan beberapa tokoh yang diduga melecehkan Rasulullah SAW. Kemarahan umat makin besar ketika para pengujar tersebut tidak diadili.

Masih banyak problem lainnya seperti dugaan megakorupsi di Jiwasraya, LGBT yang makin berani unjuk gigi, ancaman narkoba yang makin ngeri, kekerasan terhadap anak dan wanita yang terus mencuat di sana-sini, tekanan dan beban hidup makin berat dirasakan oleh rakyat akibat penerapan neoliberalisme, dll.

Melihat berbagai problem yang kian mengkhawatirkan di tahun depan, ada beberapa rekomendasi solusi yang patut kita lakukan.

Pertama: Setiap penerapan sistem sekular, yakni yang tidak bersumber dari Allah SWT, Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta, pasti akan menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi umat manusia. Instabilitas moneter, penguasaan sumberdaya alam negeri ini oleh kekuatan asing, maraknya korupsi di seluruh sendi di seantero negeri, kerusakan lingkungan, kriminalitas atau kekerasan yang menimpa anak dan remaja serta perempuan yang terjadi di mana-mana, juga ketidakadilan yang menimpa umat, adalah bukti nyata dari kerusakan dan kerugian itu. Belum lagi kezaliman yang diderita umat di berbagai negara. Semua ini semestinya menyadarkan kita untuk bersegera kembali ke jalan yang benar, jalan yang diridhai oleh Allah SWT, seraya meninggalkan semua bentuk sistem dan ideologi busuk, terutama kapitalisme yang nyata-nyata telah sangat merusak dan merugikan umat manusia.

Kedua: Demokrasi dalam teorinya adalah sistem yang memberikan ruang kepada kehendak rakyat. Dalam kenyataannya, itu hanya menjadi jalan bagi segelintir elit pemilik modal untuk berkuasa. Pemerintahan yang terbentuk di Pusat maupun Daerah, oleh karena balas budi atas dukungan finansial yang diterima, cenderung menggunakan kewenangannya untuk kepentingan para pemilik modal tersebut. Akhirnya, rakyat menjadi korban, baik karena terabaikan kepentingannya dalam layanan publik maupun akibat korupsi dan manipulasi anggaran negara.

Itulah yang terjadi saat ini di negeri ini. Ini tampak dari proses legislasi di Parlemen dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah di Pusat maupun Daerah, khususnya di bidang ekonomi dan politik yang sangat pro terhadap kepentingan pemilik modal domestik maupun asing. Kenyataan ini semestinya memberikan peringatan kepada umat Islam untuk tidak mudah terkooptasi oleh kepentingan para pemilik modal. Ini juga peringatan bagi penguasa dimana pun untuk menjalankan kekuasaannya dengan benar amanah demi tegaknya kebenaran, bukan demi memperturutkan nafsu serakah kekuasaan dan kesetiaan pada kaum kapitalis.

Ketiga: Bila kita ingin sungguh-sungguh lepas dari berbagai persoalan yang tengah membelit negeri ini, maka kita harus memilih sistem yang baik dan pemimpin yang amanah. Sistem yang baik hanya mungkin datang dari Zat Yang Mahabaik. Itulah syariah Islam. Pemimpin yang amanah adalah yang mau tunduk pada sistem yang baik itu. Sistem Islam.

Keempat: Oleh karena itu harus ada usaha sungguh-sungguh dengan penuh keikhlasan dan kesabaran serta kerjasama dari seluruh komponen umat Islam di negeri ini untuk menghentikan sekularisme, liberalisme dan neoimperialisme, lalu menegakkan syariah dan khilafah. Hanya dengan sistem berdasar syariah yang dipimpin oleh seorang khalifah, Indonesia dan dunia benar-benar bisa menjadi baik. Syariah adalah jalan satu-satunya untuk memberikan kebaikan dan kerahmatan Islam bagi seluruh alam semesta. Dengan itu berbagai kerusakan, kezaliman dan penjajahan bisa dihapuskan di muka bumi.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here