CEK! 5 FAKTA DARI AKSI BELA MUSLIM UIGHUR - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, December 31, 2019

CEK! 5 FAKTA DARI AKSI BELA MUSLIM UIGHUR


Aminudin Syuhadak
Dir. LANSKAP

Di penghujung tahun 2019 ini publik internasional digegerkan - lagi-lagi - oleh ulah rezim komunis China yang secara nyata terbukti berupaya melakukan ethnic cleansing terhadap suku Uighur di Provinsi Xinjiang. Atas aksi anti-humanisme dari rezim komunis tersebut sontak memancing gelombang kecaman dari dunia internasional yang termanifestasi dalam ragam aksi turun jalan hingga penyelenggaraan konvensi internasional.

Pun, di negeri ini gelombang protes terhadap rezim China mengalir deras yang menyasar kedubes Dan beberapa kantor Konjen RRC di Indonesia. Berikut 5 fakta yang bisa kita kuak dari berbagai aksi Bela Uighur di negeri ini:

1) Jika di dunia internasional publik memrotes atas nama humanisme maka di Indonesia lebih prinsipil lagi dengan motif fundamental yaitu atas nama satu ukhuwwah Islamiyah, atas dasar iman. Sangat wajar karena memang mayoritas suku Uighur adalah muslim dan fakta-fakta deislamisasi atas entitas mereka di dalam "camp reudakasi" terindikasi kuat mengarah kepada pemurtadan massal oleh rezim komunis China, minimal menjauhkan mereka dari mempraktikkan ajaran Islam.

2) Khusus di Indonesia protes dilancarkan oleh lintas elemen dan berbagai ormas Islam. Mereka koor satu suara mengutuk RRC dan menuntut pemerintah melakukan upaya konkrit dan tegas terhadap RRC atas aksi biadabnya kepada Muslim Uighur semisal pemutusan hubungan diplomatik dan dagang, termasuk aksi boikot terhadap produk-produk China.

3) Publik menyorot tajam dan sangat menyesalkan sikap diam rezim Jokowi atas kasus Uighur. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar dari publik karena seolah-olah rezim Jokowi begitu "takut" (baca:tunduk) kepada RRC. Sehingga tak heran menyembulkan rumor akan kebenaran dugaan bahwa selama ini rezim komunis China "berperan kuat" dalam kemenangan rezim ini pada 2 periode kontestasi pilpres Dan pemilu kemarin. Apalagi adanya kerjasama OBOR / BRI yang diteken rezim Jokowi diduga kuat juga menjadi alasan bungkamnya rezim Jokowi.

4) Yang sangat menarik adalah fakta resolusi yang disodorkan oleh umat Islam Indonesia atas kasus Uighur ini. Jika dunia internasional hanya sebatas mengecam, mengutuk atau maksimal mengajukan RRC ke pengadilan HAM internasional maka lain halnya dengan di sini. Umat Islam di Indonesia justru satu suara bahwa resolusi untuk menyelamatkan Muslim Uighur sekaligus umat Islam yang bernasib sama seperti Rohingya di Myanmar, Kashmir di India, Pattani di Thailand, Moro di Filipina, Palestina, Irak, Afghanistan, Yaman, Sudan, Suriah, termasuk di negeri ini tidak lain tidak bukan adalah resolusi Jihad. Mereka berargumen bahwa seluruh kejahatan kemanusiaan atas umat Islam itu dilakukan oleh negara dengan perangkat militernya, bukan indvidu atau kelompok tertentu. Untuk itu hanya bisa dihadapi dengan jihad.

5) Dan karena jihad mempersyaratkan satu komando dari seorang pemimpin umat Islam di seluruh dunia yaitu khalifah maka tak salah jika umat menuntut dan menyeru kembali kepada Khilafah. Dan secara faktual, historis, empiris memang seluruh penindasan atas kaum muslimin hanya bisa diselesaikan dengan jihad seperti halnya yang dilakukan Khalifah Mu'tashim atas Romawi di Amuriyah saat mereka menghinakan -hanya- seorang muslimah. Maka seruan umat Islam bahwa hanya Khilafah yang mampu menyelamatkan dan menjaga darah serta kehormatan kaum muslimin menemui faktanya dalam 14 abad kejayaan Khilafah Islamiyah.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here