Era Minyak, Dunia Butuh Sistem Islam yang Mampu Kelola Energi dengan Benar - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, December 31, 2019

Era Minyak, Dunia Butuh Sistem Islam yang Mampu Kelola Energi dengan Benar


M. Firdaus (Direktur FORKEI)

Ketersediaan sumber-sumber energi di seluruh dunia merupakan tantangan masa depan. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh dua perang dunia, kontrol atas sumber-sumber energi adalah kunci dari kesuksesan ekonomi dan karena itulah sangat mungkin akan pecah perang antara negara-negara paling kaya di dunia.

Era minyak menghasilkan teknologi sendiri, keseimbangan kekuasaan, ekonominya sendiri dan pola-pola hidupnya sendiri. Masa depan keamanan energi akan memainkan peran sentral dalam keseimbangan global kekuasaan.

Meskipun banyak negara memproduksi minyak, sangat sedikit yang bisa menghasilkan banyak minyak, dan lebih sedikit lagi yang mampu meningkatkan produksi minyaknya. Jika negara-negara yang akan atau telah mencapai puncak produksi dihilangkan dari daftar produsen utama, maka hanya 15 negara yang tersisa dengan potensi penting untuk meningkatkan output-nya, yakni: Aljazair, Angola, Azerbaijan, Brazil, Iran, Irak, Kazakhstan, Kuwait, Libya, Nigeria, Qatar, Rusia, Arab Saudi, UEA dan Venezuela. Beberapa negara lain dapat bergabung dengan kelompok istimewa ini namun ditetapkan tren atas kelompok istimewa ini untuk membuat mereka sebagai poros energi global dan pusat persaingan energi berikutnya.

Jelas, minyak dan gas adalah dua komoditas yang paling penting di dunia. Laju industrialisasi bergantung pada tingkat ketersediaan energi. Bahkan pertanian modern bergantung pada gas alam sebagai bahan baku pembuat pupuk. Sumber-sumber itu sangat penting untuk kehidupan masyarakat, yang berarti bahwa keuntungannya harus dinikmati bersama oleh masyarakat dan tidak dapat diprivatisasi.

Kebijakan energi dalam Islam akan mengadopsi dengan memperhatikan realitas sebagai berikut:

1. Karena energi adalah penting untuk industrialisasi, maka kebijakan energi Negara Khilafah harus dilihat dan dianalisis lebih dalam.

2. Karena energi dibutuhkan untuk berbagai tugas, maka Negara Khilafah perlu membangun infrastruktur energi modern.

3. Minyak dan gas bumi harus dialokasikan untuk pemakaian yang penting seperti bahan mentah untuk industri manufaktur, pertanian dan petrokimia, karena sampai saat ini tidak ada alternatif untuk bahan-bahan itu.

4. Minyak dan gas bumi juga harus digunakan untuk transportasi dan penghasil energi karena teknologi saat ini, utamanya dijalankan dengan sumber energi itu. Meski alternatif lain harus tetap dicari. Ini akan membantu pemanfaatan yang berkelanjutan atas sumberdaya Negara Khilafah, yang memungkinkan fleksibilitas dalam penjualan minyak menghasilkan pendapatan, dan sebagai bantuan untuk membantu membawa negara-negara lain lebih dekat ke dalam pangkuan Islam.

5. Selain itu, hal yang paling mendasar adalah bahwa energi ini merupakan hak umum (public ownership), sehingga tidak boleh diprivatisasi. Sebaliknya, Negara Khilafah harus bisa menjamin kebutuhan rakyat akan energi ini dan menjadikannya sebagai sumber kekuatan negara. Karena itu, pengelolaan energi harus diintegrasikan dengan kebijakan negara di bidang industri dan bahan baku sehingga masing-masing tidak berjalan sendiri-sendiri.

Untuk memenuhi konsumsi kebutuhan domestik rakyatnya, Negara Khilafah bisa menempuh dua kebijakan: Pertama, mendistribusikan minyak, gas dan energi lainnya kepada rakyat dengan harga murah. Kedua, mengambil keuntungan dari pengelolaan energi untuk menjamin kebutuhan rakyat yang lainnya, seperti pendidikan, kesehatan, keamanan termasuk terpenuhinya sandang, papan dan pangan.

Dengan begitu, Negara Khilafah benar-benar akan bisa mengelola energinya secara mandiri dan tidak diintervensi oleh negara manapun. Jika itu terjadi, maka hasil dari pengelolaan energi itu bukan hanya akan membawa kemakmuran bagi rakyatnya tetapi juga menjadi kekuatan bagi negara. Negara bukan saja mengalami swasembada energi tetapi juga bisa menjadikan energinya sebagai kekuatan diplomasi, sebagaimana yang dilakukan oleh Rusia terhadap Uni Eropa dan AS.

Untuk itu, Negara Khilafah sejak pertama kali berdiri segera melakukan pengembangan infrastruktur energi yang diperlukan untuk menjamin kebutuhannya dan memastikan agar energi tersebut tidak keluar dari negara dan jatuh ke tangan negara-negara penjajah.
Selain itu, pengembangan infrastruktur ini kenyataannya akan menciptakan berjuta-juta lapangan pekerjaan yang akan mengangkat berjuta-juta orang keluar dari kemiskinan di dunia Muslim. Pada gilirannya pengembangan energi akan memberikan efek luar biasa dengan merangsang ekonomi yang lebih luas melalui pengembangan industri berat, kompleks-kompleks manufaktur, industri-industri militer, industri-industri penyulingan dan pabrik-pabrik.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here