Islam, Keberagamaan dan Terciptanya Harmoni - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Sunday, December 8, 2019

Islam, Keberagamaan dan Terciptanya Harmoni


Boedihardjo, S.H.I

Dalam banyak isu, terutama isu-isu yang melibatkan elemen masyarakat yang berbeda suku dan agama, termasuk dalam isu Ahok baru - baru ini, mengemuka tentang masalah keberagaman atau kebhinekaan. Muncullah seruan-seruan untuk merawat dan mempertahankan keberagaman. Tak jarang seruan itu diklaim sebagai bagian dari solusi atas kasus yang terjadi atau dampak dari kasus yang terjadi.

Keberagaman di masyarakat merupakan sebuah keniscayaan. Keberagamaan merupakan sunatullah. Karena itu keberagaman akan terus ada di masyarakat, tidak akan pernah hilang.

Allah SWT menjadikan umat manusia beragam dari berbagai sisi; agama, suku, warna kulit, bahasa, status ekonomi, posisi di masyarakat dan sebagainya. Keberagaman itu adalah untuk kebaikan umat manusia. Allah SWT menciptakan manusia dalam ragam suku dan bangsa, misalnya, agar manusia saling mengenal. Allah SWT berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Mahatahu lagi Maha Mengenal (TQS al-Hujurat [49]: 13).

Syihabuddin Mahmud al-Alusi dalam tafsirnya Rûh al-Ma'ani menjelaskan kata "lita'arafu" yakni "Kami menjadikan kalian demikian agar sebagian mengenal sebagian yang lain sehingga kalian menyambung kekerabatan serta menjadi jelas nasab dan saling mewarisi, bukan agar kalian saling berbangga dengan nenek moyang dan suku."

Allah SWT juga menjadikan manusia beragam dalam hal rezeki mereka agar mereka bisa saling memanfaatkan satu sama lain.

﴿نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا﴾

Kami telah menentukan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia serta telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain (TQS az-Zukhruf [43]: 32).

Imam asy-Syaukani dalam tafsirnya Fathu al-Qadîr menjelaskan, "Allah saling melebihkan di antara mereka sehingga Allah SWT menjadikan sebagian mereka lebih dari sebagian lainnya dalam hal dunia berupa rezeki, kepemimpinan, kekuatan, kemerdekaan, akal dan ilmu... Liyattakhidza ba'dhuhum ba'dh[an] suhriy[an], yakni agar sebagian mereka menggunakan sebagian yang lain sehingga orang kaya menggunakan yang miskin, pemimpin atas yang dipimpin, yang kuat terhadap yang lemah, yang merdeka terhadap hamba sahaya, orang berakal terhadap yang di bawahnya dalam hal akal, orang berilmu terhadap orang yang tidak berilmu. Ini adalah galibnya kondisi penduduk dunia. Dengan itu kemaslahatan mereka sempurna, kehidupan mereka teratur dan masing-masing sampai pada apa yang dicari... Jadi Allah SWT menjadikan sebagian memerlukan sebagian lainnya agar terjadi saling tolong-menolong di antara mereka dalam perhiasan dunia."

Dengan demikian adanya keberagaman itu bukan suatu masalah. Masalahnya juga bukan mempertahankan atau merawat keberagaman itu, melainkan bagaimana keberagaman itu disikapi dan diatur. Keberagamaan itu Allah SWT jadikan demikian bukan agar menjadi bencana bagi manusia. Akan tetapi, keberagaman itu dijadikan sunatullah agar membawa kebaikan; agar terjadi kerjasama dan saling tolong-menolong di antara manusia. Terwujud atau tidaknya hikmah itu bergantung pada pengaturan atas kerjasama dan interaksi berkaitan dengan keberagaman itu.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here