Pendidikan Sekuleristik Hari Ini Gagal Menjawab Krisis Multidimensi - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, December 31, 2019

Pendidikan Sekuleristik Hari Ini Gagal Menjawab Krisis Multidimensi


H. Indarto Imam, S.Pd. - ForPeace (Forum Pendidikan Cemerlang)

Bila kita telaah, pasca runtuhnya peradaban Islam ditandai dengan runtuhnya Khilafah tahun 1924, sejak pendirian negara - negara sekuler di dunia Islam-- terjadi pengabaian luar biasa dalam hal pendidikan terus berlangsung. Hal itu menyebabkan puluhan juta generasi muslim tidak mendapatkan pendidikan yang merupakan hak mereka yang dijamin oleh Islam. Penjajah Eropa membagi pendidikan menjadi ilmu-ilmu empirik dan pendidikan Islam agar terbentuk dua institusi pendidikan yang terpisah, sekolah biasa dan sekolah agama. Pembagian ini terus berlangsung sampai hari ini tanpa berpihak kepada pandangan hidup Islam dalam masalah tersebut.

Hari ini, fakta menunjukkan bahwa sistem pendidikan di negeri-negeri Muslim terinfeksi nilai-nilai kebebasan dan sekularisme. Konsekuensi lanjutnya, kaum terpelajar menjadi terpisah dari umat. Mereka sulit memahami persoalan umat karena hilangnya pemikiran politik Islam. Mereka justru mengadopsi cara berpikir ilmiah sekular dan metode ilmiah ala Barat.

Proses sekularisasi ini terus berestafet. Ideologi Kapitalisme menjadi driver utama di dalam dunia pendidikan modern hari ini. Akibatnya, berkembang pragmatisme dalam pendidikan, yang tercermin dari tujuan pendidikan yang terlampau materialistik. Tujuan ini jauh dari tujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki kualitas kepribadian.

Walhasil, lahirlah era yang—walaupun disebut sebagai The Age of Abundance Knowledge (yaitu zaman keberlimpahan ilmu pengetahuan dan teknologi) oleh Profesor James Duderstadt—tidak mampu menjawab krisis kemanusiaan, krisis ekonomi, krisis moral, krisis politik dan krisis generasi. Produksi ilmu pengetahuan dan teknologi hari ini terjadi  dengan luar biasa cepat, namun tidak mampu menciptakan dunia menjadi lebih baik, malah terus-menerus memproduksi krisis.

Di bawah dalih kontra-radikalisme dan terorisme hari ini, Dunia Barat jelas sekali memiliki kepentingan serius untuk meredam kebangkitan Islam. Mereka bergerak mengubah kurikulum bukan semata karena masalah internal negara-negara Muslim, melainkan karena kepentingan mereka untuk mempertahankan hegemoninya di negeri-negeri Islam. Banyak cara mereka lakukan untuk menekan negara-negara Muslim, termasuk melalui dialog antaragama yang secara berkala merekomendasikan perubahan kurikulum di negeri-negeri Islam untuk memberikan ruang bagi hubungan yang lebih erat antar agama-agama; atau dalam bentuk syarat untuk menerima bantuan dari badan-badan keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Bisa juga berbentuk konferensi-konferensi tingkat tinggi PBB atau lembaga-lembaga internasional seperti UNESCO, UNICEF dan sebagainya.

Agenda untuk semakin mensekularkan sistem pendidikan di dunia Muslim telah semakin intensif pada tahun-tahun terakhir. Memang, siapa pun yang mengkaji fenomena gelombang perubahan kurikulum ini akan melihat itu seperti analogi penyair, Al-Akhtal, yang menggambarkannya "seperti penyakit ruam": tersembunyi tetapi terus menyebar serentak. Di Dunia Arab terutama, sebagai pusat peradaban Islam, arus perubahan kurikulum menyapu banyak negara Muslim di bawah dalih palsu kontra terorisme/radikalisme. Misalnya, pemerintah Arab Saudi benar-benar menghapus bab Al-Wala' dan Al-Bara' (loyalitas dan pengingkaran) dari subjek Tauhid, menyusul peristiwa 11 September 2001. Di Maroko, menyusul ledakan bom di sana, ada seruan untuk menghapus kata jihad dari setiap buku sekolah. Hal yang sama berlaku di Uni Emirat Arab, Kuwait dan Yaman. Presiden mereka menyeru kepada jajaran menterinya: "Kita harus menerapkan perubahan kurikulum pendidikan sebelum penerjemah datang dari Amerika. Ini karena kita adalah orang-orang Muslim dan tidak ada ruginya mengurangi sedikit dosis agama kita!"

Perubahan konten kurikulum juga terasa signifikan di  negeri-negeri Arab lainnya, seperti Yordania, misalnya. Perubahan dilakukan sampai pada titik menghapus gambaran profil laki-laki berjenggot serta perempuan berkerudung dan berjilbab dari buku-buku bacaan sekolah; menghapus habis pelajaran tentang surat Al-Lail lalu menggantinya dengan pelajaran berenang. Di Aljazair, pada tahun 2016, Menteri Pendidikan mengusulkan untuk mengganti bahasa Arab Fushah (klasik), yakni bahasa Arab al-Quran, di pendidikan sekolah dasar, dengan bahasa jalanan Aljazair sehari-hari. Di Tunisia, Menteri Pendidikan menyatakan bahwa untuk meningkatkan kebahagiaan murid, subjek matematika dan fisika harus dikurangi dan digantikan dengan tari dan musik di sekolah campuran laki-laki dan perempuan.

Ini tidak berbeda dengan belahan Dunia Islam lainnya seperti Indonesia, Turki, Bangladesh dan Afghanistan. Di Turki kurikulum untuk subjek agama dan etika mengajarkan kepada murid-murid kelas 7 bahwa, "Sekularisme adalah jaminan bagi kebebasan berpikir dan beragama". Pelajaran sejarah menyajikan fitnah terhadap Islam dan para pemimpin Muslim masa lalu sebagai fakta yang benar sehingga memutuskan hubungan para pemuda dari sejarah dan budaya Islam mereka.

Momentum narasi palsu kontra terorisme/radikalisme hari ini menjadi pemicu penting akan sekularisasi pendidikan terbaru yang semakin intensif di dunia Muslim. Bangladesh sebagai contoh. Pada tahun 2010 rezim Awami merevisi kebijakan pendidikan atas nama "modernisasi" dan membentuk sebuah komite pendidikan baru untuk lebih mensekularkan seluruh sistem pendidikan di negeri itu. Pemerintah dengan seenaknya menunjuk sejumlah besar individu sekular, ateis dan Hindu untuk menempati posisi-posisi kunci di Kementerian Pendidikan, Komite Nasional Pendidikan, dan Komite Koordinator Kurikulum Nasional. Individu dari sekte Qadiyani telah diberi tanggung jawab untuk menulis dan mengedit buku-buku teks Islam. Di Pakistan, pada tahun 2006, Pemerintah mengumumkan serangkaian reformasi pendidikan. Sebuah gugus tugas pendidikan Pakistan juga disusun untuk memutarbalik tingkat islamisasi sistem pendidikan. Pelatihan guru di negara ini sering dilakukan oleh organisasi-organisasi asing dan lokal yang didanai Barat. Di Afganistan, sejak AS menduduki wilayah itu pada Oktober 2001, USAID telah menghabiskan setidaknya $868 juta untuk program pendidikan di Afganistan demi menyetir pemikiran generasi muda agar sesuai dengan preferensi penjajah. Subjek-subjek yang mengandung substansi Islam seperti nama-nama Allah, jihad dan sebagainya telah dihapus dari buku-buku teks sekolah.

Di Indonesia, sebuah versi baru sekularisasi pendidikan dijalankan dengan mempromosikan 'Islam Moderat'. Mulai tahun 2016, diterapkan kurikulum pendidikan Islam baru, yang menekankan pada pemahaman Islam yang damai, toleran dan moderat. Kenyataannya, hal ini adalah bentuk Islam yang menolak jihad dan pemikiran politik Islam seperti dukungan terhadap hukum syariah atau Khilafah. Di sisi lain justru kepercayaan-kepercayaan non-Islam yang berasal dari liberalisme dan keimanan lain harus diterima di bawah kedok "keragaman budaya". Menteri Agama RI menyatakan bahwa kurikulum baru ini adalah respon Pemerintah untuk mempromosikan perdamaian di tengah meningkatnya penyebaran doktrin radikal di lembaga-lembaga akademis. Kementerian Agama juga bahkan  bergerak di level regional dengan memfasilitasi sebuah forum sinergi Halaqah Ulama ASEAN 2016 yang terdiri dari Ulama dan Pesantren Asia Tenggara demi mempromosikan Islam Moderat dan nilai moderatisme Islam yang dianut oleh organisasi ASEAN.

Begitulah agenda imperialis telah menyusup ke dalam sistem pendidikan di  negeri-negeri Islam, dari dunia Arab hingga ke Asia Timur Jauh. Wabah sekularisasi telah muncul dengan banyak cara dan bentuk untuk merasuki negeri-negeri Islam, di samping ketundukan para penguasa Muslim dan miskinnya visi pendidikan mereka.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here