Penista Rasullulah Tidak Layak untuk Dibela - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Monday, December 9, 2019

Penista Rasullulah Tidak Layak untuk Dibela


Oleh: Mochamad Efendi (Pengamat el-Harokah Research Center)


Orang yang didalam hatinya ada penyakit dan kebencian terhadap sesuatu pasti dia akan mencari-cari kesalahan tanpa dasar Ilmu. Para penista rasullulah mengasilkan kata-kata yang telah melecehkan dan menghina rasullulah meskipun mereka mengaku Muslim dan beriman. Aneh, mengaku cinta rasullulah tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya telah menistakan kemuliaan rasullulah.

Dewan Syariah Kota Surakarta mengakui bahwa massa bermotor yang nyaris terlibat bentrok dengan pemuda Nahdlatul Ulama merupakan peserta aksi unjuk rasa yang mendesak Gus Muwafiq agar menjadi tersangka. (https://nasional.tempo.co/read/1281027/massa-pendukung-gus-muwafiq-tersangka-picu-bentrok-di-nu-solo/full?view=ok)

Penista rasullulah atau ajaran Islam tidak layak untuk dibela miskipun dia tokoh yang disegani atau seorang kyai atau gus yang selama ini kata-kata banyak diikuti. Sekali saja kata-kata keji yang menistakan rasullulah keluar dari mulutnya, saat itu juga dia tidak layak jadi panutan dan tidak perlu dibela. Kebencian yang tersimpan dalam hatinya bisa jadi jauh lebih besar dari apa yang terucap dari mulutnya.

Sedih rasanya jika umat ini harus terpecah dan bentrok hanya karena membela seorang penista rasullulah. Para penista rasullulah harus dihukum bukan dibela. Umat harusnya sadar bahwa hanya rasullulah yang layak dicintai lebih dari manusia yang lain. Kita hormat pada ulama' karena ilmunya, namun jika yang kita hormati berani menghina rasullulah, kita harus terlepas darinya. Tidak perlu ragu atau bimbang meskipun dia adalah guru kita yang biasanya kita ikuti perkataannya.

Fanatik pada seorang figur sering membuat  seseorang menjadi buta dan tuli. Mereka tidak lagi mampu membedakan antara yang benar dan salah. Cinta kita pada satu sosok figur tidak boleh melebihi cinta kita pada rasulullah. Jadi siapapun orangnya jika dia berani merendahkan dan menghina rasullulah berarti dia bukan orang yang benar. Itulah ujian kecintaan kita pada rasullulah apakah lebih besar dari orang yang kita cintai dan hormati saat ini. Meskipun rasullulah tidak ada saat ini namun cinta kita tidak boleh luntur dan hilang. Cinta kita pada rasullulah adalah bentuk keimanan dan cinta pada rasullulah berarti cinta pada apa yang beliau bawa yakni syariat Islam.

Fanatik pada satu golongan juga sangat berbahaya. Sudah tahu salah terus saja dibela karena dia adalah golongannya. Dari mulutnya keluar kata-kata menghina rasullulah tetap saja didukung karena dia dari kelompok yang sama. Inilah yang dinamakan ashobiyah, penyakit berbahaya yang bisa memecah belah umat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Mayoritas orang-orang fanatik madzhab tidak mendalami Al Qur’an dan As Sunnah kecuali segilintir orang saja. Sandaran mereka hanyalah hadit-hadits yang rapuh atau hikayat-hikayat dari para tokoh ulama yang bisa jadi benar dan bisa jadi keliru.” Fanatik madzhab yang ada dahulu sama dengan fanatik kelompok saat ini.

Orang yang fanatik golongan akan membela mati-matian orang yang berasal dari golongannya. Mereka bukan orang yang berilmu sehingga mudah terprovokasi membela orang yang jelas melakukakan kesalahan karena dorongan virus ashobiyah. Mereka rela menyakiti saudara muslim lainnya hanya karena membela penista rasullulah.

“Siapa saja yang keluar dari ketaatan dan memecah belah jamaah lalu mati, dia mati dengan kematian jahiliyah. Dan siapa yang terbunuh di bawah panji buta, dia marah untuk kelompok dan berperang untuk kelompok maka dia bukan bagian dari umatku. Dan siapa saja yang keluar dari umatku memerangi umatku, memerangi orang baik dan jahatnya dan tidak takut akibat perbuatannya terhadap orang mukminnya dan tidak memenuhi perjanjiannya maka dia bukanlah bagian dari golonganku-” (HR Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, an-Nasai).

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here