Resolusi 2020 Dengan Perubahan Nyata, Agar Perayaan Sia-Sia Tidak Terulang Di Tahun - Tahun Mendatang - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Tuesday, December 31, 2019

Resolusi 2020 Dengan Perubahan Nyata, Agar Perayaan Sia-Sia Tidak Terulang Di Tahun - Tahun Mendatang


Hadi Sasongko

Sinar cerah terpancar dari ufuk timur disaput udara pagi nan sejuk, tetapi pada kali ini ada perbedaan dg hari2 sebelumnya. Bulan demi bulan dilalui dengan berbagai macam pernak - pernik fenomena di negeri ini hingga akhirnya telah sampai di awal tahun 2020.

Kemarin, sebagian masyarakat bersuka ria utk menunggu bergantinya tahun. Sebagian dari mereka menghabiskan waktu hanya dengan melihat kembang api, meniup terompet yg menandakan bergantinya tahun.

Tentu menyambut pergantian tahun selalu dinantikan oleh banyak orang utamanya kalangan remaja. Kebanyakan mereka melakukan perayaan tahun baru dengan berbagai kegiatan semisal konvoi keliling di jalan, meniup terompet, pesta kembang api. Bahkan pesta kemaksiatan pun kerap terjadi di perayaan tahun baru.

Lebih mirisnya lagi, mereka yang melakukan perayaan tersebut adalah sebagian besar kalangan umat Islam. Mereka tidak sadar bahwa meniru dan mengikuti budaya perayaan tahun baru bisa mengikis akidah Islam karena jelas bahwa hal itu bertentangan dengan syariat islam. Padahal Rasulullah saw. telah bersabda, "Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan jika mereka masuk ke dalam lubang biawak gurun tentu kalian akan mengikutinya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Tahun baru Masehi sejatinya adalah bagian dari hari suci umat Nasrani. Bagi orang Nasrani yang mayoritas menghuni belahan benua eropa, tahun baru Masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus.

Inilah cara Barat dan kaum kafir agar pemuda Islam jauh dari identitas mereka sebagai seorang Muslim. Menjejali pemuda Islam dengan tradisi dan budaya mereka. Dengan dukungan sumber informasi dunia yang mereka kuasai, mereka menyerukan dan mempublikasikan hari-hari besarnya ke seluruh lapisan masyarakat serta dibuat seolah-olah itu merupakan hari besar yang bersifat umum, populer, tren, dan bisa diperingati dan dirayakan oleh siapa saja.

Rasul saw. dengan tegas telah melarang kita untuk meniru budaya atau tradisi agama lain, sebagaimana sabdanya, "Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, ia termasuk salah seorang dari mereka." (HR Abu Dawud dan Ahmad).


Sebenarnya sebagian  ulama sudah menghimbau agar perayaan ini tak digelar, tapi himbauann ulama ini tidaklah maksimal karena tidak seimbang dengan sosialiasi ide-ide sekuler dan hedonisme. Media massa, utamanya televisi terlihat gencar mem-blow up acara hura-hura di malam tahun baru.

Ada kepentingan politik dan ekonomi yang bermain  dalam perayaan tahun baru, sehingga pemerintah enggan membuat aturan hukum yang melarang hura-hura di malam ini. Kepentingan ekonomi, adalah bagi kelompok Kapitalis yang akan  meraup keuntungan luar biasa.  Kepentingan bisnis yang mendorong masyarakat untuk membelanjakan uangnya sebanyak-banyaknya.  Adapun kepentingan politik, yaitu membudayakan budaya hedonis dan sekuler untuk menjauhkan masyarakat dari ajaran agama . Dan selanjutnya, diharapkan ketika masyarakat sudah semakin sekuler maka mereka  tak peduli lagi dengan syariat Islam. Mereka tak merasa butuh akan hukum Allah, inilah yang akan melanggengkan keberadaan sistem kapitalisme.

Secara umum kita dilarang menyerupai kaum kafir dalam hal yang menjadi kekhususan mereka. Penyerupaan ini dikenal dengan istilah tasyabbuh.

Nabi saw bersabda,

"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." (HR. Abu Dawud, Ahmad dan dishahihkan Ibnu Hibban. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam kitabnya Al-Iqtidha' dan Fatawanya. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami' no. 2831 dan 6149)

Syaikhul Islam berkata, "Hadits ini –yang paling ringan- menuntut pengharaman tasyabbuh (menyerupai) mereka, walaupun zahirnya mengafirkan orang yang menyerupai mereka seperti dalam firman Allah Ta'ala, "Siapa di antara kamu yang berloyal kepada mereka, maka sungguh ia bagian dari mereka." (QS. Al-Maidah: 51)." (Al-Iqtidha': 1/237)

Walhasil, mari kita songsong perubahan perilaku dan peradaban menjadi lebih baik. Sejarah penerapan syariat Islam sepanjang masa kekhilafahan selama 13 abad menunjukkan bahwa ketika syariat Islam diterapkan maka hanya tercatat 16 kali kasus kriminal. Ini bukan hanya andil orangnya tapi juga karena sistemnya telah membuat orang berpikir berulang kali untuk melakukan sebuah maksiat.

Akankah kita biarkan kejahiyahan dan kemaksiatan  ini berlangsung terus menerus? Tentu tidak.  Sekaranglah saatnya kita untuk berubah. Berdiam diri terhadap kekufuran dan kemaksiatan adalah sebuah kehinaan. Dan melakukan perubahan adalah jalan kemuliaan. Mari kita perjuangkan bersama.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here